Happy Ending?

Happy Ending?
S2


__ADS_3

(Author lanjut lagi ceritanya.. ini cerita kehidupan Aeris setelah menikah.. )


Pesta sudah selesai. Semua berjalan lancar tanpa ada kendala. Aeris merebahkan badannya di ranjang hotel yang begitu nyaman. Rasanya mengikuti segala acara hari ini membuat tulang-tulang Aeris hampir lepas dari tempatnya.


"Sayang.. kamu tidak ganti baju?" tanya Reno yang baru saja selesai mandi. Dia hanya melilitkan handuk di pinggangnya.


Aeris membuka matanya. "Renoooo.. cepat pakai baju." teriak Aeris sambil menutup wajahnya dengan bantal.


Reno terkekeh. Aeris pasti lupa kalau mereka sudah resmi menjadi suami istri. Reno mendekat, lalu duduk di pinggir ranjang. Dia mengambil paksa bantal Aeris.


Aeris yang kalah kuat harus merelakan bantalnya, dan sebagai gantinya dia segera menutup mata dengan kedua tangannya.


"Ren,, aku bisa khilaf kalau seperti ini." protes Aeris.


"Nyonya Tan.. semua ini milik mu.. Kamu memang harus khilaf." ucap Reno sambil mengambil tangan Aeris. Dia meletakkan tangan Aeris pada dada bidangnya.


"Ren,, aku lupa kita sudah menikah." Aeris akhirnya tidak lagi memberontak. Dia memandang Reno dengan terpesona. Menikahi Reno Tan seperti mimpi bagi Aeris. Reno kaya raya, tampan dan dia punya badan yang sangat kekar.


"Sudah lah, sini aku bantu buka gaun nya. Pasti tidak nyaman menggunakan gaun ini sejak tadi."


Aeris bangun, lalu membalikan tubuhnya supaya Reno dapat melepaskan retsletingnya.


"Ren, kita ga akan lakukan itu malam ini kan?" tanya Aeris tiba-tiba.


"Maksudnya melakukan apa?"


"Itu.."


"Kenapa memangnya?" Reno sudah selesai melepaskan gaun Aeris dan hanya menyisakan kemben dan celana street saja.


"Aku lelah sekali." kata Aeris ragu-ragu.


"Hmmm... " Reno tidak ingin banyak menjawab karena saat ini dia sudah memandang tubuh istrinya yang cukup berisi dan tentu saja begitu menarik di matanya.


"Ren, kenapa gak jawab?" Aeris berbalik dan Reno segera menarik dia ke dalam dekapannya. Kini wajah mereka hanya berjarak 5 centi saja.

__ADS_1


"Mau aku bantu mandi?" tawar Reno.


"Memangnya aku anak kecil." Aeris sudah salah tingkah karena Reno semakin mendekat.


Reno mencium bibir Aeris sebelum melepaskannya. Dia tentu sangat ingin segera membuat Reno junior, tapi dia tidak ingin Aeris merasa tidak nyaman. Lagipula, Aeris sudah menjadi miliknya dan masih banyak waktu yang akan mereka lewati.


"Cepat mandi nya.. aku keluar ke balkon sebentar, mencari udara segar."


Aeris berlari cepat dengan wajah sudah semerah tomat. Berdekatan dengan Reno bisa membuat jantung nya bekerja lebih cepat dan juga membuat badannya panas dingin.


*


*


*


Setengah jam kemudian Aeris baru selesai mandi. Dia menggunakan bathrobe karena lupa membawa pakaian ganti. Di depan, Reno tampak sudah berpakaian rapi dengan piyama. Dia sedang duduk di depan tumpukan hadiah yang mereka terima dari acara tadi.


"Sini Ae.." panggil Reno sambil menepuk sofa di sebelahnya.


Reno membuka kotak biru yang ukurannya tidak terlalu besar. Di dalam ada surat tulisan tangan yang tidak rapi, bahkan sulit dibaca.


Happy wedding bro.. cepat beri aku keponakan. Sam & Rea.


"Pantas saja jelek." ucap Reno lirih. Dia mengeluarkan 2 lembar tiket dari dalam box. Tiket pesawat ke Eropa dengan menggunakan pesawat VIP.


"Ren, ini ga salah? Eropa?" pekik Aeris senang.


"Ya kita bulan madu di sana saja." Berbeda dengan Aeris, Reno tampak biasa saja. Dia sudah pergi ke sana lebih dari 10x.


Reno beralih ke kotak yang di bungkus kertas kado batik yang ukurannya lebih kecil daripada milik Sam tadi.


"Selamat berbahagia Reno & Aeris. Maaf tidak bisa memberikan hadiah yang layak. Juna." Aeris membaca surat itu dengan bersuara sementara Reno membuka isi hadiahnya.


Sebuah kunci mobil. "Ini untuk kamu saja sayang.."

__ADS_1


Aeris melongo saat Reno memberikan kunci itu pada Aeris. Teman Reno itu sinting. Dia memberikan mobil dan bilang kalau itu hadiah yang tidak layak?


"Juna sudah banyak berubah. Dia lebih rendah hati sekarang." kata Reno senang. Dia menunjukan mobil yang Juna berikan pada Aeris.


"Ini mobil apa Ren?" tanya Aeris yang sulit mendeskripsikan mobil mewah itu.


"Mobil listrik Ae... Tesla keluaran terbaru."


Aeris menelan ludahnya. Mobil seperti itu pasti sudah menyentuh angka miliaran. "Aku doakan semoga Juna bisa segera menikah."


Reno hanya tertawa. "Semua tergantung teman mu, Ae.. Dia licin sekali seperti belut. Susah di tangkap, seperti kamu."


"Tapi kan aku sudah di tangkap." Aeris membela dirinya. Reno mencubit pipi Aeris gemas. Istrinya sangat lucu jika sedang kesal.


Aeris tidak meneruskan perdebatannya lagi dan memilih mengambil hadiah berikutnya. Sebuah kotak dengan pita pink.


'Beb... aku sungguh senang kamu akhirnya bisa menikah dan gak galau lagi. Semoga kamu bisa langgeng sama Reno dan cepat punya momongan. Dari bestie mu, Tiffany.'


Sementara Aeris membaca, Reno menunjukan hadiah Tiffany di depan mata Aeris. Sebuah lingerine warna merah.


"Wah, teman mu bukan hanya licik, tapi pintar." puji Reno. Dia sudah membayangkan betapa seksi Aeris jika menggunakan hadiah dari Tiffany.


"Dia bukan pintar, tapi mesum." Aeris merebut lingerine yang digelar Reno dan menyembunyikan di samping dirinya. "Sudahlah, aku lelah.. kita tidur saja."


"As you wish." Reno dengan sigap menggendong Aeris ke ranjang. Hari ini sangat panjang, tapi Reno begitu bahagia. Dia memandangi Aeris sambil membelai rambutnya.


"Ren, tidak ada guling ya?" tanya Aeris polos.


"Untuk apa guling? Kamu sudah punya aku kan." Reno mendekatkan tubuhnya, lalu mengambil tangan Aeris untuk memeluk pinggangnya.


Aeris dengan senang memeluk Reno dan menjadikan tubuhnya guling.


"Kamu bahagia Ae?"


"Tentu saja bahagia. Semoga kita bisa seperti ini setiap hari."

__ADS_1


__ADS_2