
Aeris memastikan baju yang di pakainya sudah rapi. Dia menggunakan blouse hitam dengan corak bunga dan celana jeans. Ya, saat ini Aeris sudah tiba di hotel Emerald untuk memenuhi ajakan makan malam dari Pak Dimas. Pak Dimas memberitahu lokasi nya ada di restoran di rooftop. Aeris masuk ke dalam lift dengan ogah-ogahan. Dia pasti akan sangat canggung untuk makan bersama dengan orang-orang kaya. Lift melewati satu demi satu lantai. Dia sudah mempersiapkan mentalnya dengan berdoa sepanjang hari ini.
Ketika sampai, Aeris melihat dengan takjub restoran itu. View nya adalah langit. Sangat cantik. Aeris bisa melihat pemandangan dari atas dan lampu-lampu penduduk yang terhampar terlihat seperti titik-titik cahaya.
Pak Dimas sudah menunggu bersama dengan istrinya,Siska dan juga Cassie. Aeris tidak melihat sosok Reno di sana.
“Selamat malam Pak Dimas, Ibu Siska..dan nona..” sapa Aeris ramah. Dia mengambil salah satu kursi di sebelah Cassie. Cassie tidak bergeming. Dia juga menunjukan wajah yang kurang ramah pada Aeris.
“Halo Aeris, terima kasih sudah datang.” Ucap Pak DImas senang.
Aeris hanya tersenyum. Dia sangat minder berada diantara mereka. Padahal, penampilan mereka juga sama. Hanya menggunakan kaos, tapi aura orang kaya selalu berbeda. Mereka tidak perlu menonjolkan apa yang mereka punya, tapi orang sudah tau kalau mereka orang kaya. Berbeda dengan dirinya. Dia bagaikan pembantu diantara orang-orang kaya ini.
“Reno telepon kalau dia masih ada kerjaan dan tidak bisa datang. Jadi, silakan pesan apa yang kamu mau.” Jelas Pak Dimas.
“Kan,, mana mau dia datang.” Protes Cassie. “Tau gitu aku juga ga datang.”
“Cassie,,, kamu belum kenalan kan sama Aeris. Kamu harus ngobrol sama dia, dia wanita yang hebat.” Kata Dimas menasehati putrinya.
“Halo nona Cassie,, saya Aeris.. Salam kenal..” sapa Aeris sambil memandang Cassie takjub. Dia begitu manis dan imut-imut meskipun sedang kesal.
“oh ya,, halo juga.” Jawabnya cuek.
Dia melanjutkan bermain ponselnya. Dimas berdehem untuk mencarikan suasana sekaligus untuk menegur anaknya.
“Maaf ya Aeris, Cassie memang sedikit manja dan cemburuan.” Ungkap Dimas.
Cassie langsung bereaksi. Dia meletakan ponselnya dan menatap tajam ayahnya. Dimas hanya tertawa kecil. Aeris langsung paham situasinya. Pastilah Cassie manja. Dia hidup dari keluarga yang sangat mampu, bahkan konglomerat. Dari atas sampai bawahpun semua bermerk.
“Terima kasih pak sudah mengundang saya.” Aeris mencoba mengalihkan pembicaraan. Saat itu pula makanan datang. Cara orang kaya memang beda. Mereka sangat efisiensi waktu. Sebelum Aeris datang, Dimas sudah memesan makanan. Satu persatu makanan datang. Sekejap saja meja yang kosong sudah terisi penuh. Steak, garlic bread, salad, dan wine. Semua makanan bule terhidang di sana.
__ADS_1
“Silakan makan Aeris..makan yang banyak..kamu masih sangat kurus.” Kata Siska tiba-tiba.
Aeris tersenyum antara senang dan sedih. Senang karena Siska perhatian dan sedih karena dia baru saja menimbang berat badannya dan naik 2kg. Mungkin hanya dia orang yang patah hati tapi masih nafsu makan.
“Maaf ya, seharusnya kamu bisa, bertemu Reno. Kami sudah membujuknya, tapi dia tetap tidak datang.” Curhat Siska kemudian.
Aeris kembali memikirkan Reno. Bagaimana dia mau datang kalau tadi Aeris sudah melakukan hal yang akan membuat canggung. Pasti Reno akan menghindarinya. Dia juga seharusnya menghindar, tapi kenapa malah bisa berada di sini? Aeris menyadari kebodohan demi kebodohan yang dia lakukan.
“Jadi kamu kerja di EO?” Tanya Cassie sambil menuangkan wine nya ke Aeris.
