
Tiin..tiin.. Tiffany dan Aeris hampir saja mengumpat suara klakson yang nyaring itu. Tapi setelah melihat siapa pemiliknya, mereka diam seribu bahasa. Mereka bahkan sampai mengucek mata untuk memastikan yang mereka lihat tidak salah orang. Tiffany menyenggol tangan Aeris. Aeris menyenggol Tiffany kembali.
“Reno?” Tanya Aeris bingung. Pertama, pria itu sedang sakit tadi pagi. Kedua, Reno menyetir mobil sendiri. Ketiga, Reno muncul di saat kawan-kawannya baru saja keluar kantor. Alhasil, beberapa orang memandang Reno dengan heran. Pria itu lebih sering muncul belakangan ini daripada saat sedang mempersiapkan pernikahannya sebelumnya.
“Kamu sudah sembuh?”
“Kalau masih sakit, ga mungkin aku ada di sini.” jawab Reno santai.
“Ya,,, tapi...” kata-kata Aeris terhenti karena Reno sudah membukakan pintu mobil untuk Aeris. Aeris masuk dengan ragu. Dia sedikit trauma karena Terakhir kali masuk ke mobil Reno, dia harus diusir keluar. Aeris menatap Reno dengan intens.
“Aku sudah minum obatnya Ae..tenang lah..”
“Ya.. kalaupun belum, aku masi punya banyak.” Sahut Aeris. Dia bersandar di kursi yang nyaman, karena Reno mulai menjalankan mobilnya.
“Bagiamana? Apa lebih baik?” Reno sesekali menengok Aeris. Terlihat Aeris malah tersenyum geli.
“Kenapa?” Tanya Reno bingung.
“Keringat anda ke mana-mana Tuan.” Aeris menarik beberapa tisu, lalu membantu Reno mengelap keringatnya. Perbuatan itu sukses membuat jantung Reno berdetak lebih cepat dan membuatnya salah tingkah.
“Aku harus konsen setir. Duduk dengan tenang.” Protesnya.
Aeris mundur. Dia memegang seat belt nya dengan salah tingkah. Setelah itu sepanjang perjalanan mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing.
Mobil Reno berhenti di sebuah mall di kota ini.
“Mau ngapain Ren?” Tanya Aeris bingung.
“Belanja dan main.” Jawab Reno senang. Baru kali ini Aeris melihat Reno begitu senang layaknya anak kecil yang tidak sabar untuk jalan-jalan.
Mereka turun. Reno menarik Aeris dengan tidak sabar. Orang-orang di sekitar menatap mereka dengan bingung. Yang satu tinggi dan tampan, sedangkan yang satunya begitu kucel. Ya, Aeris masih menggunakan seragam, dan juga bedak nya sudah luntur.
Hal yang pertama Reno lakukan adalah pergi ke timezone. Dia membeli beberapa koin, lalu mulai menjelajah ke berbagai permainan yang tersedia. Aeris mengikuti Reno kewalahan. Dia berdiri di samping Reno yang sedang asyik bermain pukul buaya. Dia sebenarnya tidak terlalu suka tempat berisik seperti ini, tapi melihat Reno senang, Aeris tidak mau protes.
“Kamu mau main Ae?” Reno menengok sekilas pada Aeris yang hanya berdiri melihatnya.
“Yes.” Reno tertawa senang, karena dia berhasil mendapat jackpot di permainan pacaran swirl.
“Enggak,, liat kamu main saja aku sudah senang.” Aeris menjawab dengan setengah berteriak karena tempat ini begitu berisik. Dia hanya bertugas untuk mengumpulkan tiket yang keluar dari mesin.
Reno menjelajah lagi. Hampir 10 permainan sudah dia coba. Kali ini Reno berhenti pada mesin street basketball.
“Coba Ae..” Reno memberikan bola pada Aeris. “Kalau masuk semua, aku belikan apa pun yang kamu mau.” Tantang Reno.
Aeris menengok senang. “Serius?”
“Ya,,, tentu..”
Aeris menggulung lengan panjang seragamnya, bersiap untuk menerima tantangan Reno. Dia mengambil bola lalu mulai permainannya. Baru lemparan pertama saja, Aeris sudah gagal. Reno tertawa senang melihat betapa kesalnya gadis itu sepanjang permainan.
__ADS_1
Setelah berhenti, Aeris mendengus kesal. Hanya 3 yang masuk.
“Sini aku yang main.” Reno memasukan koin ke mesin dan memulai permainan. Tidak sulit bagi Reno untuk melakukan ini. Dengan satu tangan, semua lemparan nya berhasil masuk. Itu membuat Aeris semakin kesal.
