
Aeris sudah pergi ke Jepang kemarin. Tim yang menggantikan Reno untuk menjaga Aeris, karena Reno harus menyelesaikan semua dengan cepat. Reno tidak tidur sejak kemarin. Dia sudah bicara pada Pak Herman jika dia setuju untuk memenuhi surat wasiat papanya. Hal itu tentu saja membuat keluarga Reno kalang kabut. Reno sudah keluar dari kantor lamanya dan mulai menginspeksi perusahaan papanya yang bergerak di berbagai bidang. Perumahan, Perusahaan konstruksi dan juga beberapa hotel di Bali. Reno tidak tau bahwa ayahnya sekaya itu. Bahkan berpuluh-puluh tahun di korupsi pun tetap saja jumlah nya fantastis.
Jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Itu artinya di Jepang pukul 12 malam. Aeris dan Tim pasti sudah sampai di sana. Reno menyalakan ponselnya untuk menelepon Tim. Ada banyak sekali pesan dari Aeris. Tapi Reno tidak membukanya.
Dia hanya menelepon Tim. Setelah memastikan semuanya, Reno menutup teleponnya lalu mematikannya lagi. Semoga semua berjalan dengan lancar. batin Reno. Dia sudah merasa bersalah dengan Aeris dan pasti nya sangat merindukan gadis itu.
***
Sementara itu, setelah menutup telepon Reno, seseorang menekan bel kamarnya. Tim segera bangkit, lalu membuka tanpa melihat siapa yang datang.
Wanita itu segera merubuhkan badannya pada Tim, membuat Tim sangat terkejut.
"Dr.Ericka?"
Tim mencium bau alkohol yang menyengat. Wanita itu mabuk. Tim segera menggendong Ericka, lalu merebahkan nya di ranjang.
"Berapa banyak dia minum?" Kata Tim heran.
Ericka membuka satu matanya. Dia melihat Tim, lalu tertawa.
"Renooo kamu datang juga kan.. sudah ku bilang, kamu ga bisa jauh dari Ericka." Katanya sambil menepuk dadanya sendiri.
"Aku sudah bilang, aku Mau menikah sama kamu itu karena terpaksa. Apa itu kurang jelas?" Tim mengikuti permainan ini. Dia mengambil ponselnya untuk merekam Ericka.
"Aku sungguh menginginkan kamu Ren.." Ericka mulai memeluk Tim.
Tim hanya diam saja tanpa bereaksi. Dia membiarkan Ericka melakukan sesuka hatinya.
__ADS_1
Sebenarnya, sebelum ke Jepang, Tim sudah menyuruh Reno untuk mengatakan hal yang menyakitkan sehingga Ericka sakit hati. Dan, terbukti Ericka sekarang mabuk. Itu artinya Reno menjalankan tugas dengan baik.
Tim bahkan mulai kewalahan karena Ericka sudah sukses membuatnya panas. Pakaian nya saat ini terlalu minim sehingga memperlihatkan bagian tubuh yang tidak seharusnya Tim lihat. Tim mencoba berfokus kembali pada pekerjaannya. Dia harus profesional dan tidak boleh tergoda.
"Reno.. come on.. sebentar lagi kita akan menikah.."
Tim melepaskan Ericka yang hampir saja mencium nya. Untung saja Ericka pergi ke sini karena mengira ini kamar Reno, kalau tidak dia pasti habis dengan pria asing.
"Tunggu dulu, Ada sesuatu yang perlu aku tanya tentang Juna."
"Juna?"
Tim membisikan sesuatu di telinga Ericka. Ericka tertawa, lalu dia mulai menceritakan apa yang Tim tanyakan dengan detail mengenai Juna.
Tim tersenyum senang setelah mendapatkan jawaban dari apa yang membuatnya penasaran tentang Juna.
"No.. aku baik-baik saja.. karena ada kamu di sini." Ericka memegang tangan Tim.
"I love you.."
"Love you more.." Ericka mencium pipi Tim, lalu karena kepalanya berat, dia langsung terjatuh ke bantal.
Tim menekan tombol end. Dia hanya membutuhkan beberapa bagian dari rekaman ini untuk di kirim pada Reno. Misi nya adalah membuat video ini seolah-olah Ericka sedang bemesraan dengan Tim.
"Kamu begitu cantik, tapi kenapa kamu malah menyukai orang yang salah." Ucap Tim pada Ericka yang sudah diam dan tertidur. Tim membetulkan posisi Ericka, lalu menyelimuti Ericka.
***
__ADS_1
Pagi itu Ericka terbangun dengan kepala yang berat. Dia menocoba menyadarkan dirinya dengan bersandar pada headboard. Setelah 5 menit berlalu, kesadaran Ericka mulai terkumpul. Dia ingat jika semalam dia pergi ke bar dan minum satu botol sendirian. Setelah itu, dia tidak ingat apa-apa lagi.
"Selamat pagi cantik." Tim muncul dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
Ericka melotot melihat kehadiran pria itu.
"Kamu siapa? Kenapa ada di kamar aku?" Teriak Ericka. Dia menarik selimutnya, takut kalau Tim berbuat macam-macam.
"Kamu tidak ingat apa yang terjadi semalam? Kamar kamu? Ini kamar aku" Tanya Tim dengan ekspresi yang menggoda.
Ericka menelan ludahnya. Dia benar-benar tidak ingat apa yang terjadi semalam. Ericka menatap asisten Reno dengan sejuta pertanyaan.
"Sudah, lap air liur mu itu, lalu keluar." Tim menahan tawanya karena Ericka terlihat tidak berkedip memandangnya. Dia melempar kan jaket nya ke wajah Ericka.
"Jangan lupa tutup pintu nya."
Tim berjalan kembali menuju kamar mandi meninggalkan Ericka yang masih saja bengong. Ericka menggunakan jaket milik Tim, lalu berjalan keluar. Ini gara-gara Reno. seandainya pria itu tidak berkata kasar padanya pasti Ericka tidak mengalami kejadian ini.
Reno bilang bahwa Ericka gadis menyedihkan Yang hanya mengemis cintanya. Dia juga bilang kalau Reno juga setuju karena tidak punya pilihan lain dan yang terakhir yang menyakitkan adalah Reno bilang kalau dia tidak tertarik sama sekali dengan Ericka, bahkan sangat membencinya.
Ericka menyeka air matanya mengingat lagi hal itu.
Dia membuka ponselnya, lalu menelepon seseorang.
"Setelah aku pulang dari Jepang, aku mau langsung menikah sama Reno."
Sorry Ren, ini satu-satunya cara.
__ADS_1