Happy Ending?

Happy Ending?
Terbang ke Jepang


__ADS_3

Reno masuk ke dalam bandara dengan wajah kesal. Masalahnya akhir-akhir ini betul-betul menguras emosinya. Belum selesai satu masalah, muncul lagi masalah yang lain. Dia hampir saja memukul Pak Herman mendengar apa yang di katakannya tadi pagi.


"Pak Reno." Teriak seorang pria berbadan tinggi yang langsung berlari menghampiri Reno.


"Ngapain kamu di sini Jo?" Reno menatap bingung pada sekretaris temannya itu.


"Menumpang ke Jepang pak." Jawab Jo sambil mengatur nafasnya. Di belakang Jo, tampak Juna berjalan santai sambil menelepon.


Dia baru menyelesaikan panggilannya begitu sampai di depan Reno.


"Ayo kita berangkat." Katanya tanpa rasa berdosa.


Jo dan Reno hanya saling berpandangan melihat tingkah unik Juna. Di sini, Juna lah yang menumpang, tapi dia bertindak seperti bosnya. Reno berjalan cepat untuk menyeimbangi langkah Juna yang sudah berjalan lebih dahulu.


"Dari mana Lo tau kalau gue mau ke Jepang?"


"Dari orang kantor keluarga Tan."

__ADS_1


Reno mengumpat sekretaris baru nya yang bodoh itu. Mau tidak mau dia harus berbagi tempatnya dengan Juna. Ya, Reno menggunakan pesawat pribadinya untuk pergi ke Jepang. Dia tidak mau menunggu tiket karena dia harus sampai di sana secepatnya.


Pesawat Reno sudah siap berangkat. Mereka bertiga masuk ke dalam dengan disambut seorang pramugari cantik.


"Anda kaya juga ya.." ucap Jo kagum. Pesawat Reno tampak mewah tidak kalah dengan milik bos nya.


Reno tidak menjawab pertanyaan Jo, karena pramugari tadi datang membawa beberapa makanan western kesukaan Reno.


Tanpa menawarkan kepada orang di depannya, Reno mulai memakan apa yang terhidang di meja dengan santai. Sejak tadi Reno tidak sempat sarapan karena, terburu-buru pergi.


"Kenapa tiba-tiba ke Jepang Jun?" Tanya Reno penasaran. "Lo juga punya pesawat sendiri, kenapa numpang tempat orang?"


"Aku dengar kamu akan mewarisi semua harta keluarga Tan."


"Yah.. tapi ada syaratnya. Aku harus menikah dengan Ericka." Jawab Reno lemas.


"Ericka?" Juna sedikit terkejut, tapi sedetik kemudian dia tersenyum sinis. "Bagus dong.. Lo suka Ericka kan?" ejek Juna.

__ADS_1


Juna ingat, Reno selalu duduk bersama Ericka jika mereka sedang bermain bersama. Reno juga tidak segan membela Ericka jika Ada yang mengganggunya.


Reno menggeleng. " Lo jangan sembarangan. Dia itu kan temen kita. Dan sekarang gue juga pacaran sama Aeris. Karyawan EO yang di pakai Marsha." Reno membela dirinya sendiri.


"Terus apa rencana Lo?"


"Kawin lari." Jawab Reno asal.


Jo tertawa keras membuat keduanya spontan menengok kesal. Jo segera berhenti tertawa sebelum Bosnya melempar dia keluar dari pesawat.


Setelah suasana kembali hening, mereka melanjutkan obrolan serius mereka. Reno menceritakan kenapa dia bisa begitu frustasi sampai terbang ke Jepang.


"Jadi bagaimana dengan Ericka?" tanya Juna penasaran. Bagaimanapun juga Ericka merupakan teman mereka, berdua.


Reno mengangkat kedua bahunya tanda tidak tau. "Atau lo mau sama dia?"


Juna tertawa mengejek. "Gue ga perlu jawab."'

__ADS_1


"Ya udah deh..lebih baik kita diam.."


Juna diam sesuai dengan arahan Reno. Dan sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Juna sibuk membaca berita di ponselnya, sedangkan Reno sibuk bermain rubik. Jo sampai heran dengan bos dan temannya itu. Keduanya memang sedang melakukan kegiatan masing-masing, tapi wajah mereka tegang dan seperti sedang memikirkan sesuatu.Jadi, selama beberapa jam ke depan, Jo harus bisa menahan supaya tidak membuat keributan atau suara yang mengganggu mereka berdua, termasuk buang angin.


__ADS_2