
Mobil berhenti di hotel bintang 5 yang sudah ramai dengan karangan bunga. Reno memeberikan kunci mobil nya pada porter. Keringat Reno bercucuran karena sejak tadi dia harus menahan penyakitnya.
Aeris merasa tidak enak karena dia mengganti tasnya dan membuat obat Reno tertinggal, sedangkan obat Reno di mobil juga tidak ada. Mungkin terjatuh ketika sopir membersihkan mobilnya.
"Are you okay Ren?"
"Not sure.. Pegangi aku." Reno menarik tangan Aeris, lalu melingkarkan tangan Aeris pada lengannya. Penampilan Aeris itu begitu cantik malam ini dengan gaun yang mereka pilih kemarin. Reno juga sudah mengundang make up artist untuk mendandani Aeris. Ya, Reno perlu memastikan penampilan Aeris karena ini adalah pernikahan mantan istrinya.
"Modus." Kata Aeris yang sebenarnya merasa senang karena perlakuan Reno.
Mereka berjalan menuju ballroom. Beberapa orang menyapa Reno tanpa mempedulikan Aeris. Aeris juga tampak canggung, karena biasa nya dia sedang sibuk kesana kemari bukan menjadi tamu. Apalagi pesta besar seperti ini. Seperti nya Sandra mendapatkan pria kaya seperti Reno.
"Reno Sebastian." Seseorang menepuk pundak Reno.
Pria itu terlihat sangat tampan dengan wajah yang terlihat seperti aktor Korea.
"Samuel Sebastian?" tanya Reno terkejut. "Kapan kamu balik dari America?"
"1 bulan yang lalu." Sam melihat seorang yang bersembunyi di belakang Reno.
"Siapa dia?
"Oh ini Aeris. Pacar aku." Reno menyenggol Aeris.
Aeris mengangguk ke arah Sam. Dia sudah sangat minder karena orang-orang di sini adalah orang terpandang.
"Senang kenalan dengan mu Aeris.. Saya Sam.. Sepupu Reno." Sam mengulurkan tangannya.
Aeris menyambut uluran tangan Sam sambil tersenyum.
"Kenalin, ini Rea.." Sam menarik perempuan manis yang mengenakan gaun merah untuk mendekat pada mereka.
"Wow.. Seorang Sam bisa membawa wanita." Puji Reno. Setau Reno, Sam orang yang tidak pernah terlihat bersama seorang wanita.
"Oh..lihat.. ada reuni di sini." Ericka menghampiri dua pria di depannya. Sam dan Reno menatap Ericka dengan takjub. Dokter cantik itu memang terlihat sangat cantik dengan pakaian yang memperlihatkan belahan dadanya.
"Ericka." Sam yang baru saja bertemu Ericka segera memeluk Ericka senang.
__ADS_1
Aeris memegang lengan Reno dengan kuat karena dia takut Reno mengikuti jejak Sam untuk memeluk Ericka.
"Kamu ga pernah berubah Rick, tetap cantik." ucap Sam ketika melepaskan pelukannya.
Aeris bisa melihat wajah was-was Rea karena tingkah Sam dan Ericka. Bahkan sampai sekarang, Aeris masih insecure dengan Ericka.
"Halo Ren.. Aeris.." sapa Ericka. Dia melihat Aeris yang berpegangan pada lengan Reno. Ericka mengeluarkan sesuatu dari tas nya, lalu memberikan pada Reno.
"Ini obat yang kamu minta. lain kali pastikan dulu kamu bawa obatnya sebelum pergi." Ingat Ericka.
"Thanks.."
"Pantes kamu ga bisa ke mana-mana ya Rick.. lihat saja, Reno selalu merepotkan kamu." Sindir Sam.
"Tolong di kondisikan dokter Sam yang terhormat." Reno memberikan penekanan di tiap kata-katanya supaya Sam bisa diam.
"Eh, kita sapa Juna dulu. Kamu belum ketemu Juna kan.." Ericka menarik-narik Jas Sam dengan tangannya. Dia menunjuk ke arah seorang pria tinggi tegap yang tampak begitu dingin. Aeris merasa pernah melihat pria itu, tapi entah di mana.
"Wah ada si sombong, Juna Liem." Kata Sam takjub.
"Sebentar ya Ae.. aku menyapa Juna dulu."
"Miris sekali." kata Aeris pada Rea.
Rea mengangguk tanpa mengalihkan pandangan.
"Mereka seperti serbuk berlian." lanjut Aeris.
"Terus kita ini jadi apanya?" Tanya Rea polos.
"Kita seperti kerikil."
Aeris menghela nafas berat. Dia memutuskan untuk berkeliling mencari makanan daripada merasa panas hati melihat Ericka dan Reno.
Sedangkan Rea duduk sambil meminum wine yang diberikan oleh pelayan.
***
__ADS_1
Pesta selesai. Reno melemparkan jas nya ke kursi belakang, lalu membuka 2 kancing kemejanya. Dia kepanasan karena memutari gedung mencari Aeris. Ya, karena keasikan bicara dan nostalgia bersama teman masa kecil nya, Reno kehilangan Aeris. Setelah setengah jam mencari, ternyata Aeris sedang berada di balkon hotel. Dan sejak di temukan, Aeris hanya diam saja.
"Ae..kamu kenapa?" Tanya Reno frustasi.
"Gak pa-pa." Jawab Aeris singkat.
Reno menangkap sinyal bahaya. Biasanya kalau wanita sudah bicara tidak apa-apa, justru berarti ada apa-apa.
"Kamu marah?"
"Enggak.."
"Kamu cemburu?"
"Enggak.."
Reno tertawa keras. Dengan pertanyaan terakhir, Reno tau kalau Aeris ternyata cemburu pada Ericka. Reno memegang tangan Aeris, lalu mengusapnya lembut.
"Ae.. Ericka cuma temen kecilku dan dokter yang merawat aku.. aku ga suka sama dia. Dan tadi, kebetulan kami berempat bertemu di sini, jadi kami harus nostalgia." Jelas Reno.
"Ya,, itu masalahnya Ren.." "kita itu berbeda jauh Ren..aku ga bisa nyaman dengan semua ini." Kata Aeris akhirnya.
Dia diam selain cemburu, juga tampak berpikir dengan hubungannya dengan Reno.
"Yang kaya itu cuma ayah angkat aku Ae.."
Reno sempat bingung dengan Aeris karena di mana-mana perempuan akan senang, jika mendapatkan pacar yang kaya. Sekarang Reno malah harus meyakinkan Aeris kalau dia adalah pria yang tidak punya apa-apa.
"Oke, besok kita pakai motor dan makan di warteg." Ucap Reno akhirnya.
Aeris tidak bisa menahan tawanya mendengar Reno yang putus asa dan bahkan mau makan di warteg.
"Sorry Ren.. Aku cuma ga yakin aja kamu mau sama aku yang bukan siapa-siapa ini." Keluh Aeris menyadari posisinya.
Reno mencondongkan badannya, lalu memeluk Aeris dengan erat.
"Kamu jangan khawatir Ae."
__ADS_1
Sebenarnya Reno juga tidak mengerti kenapa dia bisa bersama Aeris, tapi Gadis biasa itu selalu mengisi pikirannya. Tingkahnya yang ajaib dan random membuat Reno gemas.
Lagi pula siapa yang akan memarahi nya, karena Dimas pun tampak suka dengan sosok Aeris. Tentu saja, kisah nya dengan Aeris harus berakhir dengan happy ending.