Happy Ending?

Happy Ending?
Masa Lalu Reno


__ADS_3

Reno menghentikan motornya di depan minimarket. Telinganya cukup tajam untuk mendengar suara perut Aeris. Gadis itu lapar. Aeris turun dengan susah payah. Reno tidak tepat waktu karena menggunakan motor sport nya.


“Kamu duduk di sini." pesan Reno. Aeris hanya mengangguk saja menuruti Reno. Dia duduk di bangku kosong sambil memandangi langit malam. 10 menit kemudian Reno keluar dengan tangan penuh makanan. Tangan kanannya memegang pop mie, tangan kirinya memegang americano, sedangkan pergelangan tangannya di cantelkan kresek yang isinya penuh cemilan.


"Makan lah.. Kamu pasti lapar." Reno menyodorkan pop mie ke arah Aeris.


Aeris bisa mencium harumnya pop mie di depannya. Tanpa basa-basi dia menyantap apa yang sudah dibelikan Reno. Sementara itu Reno tampak senang melihat Aeris yang makan seperti anak kecil. Sesekali Reno menyeruput americano nya.


“Boleh aku tanya sesuatu?” Tanya Reno kemudian.


“Apa?”


“Kenapa kamu pacaran sama makhluk seperti dia?” Kata Reno hati-hati.


“Dia itu baik dan lucu.” Jawab Aeris singkat. Dia lebih berfokus pada makanannya.


“Kamu menyesal mengakhiri hubungan sama dia?”


Kali ini Aeris berhenti makan. Dia menangkap apa yang Reno bilang. Aeris bahkan seminggu ini bekerja siang malam tanpa henti karena dia tidak bisa melupakan Bobby. Tapi setelah kejadian tadi, dia tau Bobby bukanlah orang yang tepat untuknya. Benar kata pepatah, kalau orang jatuh cinta, tai kucing pun rasa coklat. Dia tidak bisa melihat kekurangan Bobby. Hanya kelebihannya saja. Pertanyaan Reno seolah-olah membawanya kembali saat masa pacaran bersama Bobby dulu. Bobby merokok, ke night club, dan dia sering mabuk. Selain itu Bobby juga sedikit emosian ke orang lain. Contohnya ke managernya. Dia bisa memarahi managernya hanya karena sepatunya tidak di bawa. Dulu, Aeris masih berpikir positif dan membenarkan tindakan Bobby. Sekarang semua berubah 180 derajat.


“Enggak.” Jawab Aeris akhirnya.


“Kamu trauma?”


“Sedikit.”


Reno hanya terdiam dan sibuk dengan pikirannya sendiri.


“Waktu di westlake, kamu kenapa?” Aeris memberanikan diri untuk bertanya karena itu terus mengganggu pikirannya.


Reno cukup terkejut mendengar pertanyaan Aeris. Dia menghela nafas panjang, lalu menatap Aeris intens.

__ADS_1


"Itu PTSD.. maksudnya trauma. Jadi, dulu waktu aku umur 3 tahun, aku kecelakaan mobil. Papa dan mama meninggal di tempat, dan waktu itu, Dad Dimas lah yang menemukan kami. Dia tidak punya anak laki-laki, jadi dia angkat aku jadi anaknya.” Jelas Reno tanpa menatap Aeris.


“Jadi, kamu ga bisa naik mobil dan lebih senang naik motor?” Aeris sangat terkejut mendengar cerita Reno.


Reno mengangguk. “Maaf karena kejadian itu. Aku cuma ga suka kalau orang lain tau kelemahan ku.” Ucap Reno jujur.


Aeris mengangguk. Dia memang kesal, tapi dia terus memikirkan Reno. Dia bahkan merasa kasihan pada Reno setelah mendengar cerita ini.


Pandangan Aeris beralih pada sudut bibir Reno yang lebam. Tadi Bobby memukulnya cukup keras.


“Maaf ya,, gara-gara aku, wajah kamu luka.”


“Oh ini,,,” Reno memegang lukanya dengan tangan. “Bukan masalah besar.


“Kenapa kamu ga balas saja? Kamu lebih kuat dari dia.”


Reno tertawa mendengar Aeris. Dia pasti mengharapkan adegan tadi seperti di drama korea atau sinetron.


Aeris menyetujui kembali perkataan Reno. Dia yang akan dituntut kalau ada baku hantam. Reno ini pria pertama yang Aeris temui yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.


