Happy Ending?

Happy Ending?
Memberikan undangan


__ADS_3

Pintu gerbang terbuka. Aeris melongo melihat penampakan rumah Reno. Seorang manager bisa punya rumah sebagus ini? Oh iya, Aeris lupa kalau ayah angkat Reno itu pemilik hotel bintang 5. Jika mau, Dimas bahkan bisa beli satu perumahan ini. Aeris memarkirkan motor sesuai dengan Arahan Reno. Bi Inah menyambut Reno di depan.


“Pak Reno,, bapak kenapa?” Teriak Bi Inah yang melihat pakaian Reno sudah amburadul, di tambah ada wanita asing yang pulang bersama Reno. Aeris merasa dirinya dikuliti oleh Bi Inah. Dia menatap dari atas sampai bawah, ke atas lagi ke bawah lagi.


“Bi, bikinkan teh hangat 2 ya..” “Aeris, ayo masuk..” ajak Reno.


Aeris menuruti Reno. Dia tersenyum kecil sama Bi Inah ketika melewatinya. Bi Inah balas tersenyum, lalu mengikuti mereka di belakang. Reno menyuruh Aeris duduk di kursi makan. Aeris masih melihat-lihat rumah Reno. Sangat sepi, dan tidak ada foto atau lukisan. Ini mungkin si Reno gak punya waktu untuk ke toko furniture atau memang dia ga ada ide.


“Thank you ya... kenapa bisa kamu pegang obat itu?” Reno memulai percakapannya.


“Ericka yang kasih.” Jawab Aeris jujur.


“Aish, dasar orang itu.” Omel Reno.


“Yah, tapi ternyata berguna juga.” "Tapi kenapa kamu bisa kumat lagi Ren?" Aeris mengalihkan pembicaraan.


Percakapan mereka tersela oleh Bi Inah yang membawa 2 teh hangat. Dia meletakan masing-masing cangkirnya di depan Reno dan Aeris. Bi Inah yang mendengar percakapan mereka sejak tadi mulai menaruh minat pada Aeris. Ternyata Aeris anak yang baik. “Silakan non.. Ini teh spesial dari luar negeri..” pamer Bi Inah.


“Makasih ya bi.. ini pasti enak.” Kata Aeris kali ini sambil tersenyum lebar.


Ehem. Reno berdehem. Bi Inah mundur karena alarm dari Reno. Reno mengeluarkan 2 undangan dari jaketnya. Dia menyodorkan satu ke arah Aeris.


“Sorry, aku harus kasih itu ke kamu.”

__ADS_1


Aeris mengambil undangan yang diberikan Reno. Di situ tertulis jelas nama Bobby & Megan. Luka hati Aeris terbuka kembali. Dia menatap Reno dengan tatapan nanar. Hampir menangis.


“Minum lah dulu,, tenang,,” hibur Reno. Dia menyodorkan teh yang sudah di bikin Bi Inah. Aeris mencium aroma segar buah. Dia menuruti Reno dengan meminum tehnya sampai habis. Bi Inah yang masih mengamati mereka cukup terkejut karena teh itu masih panas, tapi Aeris bisa menghabiskannya tanpa ekspresi.


“Dia benar-benar parah.” Kata Aeris sedih.


“Dunia hiburan itu sangat gelap dan jauh dari yang kamu bayangkan.”


Reno menyodorkan satu undangan lagi ke Aeris. Aeris cukup terkejut melihat nama Sandra dan Michael.


“Kamu juga?”


Reno mengangguk. Di bandingkan Aeris, Reno lebih parah. Mereka sudah menikah, tapi dia di selingkuhi. Memang dunia ini ga bisa jauh-jauh dari kata selingkuh. Aeris benar-benar ingin membuang undangan itu ke tempat sampah.


“Jadi, gimana? Kamu mau dateng?” Tanya Reno.


“Aku berencana untuk datang.” Kata Reno tiba-tiba. Itu cukup mengejutkan. Laki-laki ini pasti sudah tidak waras.


“Aeris,, kalau kamu ga berani menghadapi apa yang sudah terjadi, kamu akan hidup dengan trauma seperti aku.” Kata Reno sambil menunduk. Dia hanya memainkan cangkirnya tanpa meminumnya.


“Kamu mau aku temani?” Kata Aeris yang ga tega liat Reno.


“Aku akan senang kalau kamu mau.”

__ADS_1


“Tapi bayarin salon nya ya..” tawar Aeris.


Suasana yang tegang mencair ketika Reno tertawa. Aeris memang to the point dan tentunya pintar. Dia ga mau rugi karena Reno yang butuh.


“Oke lah,, soal itu nanti bisa aku atur.. sekarang, waktunya kamu balik.” Reno memberi kode ke bi Inah untuk memanggil sopir pribadinya.


“Makasi sekali lagi nona...”


Aeris tersenyum. Hatinya masih sakit, tapi kalau bertemu Reno dia merasa nyaman. Aeris bahkan lupa kejadian memalukan minggu lalu.


Aeris mengikuti Bi Inah untuk keluar. Bi Inah rupanya sudah tidak sabar untuk meng kepo in Aeris. Dia tidak pernah liat Reno bawa orang asing ke rumah ini, jadi Aeris pasti sudah cukup dekat dengan Reno.


“Non,, kok bisa kenal sm Pak Reno?”


“Ya kenal dong Bi,, kan saya yang EO yang di sewa Reno waktu pernikahannya.”


“Oooo,,, tapi kok bisa dekat sama Pak Reno. Dia cukup susah lho di dekati.”


“Ya,, gak tau juga ya Bi,,, yang jelas Pak Reno orang yang baik.” Puji Aeris.


Bi Inah senyum-senyum sendiri. Aeris memang tidak secantik Sandra, tapi Bi Inah bisa merasakan kalau Aeris tulus sama Reno.


Tin,,, pak Sopir yang baru saja memanaskan mobil menekan klakson tanda dia sudah siap.

__ADS_1


Aeris dengan semangat berjalan menuju mobil Lexus milik Reno yang jarang di pakai.


“Bi,,makasi teh mahalnya,, beneran enak...” puji Aeris sambil mengacungkan dua jempol. Bi Inah melambaikan tangannya dengan semangat. Pujian Aeris sudah membuka akses nya 100%. Bi Inah akan sangat setuju kalau Aeris dengan Reno.


__ADS_2