
Reno merebahkan badannya di ranjang. Hari ini dia lelah sekali. Satu-satunya kesialan hari ini adalah mendapatkan pukulan dari Bobby. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana Bobby memukul dirinya. Sebagai laki-laki normal sudah pasti Reno kesal dan ingin membalas Bobby.
Ponsel Reno berdering. Daddy calling..
Tidak seperti biasanya, Reno langsung mengangkat telepon dari Daddy nya.
“Ya Dad?”
“Makasi ya,, kamu sudah mau hadir dan pakai baju yang Dad pilih. Dad senang hari ini..”
“Tidak masalah, selama itu bukan mengurus perusahaan.” Jawab Reno jujur. Itu alasan dia tidak mau menambah embel-embel keluarga Sebastian. Semua orang akan mendekatinya begitu mereka tau yang sebenarnya. Biarlah semua orang hanya tau kalau Reno seorang manager biasa.
“Lalu apa yang bisa Dad lakukan untuk kamu? Kamu mau apa Reno?”
Pertanyaan yang bagus. Saat ini Reno hanya ingin membalaskan dendam pada Bobby. Tapi, jika di pikir lagi, Reno hanya akan membuang waktunya mengurus orang yang tidak penting seperti Bobby.
“Enggak Dad.. yang penting Dad jaga kesehatan.”
Dimas begitu senang mendengar Reno memikirkan kesehatannya. Dia benar-benar sudah seperti anak sendiri, dan Dimas tidak akan ragu-ragu jika dia mewariskan seluruh hartanya ke Reno.
“Baiklah,, telepon saja Daddy kalau kamu butuh sesuatu.”
“Makasi Dad..silakan istirahat.” Reno menyudahi percakapannya.
Tiba-tiba Ponsel Reno berdering lagi. Kali ini Aeris. Dia memberikan sebuah pesan wa.
__ADS_1
'Makasih ya Reno. Aku ga tau gimana jadinya kalau ga ada kamu tadi. Kompres pipi mu pakai es batu. Semoga cepat sembuh ya..'
Reno tersenyum membaca pesan Aeris.
'Siapa yang lebih parah lukanya? Seharusnya dia yang bilang seperti itu.
Kamu sudah 100 kali bilang itu. Lain kali kamu harus hati-hati.'
Reno memandang langit-langit kamarnya. Dia tidak tau kenapa akhir-akhir ini memikirkan Aeris. Gadis itu jauh sekali dari kriterianya. Wajahnya pas-pas an. Body nya juga tidak menarik, tapi dia begitu polos. Kepolosannya justru beda sama wanita lain yang Reno kenal. Reno pasti sudah gila. Dia memejamkan matanya, sambil menggali pikirannya untuk kembali berfokus.
***
Suatu kebetulan yang tidak terduga. Reno berhadapan dengan Bobby. Bobby juga nampak terkejut melihat Reno. Dia di tawari untuk menjadi model dari perusahaan Sun yang bergerak di bidang otomotif. Bobby setuju karena bayaran yang tinggi. Tapi, dia baru tau kalau General manager di sana adalah Reno. Baru 3 hari setelah kejadian itu, mereka bertemu kembali. Sekarang Reno naik selangkah di banding Bobby.
Manager Bobby mengoceh panjang lebar, tapi Reno tidak mendengarkannya. Dia hanya menatap Bobby tajam tanpa berdekip sedikitpun.
“Saya hanya berpikir, kenapa ada aktor yang begitu sempurna seperti kamu.” Sindir Reno. Dia menyesap kopi yang ada di depannya. “Meskipun ada skandal, kamu malah makin terkenal.”
Bobby tersenyum lagi. “Tentu saja karena bakat saya, bukan skandal saya.”
Reno tidak banyak bicara lagi. Dia hanya perlu menyerahkan kontrak untuk di tanda tangani. Proses ini harus berjalan dengan cepat, karena Reno muak dengan akting Bobby. Dia sudah punya Rencana untuk mengerjai Bobby. Reno melihat jam tangan rolex nya. Jam sudah menunjukan pukul 12.30.
“Apakah kalian bisa lebih cepat membacanya? Saya ada janji dengan orang lain.” Ucap Reno tak sabar.
“Oke.. sabar ya Pak Reno." ucap manager Bobby yang sedikit kesal melihat tingkah Reno.
__ADS_1
Setelah mereka sudah tanda tangan, Reno membereskan semuanya, lalu menaruh di meja kerjanya. Mereka bertiga turun dengan menggunakan lift yang sama. Tapi di dalam, tidak ada yang bicara satu pun. Mereka semua sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sampai di bawah, Reno seperti biasa, menuju ke motor maticnya. Bobby melihat nya dengan setengah mengejek. Dia membawa mobil sport nya hari ini. Ferrari.
“Seperti nya gaji anda tidak cukup bagus di sini.” Sindir Bobby.
Reno tidak mempedulikan Bobby. Dia duduk dengan santai di motornya sambil mengecek ponsel.
“Renoo..” teriak seseorang.
Reno tersenyum melihat Aeris datang dengn kaki yang masih pincang. Proses penyembuhan bengkak memang tidak bisa secepat kilat.
“Di anter Tiffany?”
“Iya lah,,siapa lagi,,, “ Aeris baru sadar kalau ada Bobby di situ. Raut wajahnya berubah.
“Nanti aku jelasin.. kita makan dulu, lalu kita ketemu Dr.Andre.. kamu mau makan apa?”
“Terserah aja.. ayo,,” Aeris buru-buru naik ke boncengan. Reno memberikan helm untuk Aeris gunakan. Dia tau Aeris ingin segera pergi dan tidak ingin melihat Bobby.
“Sorry Bobby, anda bisa minggir sebentar? Saya mau temani Aeris makan" Katanya santai.
Bobby yang menghalangi lalu mundur 2 langkah. Wajahnya masih bengong melihat Aeris dan Reno. Aeris bahkan ketakutan melihat wajahnya, tapi dia begitu akrab dengan Reno. Padahal Reno hanya naik motor. Rasanya Bobby ingin melempar sesuatu. Dia kesal sekali. Begitu mudahnya Aeris move on dari nya.
“Kita makan siang juga.” Kata Bobby akhirnya.
__ADS_1
Dia masuk ke mobil dan menyetir mengikuti mereka.