Happy Ending?

Happy Ending?
S2-Club


__ADS_3

Club


Reno masuk ke club dengan emosi. Dia terburu-buru sampai menabrak beberapa orang yang lewat. Pikiran nya hanya tertuju pada satu kalimat, 'Cepat temukan Aeris'. Ya, Reno segera pergi dari kantor begitu mendengar jika Aeris pergi bersama dengan teman sosialita nya.


"Aeris." Setelah matanya menjelajahi seluruh sudut, akhirnya Reno menemukan Aeris sedang bersama beberapa teman wanitanya.


Reno menghampiri mereka. Dia menarik Aeris ke dekatnya, tepat saat dia akan meneguk minuman di meja.


"Kenapa kamu ga bilang kalau pergi ke sini?"


"Ren, aku cuma diajak mereka. Lagipula aku baru minum sedikit." Aeris mencoba melepaskan tangan Reno yang mencengkram nya sangat erat.


"Jangan ajak dia ke sini lagi." Ancam Reno pada salah satu teman Aeris. Dia melirik sesaat pada Sandra, lalu Reno langsung membawa Aeris pergi dari situ.


"Kepalaku pusing Ren.." ucap Aeris setelah sampai di mobil.


"Berapa banyak kamu minum?" omel Reno.


"Cuma satu sloki. Tapi, biasanya tidak seperti ini." Aeris menyender bahu Reno. Dia merasakan kepalanya berputar dan perutnya mulai mual.


Reno membiarkan wanita itu karena dia masih kesal pada Aeris yang pergi tanpa ijin darinya.


"Ren,, aku mau.." "Hoek" Aeris mengeluarkan isi perutnya tepat di jas Reno.


"Astaga Aeris..."


"Cepat jalan pak." perintah Reno pada sopirnya yang sejak tadi diam saja.


'Sabar Renoo..' ucapnya dalam hati. Reno memegangi Aeris yang masih tampak lemas.


Reno sedikit bingung, kenapa istrinya bisa mabuk, karena setahu Reno, Aeris biasa meminum satu sloki alkohol jika mereka makan malam bersama.


*


*

__ADS_1


*


"Lho, Nyonya kenapa pak?" tanya Bi Inah panik karena Reno datang dengan bertelanjang dada sambil menggendong Areis.


"Buang saja Bi bajunya." Reno memberikan baju yang telah terkena muntahan Aeris pada Bi Inah.


Bi Inah mengambil baju dari tangan Reno sambil menutup hidungnya, karena bau nya memang menyengat.


"Bibi bikinkan teh panas ya Pak. Nanti bibi antar ke atas." Bi Inah segera berlalu dari Reno.


Reno meletakan Aeris di ranjang. Dia baru akan membuka pakaian Aeris ketika Aeris membuka matanya.


"Apa masih pusing?" tanya Reno sambil membenarkan posisi bantal untuk Aeris.


"Sedikit." "Tangan aku yang sakit." keluh Aeris. Reno memegangnya begitu erat tadi.


"Ae.. kamu itu sudah punya suami. Jadi, ke manapun kamu pergi, kamu harus ijin pada suami mu." ingat Reno. Dia masih kesal karena tindakan Aeris, tapi melihat Aeris masih lemas, Reno sedikit meredam emosinya.


"Kamu salahin aku?" protes Aeris dengan suara bergetar. Sedetik kemudian, air mata meluncur turun membasahi wajahnya. "Kamu yang salah, Ren."


Reno menghela nafas panjang. Dia yang harusnya marah, kenapa jadi Aeris yang menyalahkannya. Reno duduk di sebelah Aeris. Dia memegang tangan Aeris, tapi Aeris melepaskan tangan Reno.


"Tapi kamu suruh aku untuk berkumpul dengan mereka." "Mereka hanya sibuk bergosip dan pamer." curhat Aeris masih sambil menangis.


Kali ini Reno bergerak memeluk Aeris tanpa banyak bicara.


"Kalau aku bergaul dengan mereka, aku akan ikut-ikut mereka." lanjut Aeris lagi.


"Okey, okey,, aku minta maaf. Jangan lakukan ini lagi." akhirnya Reno mengalah seperti biasa.


"Ren, kamu bau sekali. Apa kamu belum mandi?"


Pria itu melepaskan Aeris. 'Apakah dia ga tau kalau dia yang menyebabkan badanku bau seperti ini?' ucap Reno dalam hatinya.


"Pak, maaf.. ini teh nya." Bi Inah mengetuk pintu kamar majikannya.

__ADS_1


"Masuk saja, Bi." jawab Reno sembari berjalan ke kamar mandi.


Bi Inah masuk dengan membawa segelas teh panas. Dia langsung memberikan pada Aeris dan menunggu dia meminumnya.


"Bi, apakah masih ada makanan?" tanya Aeris setelah menghabiskan teh yang masih panas itu.


"Ada banyak nyonya.. Bi Inah bawakan ya?"


Aeris mengangguk senang. "Nasinya banyakin ya bi.." pesan Aeris sebelum Bi Inah pergi.


"Tapi ini udah jam 11 malam, nyonya."


"Gak apa-apa Bi.. tenang saja.."


Aeris mengambil ponsel nya di tas. Dia mengecek grup sosialitanya. Mereka mengirimkan beberapa gambar bersama dengan pria-pira di club tadi.


"Untung saja aku sudah pulang." kata Aeris pada dirinya sendiri. Entah apa jadinya jika Reno tidak datang. Pasti Reno sudah minta pisah kamar.


"Kenapa sayang?" Reno kembali dengan piyama yang sudah wangi.


"Liat ini, mantan istri mu." Aeris memberikan ponsel nya pada Reno. Reno hanya melihat sekilas dan tidak tampak tertarik.


"Untung saja sekarang istriku sangat.." Reno memandangi badan Aeris yang tidak tampak terlalu seksi.


"Apa?" pancing Aeris.


"Sangat berisi." ucap Reno terbata karena dia tidak menemukan kata yang pas untuk mendeskripsikan badan Aeris.


"Renoooo..." teriak Aeris kencang. Dia melempar bantal di belakangnya ke arah Reno yang masih melihatnya.


"Kamu mau main-main ya.." Reno segera mengurung Aeris dengan badannya. Dia sudah bersiap membuka pakaian Aeris, tapi suara ketukan pintu menghentikan tangannya.


"Apalagi bi?" tanya Reno kesal ketika pembantunya muncul di kamar.


"Maaf Pak, tadi nyonya minta dibawakan makanan." Bi Inah yang terlanjur mengganggu kegiatan suami istri itu, meletakan nampan di nakas, lalu kabur keluar.

__ADS_1


"Ren, aku mau makan dulu." pinta Aeris yang kini sudah dalam posisi duduk bersandar di headboard.


"Ae.. tapi.." Reno sudah kehabisan kata-kata karena Aeris lebih memilih untuk makan daripada dirinya.


__ADS_2