
Reno-Aeris telah kembali setelah seminggu berada di Eropa. Aeris sungguh tidak menikmati perjalanan kali ini, karena Reno selalu saja mengajaknya untuk "lembur". Hari-hari mereka diisi 30% jalan-jalan, sisanya berada di hotel.
Saat ini pun, dalam perjalanan ke rumah, Reno tidak bisa berhenti menggoda Aeris.
"Ren, malu di liatin." ucap Aeris sedikit menghindar karena sopir Reno sejak tadi melihat interaksi mereka berdua.
"Dia sedang menyetir, jadi tidak melihat." jawab Reno asal tanpa mengalihkan wajahnya dari Aeris.
"Sudahlah,, jangan mulai Ren. Nanti di rumah saja." Aeris paham dengan arti pandangan Reno yang sedang meminta jatah.
"Baiklah.." Reno memutuskan mengakhiri kegenitannya, lalu menggenggam tangan Aeris dengan mesra.
"Ren, kita belum memberi kado untuk Juna."
"Oh,, tenang saja, aku sudah berikan spesial pakai telor untuk mereka."
"Apa?" tanya Aeris penasaran.
Reno membisikan sesuatu pada Aeris, lalu menciumi pipinya. Ya, sejak menikah, Reno sudah tidak melihat situasi kondisi lagi untuk mengungkapkan perasaannya.
"Ren.. geli.." Aeris mendorong kepala Reno menjauh. "Kamu yakin Juna tidak akan marah?"
"Biarkan saja.. kenapa kamu harus peduli pada Juna?" tanya Reno curiga.
"Enggak, aku hanya tanya aja sayang.." Aeris mencubit pipi Reno gemas. Dia memeluk suaminya yang tampak cemburu karena Aeris bertanya tentang Juna.
Sopir Reno menghentikan mobilnya di rumah. Bi Inah sudah menunggu di depan pintu untuk menyambut majikan dan istrinya yang baru sampai. "Selamat datang non Aeris, bagaimana bulan madunya?" sapa Bi Inah ramah.
"Menyenangkan.." jawab Reno singkat. Dia menggandeng Aeris untuk segera naik ke atas.
"Astaga, dasar pengantin baru.." Bi Inah geleng-geleng kepala. Dia menurunkan barang-barang Reno bersama sopir dan meletakannya di ruang tengah. Ya, akan bahaya saat ini jika Bi Inah pergi ke atas.
Sementara itu, di kamar, Reno sudah melepaskan kaosnya. Dia menagih janji Aeris untuk melanjutkan kegiatan mereka.
Aeris yang baru saja keluar dari kamar mandi jelas saja terkejut karena Reno sudah bertelanjang dada.
"Reno.." omel Aeris. Suami nya sangat mesum sekali. Ini masih pagi dan mereka baru saja sampai dari Eropa.
Baru saja Reno merebahkan Aeris di ranjang, teleponnya berdering.
"Mengganggu saja." omel Reno. Dia mengangkat telepon itu dengan kesal. "Ada apa?"
"Pak, hari ini ada meeting dengan Mr.Kim."
"Oke, setengah jam lagi." Reno melempar ponselnya sembarangan, dan kembali berfokus pada Aeris.
__ADS_1
Aeris melingkarkan tangannya pada leher Reno. "Kamu harus siap-siap sayang." "Cepat sana.." ucap Aeris sambil mengecup bibir suaminya.
"Kamu juga ikut."
"Kenapa?" tanya Aeris bingung.
"Aku ingin memperkenalkan istri ku yang cantik."
Reno mengacak-acak rambut Aeris, lalu bangun dari tubuhnya.
Aeris berlari mengejar Reno ke kamar ganti. Dia ingin bertanya pada Reno karena baju-baju nya masih ada di rumah. Tapi, ketika masuk, tampak baju wanita sudah berjejer rapi di gantungan.
Ada dress pesta, piyama, blouse-blouse bermerk dan lingerie warna warni.
"Welcome nyonya Tan.." Reno merentangkan tangannya.
"Kapan kamu beli ini semua?" tanya Aeris takjub. Dia mengambil sebuah tas bermerk dari pajangan, lalu mencoba tasnya.
"Kamu harus tampil dengan baik.. karena kamu istri Reno Tan."
