Happy Ending?

Happy Ending?
Perasaan Aeris


__ADS_3

Mengetahui fakta bahwa Reno sakit membuat Aeris tidak bisa fokus di tempat kerja. Tiffany yang sejak tadi memperhatikan Aeris sampai bingung kenapa sahabatnya terlihat galau.


“Kamu kenapa sih?” Tanya Tiff yang sudah tidak sabar lagi melihat tingkah Aeris.


“Gak pa-pa..”


Tiffany memperhatikan wajah Aeris lebih dekat. Dia tau Aeris sedang berbohong. Kantung mata Aeris juga terlihat jelas seperti orang yang habis di pukul.


“Kamu masih anggep aku sahabat? Apa yang kamu sembunyiin.”


“Astaga beb.. Gue di sini paling deket sama lo.”


“Ya udah cerita..”


Aeris membenarkan posisi duduknya. Dia menatap Tiffany dalam-dalam. Masalah dalam hidupnya akhir-akhir ini sangat rumit dan Aeris pun tidak bisa bercerita tentang Bobby kepada Tiffany. Meskipun mereka sahabat yang baik, tapi Aeris tau Tiffany lebih bahaya dari lambe turah.


“Gue lagi mikirin Reno.”


“WHaAAT?” Pekik Tiffany. Sebagian karyawan lain menoleh ke arah mereka.


“Jadi, si Sandra bentar lagi nikah.Gue nawarin diri untuk nemeniin dia.”


“Wah, bagus si.. akhirnya lo ada kemajuan.” Puji Tiffany senang.

__ADS_1


"Masalahnya, Reno itu anak angkat Dimas Sebastian."


“WHAAAT?”


Aeris segera membekap mulut Tiffany. Memang Tiffany suaranya jauh melebihi toa. Ini karena mereka biasa untuk berteriak-teriak.


Aeris menarik nafas panjang menyadari kebodohannya. Seharusnya dia tidak bercerita pada Tiffany.


Tiffany baru sadar sekarang, kenapa Reno bisa duduk bersama dengan Dimas waktu acara aniv nya. Reno juga berfoto bersama setelah tamu-tamu sudah mulai pulang.


"Aeris, lo pinter banget sih cari pacar." puji Tiff setelah mulai tenang.


"Pacar apaan sih.. kita itu temen.."


“Gue kan memang dari dulu baperan.”


Tiffany mengangguk pelan. Aeris memang tipe orang yang sangat mudah tertarik dengan lawan jenis. Apalagi kalau sudah di perhatikan, Aeris langsung menaruh harapan yang besar untuk pria itu. Tapi nyatanya, Aeris sudah lama menjomblo. Dia tidak pernah terlihat jalan bersama pria. Dan yang sekarang Aeris dekati adalah Reno Sebastian. Mantan klien yang tampan dan kaya tentunya.


“Lo pastiin aja, apa Reno beneran suka sama lo.” Ide Tiffany.


“Mana mungkin suka sama gue. Liat aja mantannya, cantiknya luar biasa. Terus ada dokter...” Aeris terhenti sebentar. “Banyak cewe cantik di sekeliling dia.” Lanjutnya. Sudah pasti Aeris insecure sendiri dengan wanita-wanita yang ada dekat Reno.


“Justru lo itu antimainstream..”

__ADS_1


“Lo muji apa neghina si?” Protesnya.


Tiffany hanya tertawa senang. Meledek Aeris memang menjadi hobinya dari dulu. Tapi Tiffany bersyukur karena Aeris bisa menemukan tambang emas.


"Lo juga mending cari pacar deh.. Lo mau jadi perawan tua?"


"Sialan lo."


Sekarang gantian Aeris yang terkekeh karena Tiffany kesal. Berbeda dengan Aeris, Tiffany sangat mudah akrab dengan pria. Tapi tidak satupun yang Tiffany suka. Dia lebih suka bekerja mencari uang.


Ponsel Tiffany berdering mengakhiri perdebatan mereka berdua. Dia menunjukan layarnya pada Aeris. Bu Meri calling.. Aeris segera diam dan menunggu temannya untuk bicara pada atasan mereka.


"Ya Bu.." jawab Tiff segera. "Gimana bu? Apa tidak salah?" "Iya, baik bu..saya akan segera aturkan rapat."


Tiffany segera berteriak setelah telepon terputus. Dia begitu senang sampai membuat Aeris bingung.


"Kenapa si? Lo naik gaji?" tebak Aeris.


Tiffany menggeleng.


"Lo naik jabatan?"


Tiffany menggeleng lagi. "Si Bobby pakai jasa kita untuk pernikahannya.." teriak Tiffany senang.

__ADS_1


Deg. Aeris hanya mampu menelan ludah. Dia sudah bertekad untuk tidak datang pada pernikahan Bobby, tapi kenapa Bobby malah sengaja untuk memakai jasa EO nya? Kapan kisah ini sampai pada ending nya?


__ADS_2