Happy Ending?

Happy Ending?
Episode 5 "Dikeluarkan"


__ADS_3

Aku berangkat kesekolah seperti biasa, sekarang gerbang sekolah tidak terlalu ramai karena aku berangkat tepat saat Bel masuk sekolah berbunyi. Aku langsung pergi ke kelas sebelum guru masuk. Tapi ada pengumuman bahwa guru akan mengadakan rapat yang selesai kurang lebih 2 jam. Jadi jam pertamaku kosong, aku bingung aku harus apa. Semua orang bermain dengan teman-temannya sedangkan aku hanya diam di kursiku.


Karena aku bosan aku berniat untuk pergi ke atap sekolah, di atap sekolah sangat sepi jadi aku bisa tenang di sana. Setiap istirahat aku selalu pergi ke sana, udaranya juga sangat segar.


"Hah~... Akhirnya aku bisa tenang lagi, sejauh ini belum ada masalah yang harus ku hadapi. Aku harap hari ini tidak ada masalah. " Ucapku, aku duduk di sana dan mencoba untuk merilekskan tubuhku.


"Woy sial*n, rupanya lu disini ya?. " Tanya seseorang di belakangku. Aku tahu dia siapa, rupanya aku harus berhadapan lagi dengan Adira dan teman-temannya itu.


"Apa kemarin belum cukup, ya?. Sekarang aku gak mau diganggu lagi. Tolong untuk 1 hari saja kalian tidak menggangguku. " Ucapku.


"Ya gak papa lah, sekarang gua lagi gabut. Lu mending beliin gua sesuatu di kantin. Gua lagi mager. "Ucap Adira.


" Aku gak mau, emang aku peduli sama kamu. Kamu punya kaki kan?. "Jawabku.


" Udah gua bilang gua lagi mager. "Dia menatapku dengan tatapan sinis.


" Dah lah, Dir. Rasanya Gua dah muak ama dia. "Sahut Cindi.


" Tapi gua pengen lihat sesuatu yang seru. "Ucap Silvi.

__ADS_1


" Gua juga, dah lama gak ngelakuin ini. "Kemudian Adira berjalan mendekat. Dia menyeringai dan tangannya sudah mengepal.


BUKK!!


" Anj*r, kirain lu cuman bercanda, Dir. Ternyata lu beneran nonjok dia. "Ucap Silvi.


" Kan lu bilang pengen lihat sesuatu yang seru. Haha... "Cindi terkekeh melihat Adira memukul ku.


" Kenapa kamu memukulku?. Ini masih kurang, lho!!. Kan biasanya kamu memaki-maki aku. "Aku tersenyum dan Sekarang Cindi mulai mendekat.


" Oh, kurang ya?. "Kemudian Cindi mengepalkan tangannya dan siap untuk memukulku, tapi sebelum itu aku langsung menghentikannya.


" Cuman segitu, emangnya itu sakit?. "Aku menyeringai.


" Bangs*t, berani-beraninya lu. "Kemudian Adira mencekik leherku. Lalu aku mencengkram tangan Adira dan memutar tangannya hingga Adira berteriak.


" ARGHH!!, BANGS*T LU. "Teriak Adira.


" Bajing*n lu. "Kemudian Cindi berlari dan akan memukulku, aku langsung menendang perutnya. Itu membuat Cindi langsung kesakitan, kemudian Silvi terkejut melihatnya, dia hanya diam melihatnya.

__ADS_1


" ARGH!! SAKIT. "Teriak Cindi.


Kemudian Adira menendang kakiku, itu membuatku tersungkur. Lalu Adira mengambil pecahan keramik yang ada di lantai dan berniat untuk menusuk ku. Aku langsung menghindarinya, aku melemparkan pot kaca yang ada di sampingku ke wajah Adira. Itu membuat kepala Adira berdarah, lalu Adira pun tumbang. Cindi tidak tinggal diam dia mengambil pecahan pot bunga itu dan melemparnya padaku, gerakannya sangat cepat hingga aku tidak bisa menghindar. Tapi untungnya pecahan tersebut tidak mengenai wajahku namun mengenai bajuku, itu membuat bajuku robek.


"Hehe... Cuman segitu?. Aku yakin kalian pasti bisa melukaiku karena kalian bertiga sedangkan aku sendiri. " Aku menyeringai karena melihat reaksi Cindi dan Silvi.


Silvi yang tadinya diam sekarang mulai membantu Cindi untuk melawan ku. Silvi membawa pecahan kaca dan berlari kearahku, lalu aku berlari untuk mengambil pecahan kaca dan langsung menusuk tangan Silvi, itu membuat Silvi berteriak kesakitan. Cindi yang melihatnya langsung berteriak dan pergi meninggalkanku.


"Kenapa ini?. Katanya kalian mau memberiku pelajaran, kenapa kalian tidur?. Apa aku terlalu berlebihan ya?. " Saat itu aku benar-benar sudah muak dengan semuanya, aku tidak bisa lagi menahan kesabaranku. Aku sudah menahan ini dari pertama kali masuk SMA ini.


"ADA APA INI!! ALICE APA YANG KAMU LAKUKAN?!!. " Teriak Pak Guru, Cindi melaporkan ini semua kepada Guru.


"Saya hanya melawan, Pak. Emangnya saya salah, ya?. Padahal saya cuman melawan mereka yang mencoba untuk melukaiku. " Jawabku.


Setelah kejadian itu Adira dan Silvi dibawa ke rumah sakit. Aku dibawa oleh Pak Guru ke ruang BP, disana mereka menanyakan berbagai hal, tapi aku tidak menjawabnya, pikiranku kosong. Aku hanya diam, tatapanku kosong. Kejadian itu tidak dibawa ke jalur hukum, karena jika diluar sekolah ada yang tahu tentang kejadian ini maka nama sekolah ini akan hancur. Kejadian ini ditanggung oleh pihak sekolah, dan aku hanya dipindahkan ke sekolah lain.


Setelah beberapa lama percakapan,aku dinyatakan dikeluarkan dari sekolah itu dan dipindahkan ke sekolah yang lain, aku juga disuruh untuk ber isolasi dirumah selama 1 bulan. Aku keluar dari ruang BP dan aku langsung dipulangkan ke rumahku, aku pergi ke kelas untuk membereskan barang-barang ku. Semua tatapan murid-murid di sekolah itu sangat mencekam, banyak yang membicarakanku. Tapi aku tidak peduli dengan perkataan mereka. Orang tua Adira dan Silvi menyalahkan pihak sekolah, mereka tidak berani membawa ku ke jalur hukum karena umurku masih dibawah 18 tahun. Mereka hanya meminta untuk membayar seluruh perawatan yang dilakukan di rumah sakit. Karena lukanya juga tidak terlalu parah hanya robekan kecil.


Aku pulang ke rumah dan membersihkan badanku, pandanganku masih kosong. Aku bingung dengan diriku sendiri kenapa aku berani melakukan hal itu. Padahal setiap aku punya dendam, rasa ingin membalasnya akan kalah dengan rasa kasihan. Hari ini aku tidak bisa tidur karena kejadian tadi. Itu sungguh diluar nalar ku.

__ADS_1


Setelah 1 bulan aku diisolasi dirumah, aku mulai bisa keluar rumah. Aku mengunjungi taman dan menghirup udara segar disana. Aku bisa sedikit lebih tenang saat berada di taman. Tamannya juga sepi, jarang ada orang yang lewat. Aku bisa healing disana.


__ADS_2