Happy Ending?

Happy Ending?
Solusi


__ADS_3

Malam ini Reno mematikan ponselnya setelah menelepon Pak Herman. Pak Herman sudah mengirimkan file PDF tentang keuangan keluarga Tan dan juga perusahaan yang mereka miliki. Setelah melihat cukup lama, memang terjadi banyak sekali kecurangan di sana. Reno sebenarnya bisa saja menangani semua dengan cepat, tapi syarat yang diberikan terlalu berat.


Menikah dengan Ericka? Yang benar saja. Reno masih tidak percaya surat wasiat yang di buat oleh papanya.


Pikiran Reno sedang kacau sekarang.


"Tuan Reno, maaf.. Ini ada Pak Timothy di luar." Bi Inah memanggil Reno dari luar kamarnya.


"Suruh masuk ke kamar saja Bi."


Tim mungkin satu-satu nya orang yang netral dalam masalah ini.


Tim segera duduk di depan Reno tanpa di persilakan. Dia sedikit prihatin karena penampilan Reno yang kusut dan juga acak-acakan.


"Aeris menangis karena ponsel kamu mati." Lapor Tim. Dia tau masalah Reno sekarang, tapi Reno juga perlu tau keadaan Aeris.


"Lo bilang apa aja ke dia?"


"Tenang aja.. Gue udah sangat hati-hati dan bilang kalau lo ada urusan keluarga."


"What? Lo gila ya?" Reno bangkit dari kursinya. Tapi di detik berikutnya, dia kembali duduk karena Reno tidak dapat melakukan apapun.

__ADS_1


"Gue ga bisa ke Jepang besok. Lo yang berangkat."


"Dengan senang hati."


Reno melirik Tim curiga.


"Gue cuma mau ketemu Tiffany kok.. Bukan Aeris. Sambil menyelam minum air bro.. Santai.." Kata Tim menenangkan Reno.


"Tim, gue harus ngapain sekarang."


"Istirahat dulu Ren.. percuma kalau kamu bikin keputusan dengan kondisi seperti ini."


Dulu Reno bisa menjawab dengan enteng, bahwa dia tidak peduli. Dia bisa meninggalkan semua..tapi sekarang, dia punya fakta baru. Kecelakaan papanya memang bukan karena kecelakaan semata, tapi ada campur tangan orang lain dan bisa jadi itu salah satu anggota keluarganya. Harta itu bukan hal yang penting bagi Reno, toh dia juga punya ayah angkat yang kaya raya. Masalahnya adalah, Reno tidak rela jika orang-orang itu bersenang-senang dengan harta papa nya.


"Gampang aja sih.. Lo kerjasama dengan Aeris. Lo nikah aja sama Ericka 1 taun kek..setelah itu Lo bisa bahagia sama Aeris." "Win-win solution." Saran Tim dengan santainya.


"Lo memang ga waras."


"Come on Ren.. dunia ini penuh dengan tipuan.. Lo bisa nikah di surat aja tanpa harus ada perasaan."


"Gue ga bisa. Coba saran yang lain." Pinta Reno frustasi.

__ADS_1


"Yang satu ini mustahil si..cuma lebih manusiawi." Tim mendekat pada Reno, lalu membisikan sesuatu padanya. Reno mengangguk. Tidak seperti yang pertama, saran kali ini lebih masuk akal bagi Reno.


"Oke, tolong jagain Aeris di Jepang. Gue mau atur semua nya disini."


"Waktu kamu terbatas Ren.." ingat Tim.


Reno mengangguk. Dia segera menjalankan rencananya begitu Timothy sudah pergi.


***


Sementara itu di tempat lain, Ericka sedang mengepak barang-barang nya karena dia akan pergi ke Jepang untuk ikut dalam acara Marsha. Sebenarnya Ericka lebih senang untuk menemani Reno. Tentu saja, mendengar perkataan ayahnya tadi membuat Ericka bersemangat.


Ponsel Ericka berdering. Nomor tidak di kenal.


"Halo Rick.. bisa kita ketemu?"


"Reno? Nomor kamu ganti?" tanpa menyebutkan nama pun Ericka tau siapa yang meneleponnya.


"Aku tunggu di Cafe Milan sekarang."


Tut.. tut.. tut.. Reno mematikan sambungan sebelum Ericka menjawab.

__ADS_1


Ericka yakin pasti Reno ingin membahas surat wasiat papa nya itu. Ericka segera meninggalkan pekerjaannya untuk menemui Reno. Tidak lupa dia memoleskan lipstik dan menggunakan parfum nya. Dia sangat yakin kalau Reno pasti menyetujui pernikahan ini.


__ADS_2