Happy Ending?

Happy Ending?
Fakta Baru


__ADS_3

Kantor Aeris tidak terlalu jauh dari Kantor Reno. Reno memarkirkan motornya di sembarang tempat. Dia mencari bangku kosong di taman depan kantor Aeris dan memutuskan untuk duduk di situ. Jam sudah menunjukan pukul 7 malam, tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di situ. Ponsel Reno berdering. Reno mengerutkan dahinya ketika melihat nama yang tertera di ponsel, Om Herman. Orang itu adalah pengacara keluarga aslinya. Tapi sudah lama sekali Om Herman tidak menghubunginya. Reno menekan tombol reject karena dia sangat malas untuk berhubungan lagi dengan keluarga lamanya. Dia tidak tau berapa banyak keluarga ayahnya dan yang Reno ingat, tidak satupun dari mereka yang mau merawatnya. Mereka bahkan menyarankan memasukan Reno ke panti asuhan saja.


Sekarang itu bukan hal yang penting lagi untuk Reno.


“Siapa yang lebih pandai berbohong?" Suara khas itu tidak lain tidak bukan adalah suara milik Bobby. Dia sama saja seperti Sandra, muncul entah dari mana. Bobby melepaskan masker hitamnya karena di situ sepi dan hanya ada Reno.


“Apa maksud anda?" Reno berdiri dan berhadapan dengan Bobby.


“Kamu punya berapa identitas?"


Reno yang awalnya tidak ingin mengurusi Bobby, akhirnya mulai terpancing kesal.


“Jangan ikut campur yah."


"Bagaimana ini? Tapi sepertinya aku tau rahasia besar anda, Mr. Reno Sebastian.. atau Mr. Reno Tan?"


Deg. Reno memucat. Tidak ada yang tau soal keluarga aslinya. Reno mencoba untuk lebih tenang, tapi jantungnya tidak bisa bekerja sama.


“Yang menyebabkan kecelakaan itu adalah kamu. Mereka bertengkar karena kamu."


“Apa maksud lo?” Reno dalam sekajap sudah mencengkram kaos Bobbby. Bobby tidak bergeming, dan malah tertawa.

__ADS_1


“Ops.. sorry.. aku hanya mendengar dari salah satu keluaraga kamu."


Reno melepaskan cengkramannya. Dia sudah kesulitan bernafas. Serangan itu datang lagi. Bobby sepertinya sudah tahu semua tentang Reno dan sengaja memancingnya. Bobby dengan santai merapikan baju nya dan menggunakan maskernya kembali. Sebelum pergi, dia meninggalkan Sebuah undangan di tangan Reno yang Sedang kesakitan.


“Gue tadinya mau kasih ke Aeris, tapi sepertinya lo bisa bantu jelasin ke dia ya.” Bobby menepuk pundak Reno, lalu pergi. Reno samar-samar melihat Bobby pergi. Dia sudah tidak peduli lagi, yang sekarang dia harus lakukan adalah mencari obatnya.


***


Jam sudah menunjukan pukul 7.30. Aeris buru-buru berlari keluar kantor. Dia tau, Reno pasti sudah datang. Sampai di depan, Aeris sedikit kecewa karena Reno tidak ada. Dia mencoba mengecek ponselnya. Tidak ada penggilan atau wa yang masuk. Setelah beberapa saat, Aeris memutuskan untuk membuang urat malunya, dan menelepon Reno. Nada khas Samsung terdengar tak jauh dari Aeris. Aeris mencoba mencari di mana sumber suaranya. Dia terkejut setengah mati melihat pria yang sedang berguling di lantai di dekat taman yang gelap.


“Reno?” Dia berlari menghampiri Reno yang terkapar seperti orang yang sakaw. Aeris panik. Dia membangunkan Reno. Tubuhnya sudah penuh keringat dan dingin sekali.


“Ericka..” ucap Reno lemah. Aeris langsung ingat obat yang diberikan Ericka. Dia mencari obat Reno di tasnya. Saking paniknya, dia keluarkan semua isi tasnya satu persatu ke tanah.


Setelah Reno melihat obat di tangannya, dia langsung meminumnya. Butuh waktu beberapa saat sampai obatnya bereaksi. Aeris mencoba menelepon Ericka, tapi tidak di angkat. Akhirnya dia hanya memandang Reno tanpa bisa berbuat apapun. Otaknya terlalu blank memikirkan apa yang harus di lakukan.


“Ren.. kita ke rumah sakit ya.” Kata Aeris pelan.


Reno menggeleng. Dia akan segera baik ketika dia sudah minum obatnya.


Aeris masih mencoba memberikan pesan pada Ericka sambil menunggu reaksi obatnya bekerja. Perlahan Reno mulai tenang. Dia sudah bisa menatap Aeris dengan jelas.

__ADS_1


“Ayo kita pergi.” Reno memegang tangan Aeris.


Wajah Reno masih pucat, dia mencoba berdiri, tapi ternyata tubuhnya limbung. Aeris menahan Reno. Dia membantu Reno untuk duduk di bangku.


“Kamu kurang sehat Ren, Lebih kita pulang saja.”


“Oke, kamu bawa motornya.” Ucap Reno setuju. Dia memberikan Aeris kunci motornya. Aeris dengan ragu menerima kunci dari Reno. Dia bukannya tidak bisa naik motor, tapi dia bonceng Reno dalam keadaan seperti ini, itu membuatnya takut. Kalau jatuh dia bisa habis dimarahi Pak Dimas dan keluraganya.


Tapi tidak ada yang bisa Aeris lakukan lagi, jadi dia menyetujui ide Reno. Badan Reno yang cukup besar membuat motor itu langsung sesak.


“Pegangan ya Ren,, tapi jangan di pinggang, geli.”


Reno tertawa. Keadaannya jauh lebih baik dengan candaan Aeris. Aeris benar-benar menjalankan motornya. Dia tidak menyangka kalau Aeris pintar juga membawa motor. Sebenarnya Reno sudah bisa membawa motor sendiri, tapi dia ingin mengerjai Aeris. Aeris juga begitu polos. Sepanjang jalan Reno mengajaknya bercerita. Dia bahkan lebih cerewet dari biasanya.


“Ini seriusan sampe rumah kamu?” Tanya Aeris bingung.


“Iya,,atau kalau boleh nginap di rumah kamu gak apa-apa deh.” Canda Reno.


Aeris diam saja lebih ke arah tidak begitu dengar apa yang Reno bilang. Setelah 20 menit mengendarai motor, mereka sampai di sebuah komplek perumahan mewah. Aeris baru pernah ke tempat ini sebelumnya. Dia bukannya mencari nomor rumah yang Reno sebutkan, malah sibuk melihat istana-istana di kanan kirinya.


“Stop.” Reno menepuk pundak Aeris. Seketika Aeris mengerem dan membuat Reno menubruk punggung Aeris. Reno bisa mencium wangi segar rambut Aeris yang terurai.

__ADS_1


“Astaga Reno. .” Omel Aeris. Reno dengan santai turun dari boncengan.


__ADS_2