
“Jadi, kalian ada ide apa?” Tanya Pak Dimas.
“Kalau saya boleh kasih saran, karena hotel ini begitu mewah, jadi kita bisa pakai tema Kingdom” Saran Bu Meri.
Pak Dimas menangguk-angguk. Dia kembali memalingkan pandangan pada Aeris.
“Kamu ada ide,, emm,, siap nama kamu?”
“Aeris pak.”
“Nama yang unik.” “Jadi, kamu ada ide Aeris?”
Aeris memutar bola matanya. Bu Meri tidak kasih tau sebelumnya dan ini bagaikan ulangan dadakan.
“Saya kurang paham, istri bapak sukanya apa. Tapi, mungkin kalau kalian mau mengenang masa lalu, tema jadul juga mungkin bagus pak. Emm.. tahun 70 an..” Kata Aeris ragu-ragu. Dia hanya mengucapkan apa yang pernah dia tonton di youtube. Ada satu acara reality show korea yang mengusung tema jadul, dan itu bagus menurut Aeris.
“Hmmm,, itu bagus juga. Jadi nanti tamu nya bisa pakai dresscode jadul ya..”
“Ya,, dan musicnya juga musik kenangan kalian, tapi yang nyanyi bisa penyanyi yang lagi hits saat ini, jadi tidak semuanya jadul.” Saran Aeris. Dia juga sering liat di youtube, penyanyi muda yang mencover lagu jadul.
“Saya suka ide kamu. Gimana bu Meri, bisa di realisasikan?”
Bu Meri tersenyum. Dia membawa Aeris untuk membantunya mencatat, tapi malah Ide Aeris yang dipakai. Pak Dimas kelihatan sangat suka dengan ide itu. Jadi, Bu Meri tidak bisa lagi menolak.
Bu Meri memberi kode kepada Aeris untuk mencatat.
“Saya mau kasih kejutan ke istri saya. Dia pasti suka. Soal dekor, saya mau yang tidak terlalu sederhana, tapi tidak terlalu mewah juga.”
Aeris mulai sibuk mencatat. Dia sudah berkontribusi ide, jadi dia membiarkan Pak Dimas dan Bu Meri untuk membicarakan desain panggung, lighting, dan yang lainnya.
“Penyanyinya bagaimana?” Tanya Bu Meri.
“Emmm,, saya ada beberapa rekomendasi, tapi saya suka suara Bobby.”
__ADS_1
Mendengar nama Bobby di sebut, Aeris berhenti menulis. Kepalanya kembali berdenyut.
“Saya setuju.” Ucap Bu Meri senang.
“Saya enggak. Kenapa harus Bobby?” Protes Aeris dengan nada cukup tinggi.
Semua memandang Aeris bingung.
“Emm,, maksudnya, Bobby baru saja kena skandal kan, lebih baik cari yang lain saja pak.” Saran Aeris.
“Kita mau dengar suaranya, bukan skandalnya.” Jawab Bu Meri tegas. Aeris bisa bertaruh 100% kalau Bu Meri hanya membela Pak Dimas saja.
“Baik, penyanyi nya Bobby saja.”
Bersamaan dengan itu, terdengar suara bel lagi. Pak Dimas segera bangkit dari duduknya untuk membuka pintu.
Dia masuk kembali bersama seorang pria yang sudah tidak asing lagi.
Jantung Aeris hampir berhenti berdetak melihat orang yang ada di depannya. Hari ini begitu penuh dengan kebetulan.
Bu Meri menjabat tangan Reno sambil tersenyum, tapi Aeris bahkan tidak bangun dari duduk nya sama sekali.
“Kenapa mereka di sini Dad?”
Dad? Ada apa ini? Aeris makin pusing. Dia ingin melarikan diri, tapi dia tidak bisa. Dia menunduk saja memandangi catatannya. Sedangkan Reno, sejak masuk, dia terus menatap Aeris.
“Daddy mau bikin pesta pernikahan yang ke 50 Ren. Kamu bantu ya.”
