Happy Ending?

Happy Ending?
Nasib Boy


__ADS_3

"Selamat ya Ris.." Ericka memeluk Aeris ketika menemui dia di bangku taman rumah sakit. Reno sedang bicara dengan Sam, jadi Aeris menunggu nya di bangku taman.


Aeris hanya bisa tersenyum canggung.


"Tenang saja, aku sudah melupakan Reno. Aku ga bisa memaksa kan perasaan aku ke dia." jelas Ericka. "Sorry juga karena waktu itu aku sudah bertindak egois."


"Ericka.." Aeris merasa tidak tega melihat Ericka. Pasti sulit jika cinta bertepuk sebelah tangan. Aeris sampai tidak tau harus bicara apa pada Ericka.


"Kapan kalian menikah?" tanya Ericka lagi.


"Mungkin 2 bulan lagi."


"Syukurlah.. Reno seperti nya sudah tidak sabar ingin punya anak sendiri."


Mereka berdua melihat Reno mendekat sambil menggendong Baby Sean. Anak yang Aeris kira adalah anak Reno. Di sebelah Reno juga tampak Cassie yang membawa tas bayi dan juga dokumen di tangannya.


"Halo kakak ipar." goda Cassie.


Lagi-lagi Aeris hanya bisa tersenyum. Dia masih belum percaya dengan semua ini. Sebentar lagi, dia akan menikah dengan Reno dan menjadi ipar Cassie. "Oh iya, selamat juga atas pernikahan mu dan juga atas kelahiran anak kamu." ucap Aeris untuk mengalihkan pembicaraan.


"Makasih..Aku tidak sebahagia itu." ada nada sedih dalam ucapan Cassie.


"Ehem.." Reno berdehem untuk mencairkan suasana yang tampak sangat canggung. Reno memberikan Baby Sean pada Aeris supaya Aeris tidak banyak bertanya lagi.

__ADS_1


Upaya Reno berhasil karena Aeris senang sekali bermain dengan Baby Sean.


"Nanti kita bikin yang lebih lucu dari ini.." bisik Reno.


"Renoooo.." Aeris mencubit pinggang Reno dengan tangan kanannya.


Semua tertawa kecuali Boy. Boy sejak tadi hanya diam melihat keakraban keluarga cemara di depannya.


"Sudah lah Boy.. Kamu bisa cari wanita yang lain." Hibur Sam yang baru saja muncul setelah mengganti baju prakteknya.


"Sam cariin dong.."


Sam melirik ke arah Ericka. Boy tau maksud Sam, hanya menelan ludah. Ericka memang cantik, tapi dia terlalu pintar. Dia lebih suka gadis polos yang sedikit ceroboh seperti Aeris atau Cassie.


"Kalau gitu gue sama Rea aja yaa.." Boy mengambil langkah seribu setelah mengatakan itu. Sam bisa membunuhnya dengan pisau operasi kalau sampai Boy menyentuh Rea.


***


"Aku sangat patah hati, Ae." Boy melepas kan tangan Aeris. Sejak ada Aeris di kantornya, Boy lebih bersemangat. Aeris juga mengatur jadwalnya, sehingga klien juga bertambah.


Sekarang Aeris bilang akan mengundurkan diri karena Reno tidak mengijinkannya bekerja.


"Makasi ya Boy untuk semua nya.. Lain kali jangan bohong lagi ya.." Aeris menekankan kata bohong pada Boy. Ya, Boy sebenarnya tau Reno tidak jadi menikah, tapi Boy sengaja tidak bilang karena dia ingin Aeris bekerja bersama dia.

__ADS_1


"Aku juga bisa bahagian kamu Ae.." Canda Boy.


"Jangan kurang ajar ya.." Sahut Reno. Sejak tadi dia hanya diam saja melihat adegan Boy dan Aeris.


Aeris mengancam Reno supaya diam dan tidak ikut campur, karena Boy sudah membantu nya selama ini.


"Kamu pasti akan bertemu dengan orang yang baik, Boy.." Hibur Aeris.


"Semua tergantung amal perbuatan." Sahut Reno.


"Kenapa anda sensitif sekali Pak Reno,, apa ga cukup kemarin anda sudah memukul saya?" Adu Boy pada Aeris.


"Ren, kamu pukul Boy?" Aeris beralih pada Reno. Dia ingat waktu itu Reno tidak mau menghajar Bobby, tapi kenapa sekarang dia menghajar Boy?


"Kamu ga luka kan?" tanya Aeris sambil mengecek badan Reno dari atas ke bawah.


Boy yang senang karena di perhatikan oleh Aeris, harus menelan pil pahit karena harapannya pupus sudah.


"Sudah lah kalian berdua mau bikin film di sini?" usir Boy yang sakit kepala melihat kemesraan Reno-Aeris.


"Makasih Boy sudah jagain jodoh orang selama ini." Ejek Reno sebelum dia pergi.


"Sabar Boy.. sabar.. ini bukan ujian, memang orang nya aja yang nyebelin."'ucap Boy pada dirinya sendiri karena pasangan baru itu sudah pergi.

__ADS_1


__ADS_2