Happy Ending?

Happy Ending?
Reno kecelakaan


__ADS_3

"Apa? Reno kecelakaan?"


Aeris yang baru saja masuk mendengar dengan jelas ucapan Boy.


Dia segera mendekati Boy berharap Boy memberikan penjelasan.


Boy memandang Aeris dengan wajah suram. Baru saja dia bertemu dengan Reno, dan sekarang dia mendengar Reno kecelakaan.


"Ris.. Reno kecelakaan." ulang Boy setelah mematikan sambungan telepon nya.


Aeris diam mematung. Jika Boy saja kaget, terlebih lagi Aeris karena belum ada setengah jam dia bicara dengan Reno.


"Kamu ga nge prank kan Boy?"


"Ris..Gue ga mungkin nge prank hal yang ga lucu seperti ini." ucap Boy dengan kesal.


"Boy, cepat antar aku ke sana." Aeris mulai menangis.


Boy mengangguk. Dia menyambar kunci mobilnya, lalu menarik Aeris pergi. Mereka bukan lagi berjalan, tapi berlari ke parkiran. Boy bahkan menabrak beberapa karyawan yang mereka lewati. Belum sampai di situ, kunci mobil Boy berkali-kali terjatuh karena panik.


"Renoooo.." Aeris tidak berhenti memanggil nama Reno sambil menangis.


Mereka sudah sampai di mobil. Boy mencoba menarik nafas panjang untuk mengurangi kepanikan nya. Jika dia menyetir dalam keadaan panik, bukan hanya Reno yang terbaring di rumah sakit, tapi mereka berdua. Setelah berdoa singkat, Boy melajukan mobilnya menuju rumah sakit Husada.


***


Setelah hampir 10 menit perjalanan yang menegangkan, mereka sampai di rumah sakit Husada. Boy membawa Aeris ke ruangan yang sudah di beri tau oleh Sam. Tadi Sam lah yang menelepon Boy mengabarkan soal kecelakaan Reno.


Boy dan Aeris sampai di ruangan VIP. Di sana ada Cassie, Sam dan juga Ericka. Wajah mereka semua tegang dan tampak sangat sedih.


Aeris segera berlari menemui Cassie.

__ADS_1


"Gimana keadaan Reno, Cas?"


"Reno.." Cassie tidak melanjutkan kata-katanya. Dia hanya mampu menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Aeris beralih pada Sam.


"Reno kritis Ae.." jelas Sam dengan suara lirih. Aeris melihat baju praktek Sam tertempel noda darah yang cukup banyak.


"Gimana bisa?" Aeris menangis terisak.


"Kamu lihat saja ke dalam Ae.. sejak tadi Reno panggil nama kamu.." Ericka yang sejak tadi diam mulai bicara. Dia mendekati Aeris sambil menepuk pundaknya. "Sebelum terlambat, masuk lah.."


Aeris tidak peduli lagi dengan status Ericka-Reno. Dia hanya ingin melihat Reno sekarang. Sam membuka pintu ruangan.


Aeris berjalan masuk dengan kaki yang sudah sangat lemas. Dia tidak dapat melihat Reno dengan jelas karena seluruh tubuhnya di tutup kain.


"Tolong jangan di buka, karena kondisinya sudah parah. Sampaikan pesan terakhir kamu." pesan Sam.


Cassie mencoba memberi dukungan pada Aeris dengan memegang pundaknya.


"Sejak kamu pergi, Reno begitu frustasi. Dia bilang kalau kamu pergi karena kamu tidak cinta sama Reno."


Aeris sudah tidak tahan lagi. Dia menangis sejadi-jadinya sambil mengguncangkan badan Reno. "Ren, aku mohon, jangan tinggalin aku.. aku sayang kamu Ren.."


"Cuma sayang aja nih?"


Suara berat itu membuat Aeris terkejut. Dengan reflek dia membuka kain yang menutupi Reno. Reno tersenyum lebar tanpa rasa berdosa. Aeris memandang Reno dari atas ke bawah. Tidak ada darah, luka, dan wajah Reno masih tampan.


"Reno kamu baik-baik aja?" saking senangnya, Aeris segera memeluk Reno.


Reno juga tampak lega sekaligus senang sekarang. Dia mengusap punggung Aeris untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Sorry Ae.. aku ga bermaksud untuk nge prank kamu.." bisik Reno.


Aeris hanya mengangguk dalam pelukan Reno. Yang terpenting sekarang adalah Reno baik-baik saja.


"Emm.. maaf.. kami pergi dulu ya.. kalian silakan selesaikan nostal-gila nya." Sam yang gerah melihat kedua pasangan ini buru-buru mengambil inisiatif untuk menarik Cassie, Ericka dan Boy untuk pergi.


***


Kini hanya ada Aeris dan Reno di dalam ruangan. Reno mengusap air mata Aeris dengan tangan kanannya, sedangkan tangan satunya menggenggam tangan Aeris. Dia tidak menyangka ternyata Rencana Sam berhasil juga. Ya, tadi Sam menyuruh Cassie untuk menelepon Reno dan mengatakan baby Sean masuk rumah sakit. Memang benar Baby Sean ke rumah sakit, tapi untuk minta vitamin saja. Dan setelah Reno sampai di rumah sakit, Sam menyusun rencana supaya Reno pura-pura untuk kecelakaan. Sam berdalih jika hati Reno lah yang sekarat dan sakit karena ditinggal Aeris. Jadi dia tidak 100 persen membohongi Aeris.


"Ae.. mungkin ini sedikit tidak tepat dan terlambat, tapi.. " Reno merogoh saku celananya. Dia mengeluarkan sebuah cincin emas putih yang sudah disimpan selama ini. "Bagaimana kalau kita bikin kisah ini happy ending?" "Will you marry me Aeris?"


Aeris menatap Reno tidak percaya. Ini jauh dari apa yang dia bayangkan. Reno melamarnya di rumah sakit.


"Tapi gimana dengan.."


"Aku tidak menikah dengan Ericka." potong Reno.


"Jadi.." kata Aeris bingung.


"Jadi, baby Sean bukan anak aku." "Nanti aku jelaskan Ae.. Tapi apa jawabannya?" Reno masih memegang cincin yang cantik itu.


"Tentu saja,ya. Siapa yang tidak ingin kisah nya berakhir happy ending?"


Reno memasangkan cincinnya pada jari manis Aeris. Dia sangat bahagia sekarang. Reno kemabli memeluk Aeris.


"Jangan pergi lagi Ae.." pinta Reno dengan memelas. Reno sangat menyesal karena sudah membuat Aeris salah paham selama ini.


"Dan kamu juga jangan main rahasia-rahasia an lagi." ucap Aeris kesal.


Seandainya saja Reno bicara terus terang, dia tidak perlu bersembunyi dan menangis hampir tiap malam.

__ADS_1


__ADS_2