“Kenapa ga minta tolong Cassie aja. Reno sibuk Dad.”
“Ren, kamu jangan keras kepala dong. Daddy cuma minta tolong sedikit.”
“No Dad.” Reno bangun dari kursinya, lalu berjalan keluar.
__ADS_1
“Reno Sebastian!!” Teriak Pak Dimas cukup keras. Tapi Reno tetap pergi.
Hal itu membuat suasana menjadi canggung. Bu Meri yang sejak tadi mengoceh, bahkan kehilangan niat nya untuk bicara. Aeris apalagi. Pertama kali dia ketemu Reno, dia tampak dingin. Tapi, kemudian Reno sangat ramah dan suka bercanda. Kemarin, dia merintih kesakitan, dan sekarang dia kelihatan emosi. Pertanyaan-pertanyaan kembali muncul dalam benak Aeris.
“Maaf ya, Reno memang agak sensitif. Maklumlah, dari kecil dia merasa kurang disayangi.” Ucap Pak Dimas memberi klarifikasi.
“Baik pak,, kami sudah dapat konsepnya, dan kami akan hubungi bapak lagi nanti.” Bu Meri yang sadar situasinya kurang baik, akhirnya memutuskan untuk pamit juga.
“Tunggu.. makanan kalian harusnya sudah siap. Supaya nyaman, saya akan bilang pegawai saya di restoran. Kalian ke sana saja.” Pak Dimas tampak tidak enak dengan mereka berdua.
Bu Meri mengangguk, lalu mengajak Aeris untuk pergi ke bawah.
***
Hatci. Aeris mengambil selembar tisu. Biasanya Aeris kuat menghadapi AC yang super dingin ketika event berlangsung, tapi baru kehujanan sekali saja dia sudah tumbang. Bu Meri makan dengan santainya tanpa mempedulikan Aeris.
“Bu,, habis ini kita ke kantor?” Tanya Aeris polos. Dia rasanya ingin tidur saja di rumah.
“Tentu saja ke kantor.” “Kamu hujan-hujanan?” Akhirnya Bu Meri sadar kalau Aeris ini memang sedang sakit.
“Hehhe.. iya bu.. kemarin siang saya kehujanan di jalan.”
“Ya sudah, nanti setelah rapat, kamu boleh pulang.” Kata Bu Meri berbaik hati. Bagaimanapun juga Aeris sudah pintar menyumbangkan ide. Sebenarnya Bu Meri baru pertama kali mengajak Aeris untuk pergi seperti ini. Dia biasa lebih memilih Tiffany, karena Tiffany lebih pandai untuk memikat hati para klien. Aeris sangat senang. Dia yang sejak tadi tidak niat untuk makan, akhirnya sekarang mau makan dengan lahap. Mereka tidak sadar bahwa sejak tadi, Reno memperhatikan mereka dari meja seberang. Dia bisa dengan jelas mendengar ucapan kedua orang itu.
Aeris kehujanan dan sakit. Itu pasti karena dia menyuruh Aeris pulang sendiri. Melihat Aeris yang masih bisa makan dengan baik, Reno merasa sedikit lega. Dia menghabiskan kopinya, lalu pergi dari situ.
Kepergian Reno justru membuat Aeris sadar, bahwa sejak tadi Reno ada di dekatnya. Kenapa Reno tidak bicara dengan nya? Atau dia memang punya kepribadian ganda? Atau lupa ingatan? Aeris terus bertanya pada dirinya. Dan fakta baru yang Aeris tau, Reno adalah anak dari Dimas Sebastian alias pemilik hotel ini.
"Ibu kenal dekat dengan Reno?" tanya Aeris hati-hati.
"Tentu saja. Dia anak Pak Dimas. Kenapa?" Bu Meri tampak curiga dengan Aeris.
"Kenapa waktu pesta tidak ada Pak Dimas?"
__ADS_1
"Reno itu tidak suka orang lain tau identitasnya."
Aeris mengangguk meskipun dia tidak paham sepenuhnya. Aeris hanya ingin pulang sekarang dan istirahat kembali.