Aeris hampir saja tersedak melihat perubahan sikap Cassie.
“Iya,, nona..” jawab Aeris terbata.
“Panggil nama aja kali.. aku lebih muda lho..“ “By the way, makasih karena kemarin sudah bikin acaranya dengan baik.”
“Wah, saya hanya anak bawang saja...Pak Dimas juga tidak sulit untuk menerima ide-ide dari EO kami.”
“Hmmm,, Itu sih maunya kamu.” Timpal Dimas.
Aeris hanya menyimak saja. Keluarga ini lumayan hangat. Kenapa Reno sulit beradaptasi? Apakah karena traumanya?
“Oh iya, kamu sepertinya dekat dengan Reno.” Lanjut Cassie setelah perdebatan ayah dan anak berakhir.
“Enggak juga. Kami bertemu karena salah paham. Waktu itu Reno bantu saya karena saya di pecat setelah pesta itu gagal.”
“Jadi Reno mau telepon Bu Meri dan bantu kamu kerja lagi?” Sela Dimas sambil mengacungkan pisaunya. “Luar biasa.”
“Reno orang yang baik.” Kata Aeris kemudian.
__ADS_1
“Tapi sombong dan tidak rajin menabung.” Lanjut Cassie.
Aeris hanya tersenyum. Dia harus menjaga sikapnya, jangan sampai dia berbuat salah di depan petinggi-petinggi ini.
“Sebenarnya ini hari orang tua Reno meninggal. Jadi kami sengaja bikin makan malam bersama di sini, supaya Reno tidak sendirian.” Ucap Dimas lagi.”Eh, tapi dia malah sok sibuk.”
“Ya sudah lah sayang... yang penting kan kita sudah coba.. memang dia lebih suka sendiri..” hibur Siska. Dia memegang tangan suaminya untuk menenangkan dia.
“Waduh, adegan romantis lagi nih.. ya udah kita foto dulu aja, kirim ke Reno.”
Cassie mengeluarkan ponselnya lagi, lalu dia mengambil selfie bersama. Aeris berasa tambah canggung.
“Sini biar aku yang ambil foto.” Kata Aeris sambil bangun dari tempat duduknya. Cassie dengan senang menyerahkan ponselnya. Dia menyuruh Aeris untuk foto dari pinggir. Supaya pemandangan di bawah juga terlihat. Aeris menuruti dengan semangat. Dia lebih suka seperti ini daripada harus foto bersama keluarga orang.
Setelah beberapa jepretan, dia mengembalikan ponsel Cassie. Cassie mengecek hasilnya dan untungnya dia suka.
“Thank you,,,, aku minta nomer kamu ya... nanti aku kirim fotonya..”
Mereka semua menghabiskan malam itu di atap dengan senang. Hanya Aeris yang tampak tegang. Pikirannya menuju ke Reno. Reno pasti sedang sendirian sekarang. Dia juga bisa kumat karena ingat kejadian yang menimpanya dulu.
***
Sementara itu di tempat lain, ponsel Reno berbunyi. Ada pesan masuk. Dari Cassie. Dengan malas, Reno membuka pesan itu. Cassie mengirimkan beberapa gambar.
Oppa, saranghaeyo... tulisnya dengan gaya korea dan stiker love.
Reno memperhatikan satu persatu dan dia berhenti ketika mengangkap sosok Aeris dalam foto selfie mereka. Aeris tersenyum dengan tangan membentuk love dengan jempol dan jari telunjuk. Reno tersenyum kecil. Dia kembali mengingat peristiwa tadi siang. Tidak ada hujan dan tidak ada angin, tiba-tiba Aeris memeluknya. Reno tidak ingat apa yang Aeris katakan, tapi yang dia ingat hanya pelukan Aeris. Keunikan dan kepolosan Aeris memang berada di level yang berbeda. Dia bahkan tidak malu mengungkapkan perasaannya. Reno menggelengkan kepalanya mengenyahkan bayangan Aeris. Lalu dia bergeser ke ayah angkatnya. Dia sudah jauh lebih tua sekarang. Reno bisa melihat keriput-keriput di sekitar senyumnya semakin banyak. Dimas bukan orang yang jahat, tapi dia tidak bisa dekat dengan Dimas. Baginya Dimas hanyalah orang asing yang berbaik hati padanya.
Reno menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Dia menatap langit-langit kamarnya. Dia lelah sekali hari ini. Sepanjang hari Reno tidak membiarkan pikirannya beristirahat dan hanya bekerja, supaya otaknya tidak memikirkan peristiwa terburuk dalam hidupnya.
__ADS_1
***