
"K-kamu siapa? " Tanyaku.
"Apa kamu orang yang bernama Alice?. "Tanya laki-laki yang ada didepanku.
"Kalau iya emang kenapa, ada urusan apa kamu denganku?." Tanyaku.
"Aku cuman sedikit tertarik melihatmu. Aku dengar-dengar kamu sering di bully, ya?. "Tanya laki-laki tersebut.
"Itu bukan urusan kamu, walaupun aku bilang iya, kamu gak mungkin peduli sama aku. "
Laki-laki itu terus tersenyum kepadaku, aku bingung kenapa dia melihatku dengan tatapan yang aneh.
"Siapa kamu?. Kenapa kamu ada di sini, lagipula kamu pasti bukan murid di Sekolah ini kan?. " Tanyaku.
"Hehe... namaku Aldo, aku memang bukan dari Sekolah ini. Aku di sini karena ada urusan yang penting. " Dia terkekeh, dia masih menatapku dengan tatapan yang sama. Dia melihatku dari atas sampai kebawah, aku curiga kenapa dia mengajakku bicara.
"Emangnya ada urusan apa kamu datang kesini?. Dan juga kenapa kamu mengajakku bicara?. "
"Urusanku kesini karena ingin bertemu denganmu. " Dia menyeringai, aku sedikit takut dengannya.
"Apaan sih... Jika tidak ada yang mau dibicarakan lagi pergilah!!. Aku ingin sendiri. " Ucapku.
__ADS_1
Laki-laki tersebut tersenyum kepadaku dan tiba-tiba dia berjalan semakin mendekat hingga tubuh kami bersentuhan, kemudian laki-laki tersebut mencondongkan kepalanya ke leherku, aku bisa merasakan nafasnya. Lalu dia berbisik kepadaku.
"Akan kupastikan kamu akan menjadi milikku. " Kemudian laki-laki tersebut menghilang, aku bingung kemana dia pergi. Dia bisa menghilang secepat itu, aku berpikir mungkin yang tadi adalah halusinasi ku. Tapi, jika itu halusinasi kenapa rasanya sangat nyata.
"Yang tadi itu apa?. " Kemudian aku memegang leherku.
"Apa aku berhalusinasi?. Mungkin karena aku bengong jadi seperi itu, jika bukan halusinasi, laki-laki tadi pergi kemana. Huh... Aku harus berpikir positif. "
KRING!!... KRING!!... KRING!!
*Bel masuk berbunyi.
"Heh... bukannya tadi dia bikin keributan di ruang guru, ya?. "
"Iya, aku dengar sendiri, tadi dia membentak guru pendamping, lho. "
"Gila... gak nyangka gua. "
Aku mendengar mereka yang sedang membicarakan ku, aku hanya bisa diam mendengar mereka yang sedang asik membicarakanku. Kemudian guru datang dan memulai pelajaran, tapi ternyata aku dipanggil lagi oleh guru untuk maju kedepan. Aku disuruh untuk datang ke ruang BP sekarang juga, aku langsung pergi dan meninggalkan pelajaran.
Sesampainya diruang BP aku langsung diminta untuk menjelaskan soal keributan diruang guru.
__ADS_1
"Coba jelaskan kepada saya kenapa kamu buat keributan diruang guru. " tanya Guru BP.
"Maaf, Pak. saya tidak bisa mengontrol emosi saya. Saya kesal karena saya difitnah oleh Adira dan teman-temannya. " Jawabku.
Kemudian Guru BP menasehati ku, aku hanya mengangguk karena aku memang tidak bisa berkata apa apa lagi. Bahkan Guru BP juga tidak bisa percaya pada omonganku, semuanya percaya pada Adira. Aku bingung kenapa semua Guru percayanya kepada Adira, padahal Adira yang sudah sering berurusan dengan guru-guru. Padahal poin yang Adira peroleh sudah lebih dari 100, karena di sekolahan ini jika ada murid yang sudah mempunyai 100 poin dari masalah-masalahnya di sekolah akan dikeluarkan dari sekolahan. Kenapa sampai sekarang Adira masih belum dikeluarkan juga.
"Saya akan memberikan poin untuk kamu, tapi sebelum itu saya mau bertanya. Apa kamu mau poin yang kamu peroleh saya hilangkan?. " Tanya Guru BP. Aku sedikit curiga karena dari tadi dia menatapku dengan tatapan yang aneh, matanya selalu melirik ke arah tubuhku saat dia berbicara.
"Memangnya saya harus apa untuk menghilangkan semua poin yang saya peroleh. " Tanyaku.
"Kamu hanya perlu mengikuti semua perintah saya. Kamu bisa kan?. " Ucap Guru BP.
"Pak, jika bapak meminta itu saya tidak akan melakukannya. Gak papa jika saya punya poin, daripada saya menjadi babu anda. Kalau sudah tidak ada yang perlu Bapak bicarakan, saya akan pergi ke kelas untuk mengikuti pelajaran. "
Aku langsung pergi meninggalkan Guru BP, tapi sebelum itu dia menarik tanganku. Aku ditarik hingga kami saling berhadapan, jaraknya terlalu dekat hingga tubuh kami bersentuhan. Aku bisa merasakan detak jantungnya, kemudian Guru BP menyentuh pinggangku. Sontak aku terkejut dan aku mencoba untuk pergi dari sana. Tapi genggaman tangannya sangat kuat, aku langsung menggigit tangannya, dia kesakitan dan melepaskan genggaman tangannya. Aku langsung pergi dari Ruang BP dan berlari ke kelas. Aku tidak menyangkanya, ternyata firasat ku benar. Sesampainya di kelas aku duduk di kursiku dan aku terdiam di sana. Aku masih shock dengan kejadian tadi, pikiranku tidak bisa ku kontrol. Aku tidak bisa fokus belajar, pikiran negatif masih menggangguku.
KRING!!... KRING!!
*Bel pulang berbunyi.
Aku langsung membereskan tasku dan pulang ke rumah.
__ADS_1