“Kamu ga tanya siapa Ericka?”


Aeris memutar bola matanya. Dia tau Ericka itu dokter. Tapi dia dekat dengan Reno. Mungkin mereka saling suka. Imajinasi Aeris berjalan dengan lancar sewaktu menebak hubungan mereka.


“Ericka anak Dr.Andre yang tadi kita temui. Aku kenal Ericka karena Dr. Andre adalah dokter pribadi Dad Dimas. Jadi waktu Ericka membuka praktek psikiatri, Dad Dimas minta dia merawat aku juga." Reno menjelaskan silsilah Ericka.


Aeris hanya mengangguk-angguk. Biasanya pria tidak suka menceritakan kehidupan pribadinya, apalagi sama orang asing. Tapi orang ini malah dengan lancar bercerita semua nya.


“Jadi, apa bisa sembuh?” Tanya Aeris mengalihkan pembicaraan tentang Ericka.


Reno mengangkat bahunya. “Entah lah.. semua sudah aku lakukan, tapi bayangan malam itu selalu muncul.” Reno menikirkan apa yang terjadi. Dulu, dia dan mama papanya sedang bertengkar di mobil. Mama nya memangku Reno di depan. Hari itu hujan dan sudah malam. Reno duduk dengan manis, sedangkan kedua orang tuanya malah bertengkar hebat. Sampai akhirnya, papa Reno tidak sadar ada mobil dari arah berlawanan, dan karena kaget, dia banting setir. Karena licin dan mobil sedang dalam keadaan cukup cepat, mobil mereka berbalik arah lalu meluncur ke pinggir dan berakhir menabrak pembatas jalan. Saat Reno tersadar, dia melihat papanya sudah tertelungkup di stir, dan mama nya sudah berlumuran darah. Reno pun terluka. Pelipisnya berdarah sampai ke mata kirinya. Dia menangis memanggil mama nya, tapi tidak ada jawaban. Reno berusaha turun keluar. Dia merangkak, dan mencari pertolongan. Dia tidak tau apa yang terjadi setelah nya. Yang jelas, ketika bangun, Rano sudah berada di rumah sakit bersama dengan Dimas dan Siska.

__ADS_1


“Oke, kita ga usah bicara ini lagi.” Stop Aeris. Dia sudah melihat wajah Reno yang pucat. Kalau Reno kumat dan tidak bawa obatnya, dia bisa pulang sendiri lagi.


“Tenang saja, aku bawa obatnya.” Reno mengeluarkan obatnya dari saku celana.


“Kamu bisa baca pikiran ya?” Aeris melonjak kaget. Sudah beberapa kali dia bisa menebak dengan tepat apa yang Aeris pikirkan.


Reno tertawa. “Mungkin khusus kamu, aku bisa.” Goda Reno.


Aeris buru-buru memakai helmnya dan menutup kacanya. Dia tidak ingin Reno membaca pikirannya. Melihat tingkah Aeris, Reno jadi gemas. Dia menjitak helm Aeris.


“Ayo pulang.. kamu harus istirahat.” Ajak Reno.


Aeris menahan tangan Reno, tapi dia melepasnya begitu Reno menatapnya.


“Makasi ya sekali lagi.” Ucap Aeris lega.


“Ga ada di dunia ini yang gratis nona,,”


Aeris membuka kaca helmnya. Dia kira Reno tulus menolong.


“Iya gue ganti nanti.” Jawab Aeris kesal.


“Jadi, biaya taksi, rumah sakit, ojek, terus satu lagi, biaya perawatan wajahku.” Oceh Reno.


Tanpa sadar Aeris memukul lengan Reno. Dia menyebalkan sekali. Orang kaya yang tidak tau diri.


Reno semakin senang menggoda Aeris. Gadis ini sangat supel. Dia juga tidak memandang Reno aneh ataupun juga tidak memperlakukan Reno seperti yang lain. Kalau yang lain, begitu tau Reno anak konglomerat, mereka pasti akan memperlakukan Reno seperti pejabat. Itu akan membuat Reno tidak nyaman.


“Becanda..becanda... tapi kalau mau ke dokter Andre, kamu harus telepon aku, karena dokter Andre sibuk.”


“Ga usah lah,, biar aja sembuh sendiri.” Aeris berjalan dengan terpincang-pincang menuju motor Gede Reno. Reno cuma cekikikan di belakang nya.

__ADS_1


__ADS_2