Happy Ending?

Happy Ending?
Persiapan Aniv Pak Dimas


__ADS_3

Acara di hotel Emerald malam ini nampak sangat mewah. Aeris sangat suka dengan realisasi idenya. Dia berjalan mengecek dari sudut ke sudut. Telepon umum, sepeda, dan piringan hitam adalah properti yang digunakan untuk spot foto para pengunjung yang datang nanti. Dia beralih ke meja-meja. Meja sudah di tata dengan cantik dengan, dominasi gold. Lalu, Aeris beralih mengecek panggung. Desain panggung di buat seperti di taman. Ada bangku kayu, lalu di pinggir-pinggirnya ada tanaman perdu dan bunga-bunga mawar warna merah. Untuk lighting sendiri, Aeris tidak ingin terlalu terang, tapi tetap akan kelihatan mewah. Moto orang kaya mah bebas itu memang sangat berguna untuk hasil yang sempurna. Tidak ada budget untuk pesta ini. EO bisa gunakan sesuai keinginan hati mereka. Bahkan, sovenir pun, itu tidak tanggung2, Pak Dimas memberikan emas batangan 5gr. Setelah beres, Aeris mengecek kembali sound dan film. Dia tidak mau kalau ada kekacauan lagi, karena tamu yang di undang semua orang-orang kelas atas dan juga beberapa youtuber. Kalau sampai rusak, Aeris bukan hanya dipecat, tapi bisa mendekam di penjara.


“Ris,, nanti kan ada artisnya, lo di depan gak apa-apa?” Tiffany mendekati Aeris.


“Emang gue yang minta ke Bu Meri, soalnya gue mau jaga souvenirnya.”


“Lo baik banget sih,,” Tiffany memeluk Aeris. Dia sangat senang dengan Bobby, jadi dia ingin menontonnya dari dekat.


Aeris hanya bisa mencibir dalam hati. Sudah sebulan ini dia kerja siang malam, supaya dia tidak ingat lagi akan Bobby. Jadi, dia akan sangat senang kalau dia tidak bertemu dengan mahkluk itu di sini.


“Ris, tolong cek panggungnya. sepertinya ada yang miring.” Kata Tiffany sambil menunjuk ke arah panggung. Angka 50 yang ada di tengah memang miring.


Aeris menengok ke kanan ke kiri. Tidak ada yang bisa di mintai tolong karena mereka semua sedang sibuk. Sebenarnya ini adalah urusan dari tukang dekor, tapi mereka sudah pulang 30 menit yang lalu karena acaranya akan di mulai setengah jam lagi.


Aeris mengambil tangga di samping gedung dan menaruhnya dekat dengan tempat yang dia tuju. Dia memanjat sendiri untuk memperbaiki angka 50 itu.


“Beres.” Ucap nya senang. Ini bukan masalah yang besar untuk Aeris. Dia sudah terbiasa menjadi spiderman kalau sedang bekerja. Aeris turun pelan-pelan, tapi karena sepatunya licin, dia kehilangan keseimbangannya pada pijakan yang kedua.


BRUK. Aeris berteriak. Semua menengok ke arah Aeris.

__ADS_1


***


Reno yang sudah datang sejak 30 menit lalu, diam-diam memperhatikan Aeris dari sudut ruangan. Dia begitu terkejut dan segera berlari ketika melihat Aeris terjatuh dari tangga.


Di sana tidak banyak orang, hanya beberapa pegawai hotel yang meyiapkan minum, Tiffany dan orang sound.


Aeris mencoba bangun, tapi sepertinya kakinya keseleo. Dia mengaduh kesakitan.


“Ris, aduh.. lo ga ati-ati sih..” omel Tiffany.


Reno mendorong Tiffany untuk menyingkir. Dia melepas sepatu Aeris, lalu mengecek kaki Aeris yang sakit.


“Kamu keseleo. Ayo kita ke dokter.” Ucap Reno panik. Dia hendak menggendong Aeris, tapi Aeris menahannya.


“Nanti aja setelah ini. Ini bukan soal besar.”


Reno tampak tidak mempedulikan Aeris. Dia mengangkat tangan Aeris untuk bangun. Aeris menjerit kesakitan, karena kaki kirinya susah di gerakan.


“Bukan masalah besar ya? Kamu pikir kamu megaloman?”

__ADS_1


Tiffany yang awalnya panik, dia sedikit mundur karena tau Reno akan membawa Aeris. Bukannya menolong, dia malah ketawa cekikikan di belakang Reno. Aeris begitu kesal, dia berjanji akan membalas Tiffany kalau situasinya cocok.


“Udah sana, nanti gue bilang Bu Meri.” Kata Tiffany memanasi Reno.


Aeris berpikir sebentar. Dia tidak mungkin pergi dengan Reno sekarang. Pak Dimas bisa marah besar kalau Reno tidak ada.


“Oke,, tapi nanti saja setelah acara. Anter saja aku ke depan. Aku mau duduk untuk mengawasi pembagian sovenir.” Tawar Aeris. Ini adalah pilihan terbaik. Nanti setelah acara, dia akan kabur terlebih dulu sebelum Reno datang.


“Mau di gendong?”


Bola mata Aeris hampir copot mendengar ucapan Reno yang sembarangan. Dia menatap pria itu intens. Reno sangat tampan, menggunakan celana jeans hitam dan kemeja motif bunga warna krem dengan kancing terbuka sampai dada bidangnya sedikit terlihat. Satu lagi, Reno begitu wangi. Parfumnya pasti parfum mahal karena wanginya bahkan tercium dari radius beberapa meter.


Aeris menggeleng cepat. Dia memegang tangan kiri Reno.


Reno tersenyum dalam hati. Dia memapah Aeris pelan-pelan sampai gadis itu sampai di tempat pembagian souvenir.


Tiffany senang bukan main melihat pemandangan itu. Dia bahkan mengeluarkan ponselnya dan memfoto mereka berdua.


“So sweet..”

__ADS_1


__ADS_2