Happy Ending?

Happy Ending?
Kemarahan Reno


__ADS_3

Reno duduk dengan perasaan yang campur aduk. Dia begitu kesal melihat Boy merangkul Aeris.


'prang' seorang pelayan tidak sengaja tersandung kaki Reno dan membuat piring yang di bawanya sukses jatuh ke lantai. Reno memandang sepatu nya yang kotor berlumuran dengan saus.


"Maaf Pak.. saya tidak sengaja."


Reno berdiri dan seketika dia meninju wajah pelayan itu. Semua orang yang makan di sana terkejut dengan tindakan impulsif Reno. Tidak sampai di situ, Reno menarik kerah kemeja pelayan itu, dan memaksanya untuk berdiri.


"Reno stop!" Cassie datang menerobos kerumunan tepat ketika Reno akan menghajar pelayan itu lagi. Untung saja baby sitter Cassie menelepon meminta Cassie segera datang.


"Maaf Mas.. kakak saya ini sakit.. mohon di maklumi." ucap Cassie panik. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu lalu memberikan ke tangan pelayan di depan Reno yang masih terlihat shock.


"Reno, ayo pergi." Cassie menarik paksa Reno sebelum dia meluapkan emosinya.


Dia tau, Reno melakukan itu bukan karena sepatu nya kotor atau karena ingin memarahi pelayan tadi. Pasti ada alasan lain.


***


“Dia pergi dengan boy, Cas.” Adu Reno sesampainya mereka di dalam mobil.


“Siapa?”


“Aeris.” Teriak Reno.


Cassie baru mendengar lagi nama Aeris setelah dua tahun berlalu. Nama yang sebisa mungkin Cassie hindari karena akan membuat Reno sedih. Cassie mulai paham kenapa Reno beraksi seperti tadi. Jadi Reno mengamuk karena dia bertemu Aeris dan Boy. Nasib percintaan kakaknya memang kurang baik. Dia harus 2 kali menanggung malu karena gagal menikah dan sekarang ditinggal oleh wanita yang dia sayang. Cassie memberikan air mineral pada Reno supaya dia lebih tenang.


"Ren,,kamu mau balik ke rumah Dad?” Tanya Cassie hati-hati.


“Terserah saja lah.” Reno menekan ponselnya dengan tidak sabar untuk mengirim pesan pada seseorang.


Cassie meminta sopirnya untuk pergi ke rumah Sebastian. Dia lalu mengambil baby nya yang mulai menangis.


“Cup..cup Sean.. kita balik ke rumah ya..” bukannya diam, Baby Sean malah menangis lebih kencang.

__ADS_1


Reno menengok pada baby di tangan Cassie. Dia meletakan ponselnya, lalu merebut anak itu dari Cassie.


“Gini aja ga bisa..” Sean mau sama Uncle kan..” Reno bermonolog sendiri untuk menenangkan anak Cassie.


Ya, karena dia pergi dari keluarga Sebastian, Pak Dimas akhirnya menjodohkan Cassie dengan anak dari temannya. Pernikahan itu terkesan terburu-buru dan Cassie pun belum siap. Tapi Cassie tidak punya pilihan lain.


“Aeris pasti salah paham. Sorry..” kata Cassie menyesal.


Dia meninggalkan baby Sean karena ingin mencari sesuatu untuk Dimas. Sejak menikah, Cassie justru lebih dekat dengan Reno. Baby nya pun ebih sayang kepada uncle nya daripada kepada Daddy nya. Itu sebabnya Cassie sering mengajak Reno pergi juga. Lagipula Reno sedang butuh penghiburan.


“Bukan salah kamu, Cas..” hibur Reno sambil menatap Baby Sean. Melihat anak kecil ditangannya membuat kemarahan Reno berkurang 50%.


“Ren,, cepat baikan sama Aeris dan bikin baby sendiri." goda Cassie.


Reno hanya melirik, lalu kembali berfokus pada Anak Cassie yang gembul.


“Cas,biar aku selesaikan dengan cara aku.” Reno memberikan penekanan pada kata-katanya.


"Aku gak bisa janji."


Cassie hanya menelan ludah. Dia harus memberitahu Sam supaya mengawasi Reno.


***


Sementara itu, Boy mendapat firasat tidak enak ketika sebuah mobil putih berhenti di depan rumahnya. Tidak perlu turun pun, dia tau siapa pemilik mobil itu. Reno Tan. Reno sudah memberikan pesan jika dia ingin bertemu dengan Boy, tapi Boy sengaja mengabaikannya karena dia sedang bersama dengan Aeris. Sekarang Boy tidak dapat menghindari Reno lagi.


"Oke, gue akan jelasin, tapi lo tenang dulu."


'BUK' Reno tidak mendengarkan perkataan Boy dan langsung memukulnya. Boy terhuyung ke belakang. Tapi belum sempat dia menyadarkan diri, Reno kembali memukul Boy.


"Reno.." entah dari mana, Sam datang untuk menahan Reno.


Boy bersyukur karena kedatangan Sam. Jika tidak, Boy yakin Reno akan menghajar wajah tampannya sampai babak belur.

__ADS_1


"Kenapa lo bisa ketemu Aeris?" ucap Reno dengan perasaan kesal.


"Gue ga sengaja liat dia nangis di pinggir jalan. Jadi gue bantuin dia." ucap Boy jujur.


"Lo tau Sam?" tuduh Reno pada sepupunya.


"Gue ga tau sama sekali. Gue cuma di telepon Cassie, katanya lo mau bunuh si Boy."


Boy menelan ludahnya. Dia tau Sam ke sini bukan kebetulan, tapi memang karena Reno sangat marah padanya.


"Oke, jadi karena Aeris sama Boy, lo jadi cemburu?" tanya Sam untuk memastikan.


"Gue ga ada apa-apa sama Aeris. Lagian kalau ada apa-apa juga sah-sah aja kan? Bukan nya kalian sudah selesai?" bukannya Reno yang menjawab, tapi Boy yg menjawab lebih dulu.


Mendengar jawaban dari Boy, Reno semakin emosi. Untung saja Sam sudah memasang badannya di antara Reno dan Boy.


"Boy benar Ren." "Lo harus sadar kalau hubungan lo sama Aeris belum jelas." kata Sam dengan hati-hati.


Boy merasa senang karena Sam membelanya, sebaliknya wajah Reno sudah memerah karena menahan emosi.


"Pilihan lo cuma 2 Ren, lo kejar Aeris lagi, atau lo lupain dia."


"Gue siap menerima dengan senang hati." teriak Boy.


Reno tidak mempedulikan Boy. Tiba-tiba saja muncul rencana baru dalam otaknya. Dia membisikan sesuatu pada Sam, dan Sam mengangguk tanda mengerti.


"Sorry Boy..besok gue ke kantor." Reno melambaikan tangan nya dengan wajah yang sulit ditebak.


Boy menatap Sam bingung karena perubahan sikap Reno.


"Sepupu lo gila ya?" tuduh Boy.


"Sedikit. Kalau lo masih mau hidup, lo harus bantu dia." ancam Sam.

__ADS_1


__ADS_2