“Dasar sombong.” Omel Aeris.
Reno malah tertawa puas. Dia mengacak-acak rambut Aeris.
"Kamu mau es krim?"
"Maaaaau.." Sahut Aeris semangat.
Reno menyerahkan tiket itu kepada orang di sebelahnya, lalu menggandeng Aeris keluar.
Aeris terkejut, kenapa Reno menggandengnya. Dia ingin melepaskan tangan Reno, tapi Reno memegangnya dengan kuat.
"Ren..." Panggil Aeris.
Reno berhenti mendadak membuat Aeris menabrak punggung Reno.
Mereka sudah sampai pada stand es krim di dekat timezone.
"Es krim rasa apa?"
"Rasa yang pernah ada." Jawab Aeris asal.
"Rasa Bobby?"
Reno melepaskan Aeris karena harus membayar es yang dia pesan. Dia memberikan satu untuk Aeris dan satu untuk nya.
Aeris duduk di bangku yang kosong.
"Kenapa tiba-tiba ajak ke sini?" Tanya Aeris sambil menjilat es krim nya.
"Tentu saja untuk main." "Aku selalu iri pada anak yang bisa main dengan orang tuanya. " Tambah Reno.
"Kan ada Cassie, Om dimas sama tante."
Reno menggeleng. "Beda Ae.."
Aeris menepuk pundak Reno untuk menghiburnya. Dia memang tidak tau bagaimana perasaan Reno, tapi yang pasti Reno sedang sedih sekarang.
"Tapi sekarang ada kamu.."
"Maksudnya?"
"Ae.. apa kamu bisa menerima duda seperti aku?"
Deg. Aeris terdiam mencerna kata-kata Reno. Di satu sisi hatinya berbunga-bunga tapi di sisi lain pikirannya menolak. Bukan karena duda, tapi karena tembok kasta mereka.
__ADS_1
"Reno.. Kamu liat baju ku."
"Kenapa?" Reno melihat baju Aeris dari atas ke bawah.
"Aku itu lebih cocok jadi pembantu kamu."
"Ayo ikut.." Reno menarik Aeris lagi.
***
Reno membawa Aeris ke sebuah butik ternama di mall itu.
Pelayan yang melihat Reno segera membungkuk begitu langganan tetap mereka datang. Reno hanya memberikan kode supaya mereka tetap di tempatnya karena Reno tidak ingin membuat Aeris malah tidak nyaman.
Reno menelusuri satu persatu dress yang ada di gantungan, dan akhirnya setelah 10 menit memilih, dia mengambil salah satu gaun hitam panjang dengan model v neck. Tidak terlalu terbuka, tapi mewah karena ada payet2 silver di sekeliling bawah gaun nya.
"Cepet coba.." Dia mendorong Aeris ke dalam ruang ganti. Sementara Reno juga mengambil satu set jas yang cocok dengan gaun yang dia pilih tadi.
Reno tidak perlu waktu lama untuk berganti. Ketika dia selesai, Aeris belum juga muncul.
"Sudah belum Ae?"
"Ya.. Tapi nanti dulu."
Reno tidak peduli. Dia membuka tirainya. Seperti dugaannya, gaunnya pas di badan Aeris. Bahkan gaun itu menunjukan lekuk tubuhnya.
Sesaat Reno terpana, tapi dia buru-buru mengenyahkan pikirannya. Reno berdiri tepat di sebelah Aeris sehingga mereka berdua bisa memandang diri mereka pada cermin.
"Gimana?" Tanya Reno penasaran.
"Apanya? Gaun ini terlalu seksi."
"Maksudnya, kamu itu bisa juga tampil tidak seperti pembantu."
"Ya, ini cantik." Jawab Aeris tanpa berani memandang cermin, karena Reno terus memandangnya.
"Aku tidak suka menunggu Ae.. Jawab sekarang.. Kamu suka bajunya?"
Aeris mengangguk.
"Kita pakai ini untuk ke pernikahan Sandra?"
Aeris mengangguk lagi.
"Kamu mau menerima si duda ini?"
Aeris mengangguk tanpa sadar. "Eh, apa nih." Aeris protes karena Reno menjebaknya.
Reno tersenyum penuh kemenangan. Dia mengacak-acak rambut Aeris lalu keluar dari ruang ganti.
__ADS_1
"Cepat ganti. Aku sudah lapar."
Aeris merasakan jantung nya hampir keluar dari tempatnya. Dia masih bertanya dengan semua ini karena masih tidak percaya. Apa Reno benar-benar sedang mengungkapkan perasaannya?