"Makasi Sayang.." Aeris memeluk Reno senang. Suami nya bukan hanya tampan, tapi juga begitu perhatian padanya.
"Cepat pilihkan baju untuk aku." Reno harus menahan dirinya karena waktu hanya tersisa 20 menit lagi. Mereka harus segera sampai kantor sebelum Mr.Kim marah.
Aeris sudah menunggu Reno untuk meeting selama 2 jam. Dia sangat bosan menunggu sendirian di ruangan Direktur. Sesekali Aeris mengutak atik meja Reno.
"Nyonya, Pak Reno memanggil anda ke ruang rapat." seorang wanita berambut pirang masuk ke dalam dan berdiri di depan Aeris.
Aeris menatap wanita itu dari bawah ke atas. Kakinya jenjang, badannya mirip gitar spanyol dan dia menggunakan rok span di atas lutut.
Aeris tidak pernah melihat wanita itu di kantor Reno.
"Kamu siapa?"
"Saya Hana, sekretaris Pak Reno." Hana mengulurkan tangan sambil tersenyum pada Aeris.
Aeris hanya diam dan menerima uluran tangan Hana.
"Mari ikut saya, nyonya."
Dia membuka kan pintu untuk Aeris. Aeris mau tidak mau mengikuti Hana untuk menemui Reno.
"Sejak kapan kamu kerja di sini?" Tanya Aeris bingung.
"Baru 6 bulan saya bekerja.."
__ADS_1
Aeris mengangguk. Reno belum cerita kalau dia punya sekretaris yang seksi. Dia masih mengamati wanita yang bak model itu sampai ke ruangan rapat.
Hana membuka pintu. Reno berjalan menjemput Aeris ke depan pintu, karena Aeris tampak canggung dengan situasi di dalam.
"Terima kasih, Hana." ucap Reno singkat. Dia menggandeng Aeris untuk berdiri di tengah ruangan, dimana seluruh manager Reno berkumpul.
Reno merangkul pinggang Aeris sambil menatap ke depan.
"Perkenalkan, ini adalah istri saya, Aeris Tan."
Seluruh yang hadir di ruang rapat bertepuk tangan untuk menyambut Aeris.
Aeris membungkukan badannya untuk mengucapkan salam perkenalan pada semua pegawai Reno.
"Saya harap kalau dia ke kantor, kalian dapat membantu nyonya ini." tambah Reno.
"Baik Pak..kami akan sebisa mungkin memperlakulkan nyonya dengan baik." ucap GM yang duduk paling dekat dengan Reno.
"Kalian semua boleh keluar. Rapat selesai."
Reno duduk di kursinya. Dia menarik Aeris untuk duduk dipangkuannya.
Beberapa karyawan yang akan pergi sampai senyum-senyum sendiri karena melihat tingkah bucin bos nya.
"Ren, kamu memang gila. Malu kan.." bisik Aeris.
"Kenapa? Kamu bebas melakukan apapun di sini, karena kamu Nyonya Tan." ingat Reno.
Ya, Aeris harus terbiasa dengan posisinya sekarang. Dia adalah istri pemilik perusahaan besar, bukan Aeris pegawai EO lagi.
"Ehem." Hana yang berada di belakang Reno berdehem.
Reno lupa dengan keberadaan sekretarisnya, begitu juga dengan Aeris.
"Kamu keluar dulu saja, Han." perintah Aeris.
Hana tidak bergerak dari tempatnya. Masalahnya yang menyuruhnya pergi adalah Aeris dan bukan Reno.
"Tunggu apalagi.." ulang Aeris.
Hana menurut. Dia meninggalkan Reno berdua Aeris di dalam.
"Bagaimana?" tanya Aeris begitu sudah tidak ada lagi orang lain.
"Itu baru istri Reno Tan." ucap Reno bangga.
__ADS_1
Dia menekan tombol remote supaya pintu di luar bisa terkunci. Sistem keamanan yang ditawarkan Boy ternyata berguna juga. Tidak sia-sia dia bekerja sama dengan Boy. Tentu saja Reno harus memastikan keamanan di kantornya karena saat ini dia sudah punya istri. Reno butuh privasi supaya apa yang akan dilakukan nya dengan Aeris tidak terganggu.