Happy Ending?

Happy Ending?
Surat Perjanjian


__ADS_3

Seminggu lalu.


Pak Herman masuk ke ruangan Reno secara paksa. Dia sampai harus berdebat dengan satpam karena Reno tidak mengijinkan nya masuk. Setelah berjuang keras selama satu jam, akhirnya dia sampai di ruangan Reno. Reno hanya melirik tak senang pada si Pak Raden alias pengacara keluarganya yang sudah 1 bulan ini meneror Reno. Reno membenarkan posisi duduknya ketika melihat Pak Herman datang.


“Susah sekali ya hanya untuk bicara pada seoarang Reno Tan.”


“Langsung saja ke intinya.” Pak Herman duduk di depan Reno, lalu menyerahkan berkas di tangannya.


“Ini surat wasiat ayah anda. Anda perlu baca ini.”


Reno tampak tidak tertarik dengan surat itu. Baginya keluarga Tan adalah bencana. Semua penuh kepalsuan. Mereka hanya senang kekuasaan dan uang. Reno bahkan tidak tau apa saja yang ayahnya miliki.


“Ren, saya mohon.. papa mu adalah teman saya. Dan kamu sudah saya anggap sebagai anak sendiri.” Pinta Pak Herman memelas. Dari taun ke taun pak Herman memang rutin mengunjungi Reno. Dia juga melihat kesehatan Pak Herman semakin memburuk. Reno berpikir sejenak, lalu memberanikan diri untuk membacanya.


Dia membaca kata per kata dengan seksama. Pak Herman juga menyerahkan daftar aset yang di miliki oleh ayah Reno. Dari banyak rangkaian kata-kata, mata Reno hanya terpaku pada satu kalimat.


Harus menikah dengan Ericka.


“Surat macam apa ini.” Reno mengembalikan semua surat nya pada Pak Herman.


“Reno, ini pesan papa kamu.” Lanjut Pak Herman.


“Sama saja om.. papa sudah ga ada, jadi mau Reno penuhi atau enggak, dia ga akan tau.”


“Ren,, tapi semuanya terancam habis oleh para sepupu kamu.”


Reno tidak bergeming. Baginya surat ini tidak masuk akal. Mana ada orang tua yang menjodohkan anaknya di usia 3 tahun. Dan soal harta keluarga Tan, Reno benar-benar tidak ingin ambil pusing.


“Om, maaf, aku sakit kepala, om pulang dulu saja.” Usir Reno secara halus.


“Oke,, tapi pikirkan lagi Reno.. kenapa Papa kamu bisa bikin ini meskipun kamu masih kecil. Pasti ada alasannya.” Ucap Om Herman sebelum pergi.

__ADS_1


Reno memijit pangkal hidungnya. Dia tidak bisa berpikir jernih sekarang. Menikah dengan Ericka? Ini sangat lucu. Reno segera teringat Aeris. Bagaimanapun juga, Aeris tidak boleh tau mengenai hal ini.


***


Reno segera mencari keberadaan Dr.Andre untuk meminta penjelasan. Dokter Andre adalah sahabat ayahnya, jadi dia pasti tau apa yang terjadi di sini. Dokter Andre yang sedang bermain golf menghentikan kegiatannya begitu Reno berlari menghampiri nya.


Wajah dan penampilan Reno tampak kusut. Dia bahkan tidak bercukur sehingga bulu-bulu di sekitar dagunya mulai tumbuh.


"Hai Ren.." sapa Dr.Andre ramah.


Ericka yang baru datang juga menyapa Reno ramah.


"Kenapa ke sini?" Tanya Ericka bingung.


"Om Herman kemarin ketemu Reno. Dan dia kasih surat warisan papa." Adu Reno.


Dr Andre mendengarkan anak muda itu tanpa memotong.


"Perjanjian apa?"


"Reno akan menjadi hak waris sepenuh nya kalau menikah sama Ericka."


Deg. Ericka membeku. Dia menatap Reno tidak percaya. Sebaliknya, Dr Andre hanya menghela nafas panjang.


"Kita duduk dulu di situ."


Mereka akhirnya duduk bertiga pada sebuah meja bundar di pinggir lapangan.


"Begini Ren.. papa mu memang pernah bilang hal itu, tapi om tidak tau kalau dia benar-benar menuliskannya di surat wasiat." Jelas Om Andre. Dia mengingat betul apa yang dikatakan papa Reno waktu istrinya baru melahirkan Ericka.


"Om tau, kamu sedikit kecewa sama keluargamu.. tapi, kamu memang satu-satunya putra Keluarga Tan. Jadi kamu tau apa yang harus kamu lakukan."

__ADS_1


Reno semakin pusing mendengar ucapan dokter Andre. Itu artinya dokter Andre memang ingin Ericka menikah dengan Reno.


"Tapi, kalian yang memang harus memutuskan. Om juga tidak bisa paksa Ericka." Lanjut Dr.Andre.


"Ericka mau." Sahut Ericka.


Spontan Reno memandang Ericka dengan tidak percaya. Reno sudah anggap Ericka sebagai adik sendiri. Dia tidak punya perasaan apapun dengan Ericka. Dan bukan hal itu yang ingin di dengar oleh Reno.


"Reno ga akan peduli dengan perjanjian itu." Reno berdiri.


"Ren..duduk sebentar." Panggil Om Andre lagi.


Reno kembali duduk dengan kesal.


"Om memang tidak mau menduga-duga. Tapi, kecelakaan itu bukankah terlalu aneh?"


"Mana Reno tau om, Reno masih kecil dan karena itu sampai sekarang Reno harus minum obat sialan itu." Umpat Reno.


"Ren, sejak lama memang banyak yang mengincar harta keluarga Tan. Dan om ga tau, apakah kecelakaan itu sebuah rekayasa mereka juga." Kata Om Andre lirih.


"Apa maksud om?"


"Kamu pasti tau maksud om. Jadi, om harap kamu pikirkan lagi soal ini. Mereka terlalu lama menikmati harta keluarga Tan..sudah waktu nya kamu mengambil alih."


Ponsel Reno berdering. Aeris calling. Reno mengangkat teleponnya tanpa berpikir. Aeris minta di temani belanja, dan Reno harus menolaknya. Ini karena Reno harus berpikir dulu sebelum ambil keputusan besar seperti ini.


"Ren..papa benar. kamu ga bisa egois hanya karena kamu ga suka dengan keluarga mu." Saran Ericka.


Reno menatap Ericka sinis. Sebelum bertemu Aeris, Sandra pun cemburu melihat kedekatan Reno dan Ericka. Reno pun mengakui dia bergantung pada Ericka. Jika terjadi keluhan, Ericka lah yang nomer satu dia kabari.


Reno mengacak-acak rambut nya frustasi.

__ADS_1


Kenapa jadi gini? Batinnya kesal.


__ADS_2