Happy Ending?

Happy Ending?
Reno sakit


__ADS_3

Hari ini Reno bangun lebih siang. Dia merasakan tubuhnya tidak beres. Dia memegang dahinya, dan benar saja, dahinya panas. Akhir-akhir ini dia memang sering kehujanan karena naik motor. Pandangan Reno berubah ketika dia melihat beberapa panggilan tak terjawab di ponselnya. Lagi-lagi panggilan dari Pengacara keluarga Tan.


“Pak,, saya bawain sarapan..” teriak Bi Inah dari luar.


“Masuk aja Bi..”


Bi Inah masuk dengan nampan yang penuh makanan. Ada segelas susu almond, buah pisang, dan juga croisant kesukaan Reno. Dia melihat Reno sedang melamun. Wajahnya juga pucat.


“Pak Reno sakit?” Dia mendekat dan memegang dahi Reno. “Wah, panas pak.. Bi Inah panggil Dr.Andre ya..”


“Bi,, dari kemarin apa Pak Raden itu ke sini?”


Pak Raden adalah panggilan untuk Herman, alias pengacara keluarga Tan yang kaku. Reno menjuluki nya begitu karena dia memilki kumis tebal yang mirip dengan salah satu tokoh dalam film unyil.


“Oh iya, saya hampir lupa Pak.. kemarin dia ke rumah sebelum pak Reno pulang sama non Aeris.”


Reno hanya diam. Kenapa pengacara nya mencari dia sejak kemarin?


"Bi Inah ke bawah dulu ya pak.." pamit Bi Inah.


Reno mencoba mengalihkan pikirannya. Dia sudah alergi dengan apapun yang berhubungan dengan keluarga Tan. Dia mengambil ponsel di sampingnya, lalu mencari nama Aeris.


“Halo..” jawab suara di ujung sana.


“Sorry kemarin ga sempat tanya, kamu udah sampai di rumah?”


“Udah lah bapak.. Ya kali tidur di mobil kamu.” Canda Aeris.


Reno tersenyum kecil. Aeris sudah lebih santai dengannya, tidak sekaku dulu.


“Kamu sudah lebih baik?” Tanya Aeris tiba-tiba.


“Maybe..”

__ADS_1


“Kamu sakit?”


“Hmm,, mungkin kehujanan. Tapi it’s okay.. Er..” Reno mengurungkan niatnya untuk bicara. “Aku bisa minta obat ke Bi Inah..”


“Oke,, udah dulu ya.. aku masih ada kerjaan.”


Aeris memutuskan teleponnya, membuat Reno sedikit kecewa. Mungkin sibuk. Ucapnya dalam hati. Reno kembali menarik selimutnya dan mencoba untuk tidur. Tidak lama berselang, Reno merasa ada yang datang. Dia enggan membuka mata karena bisa jadi Bi Inah yang kembali membawa obat.


“Ren, kamu panas banget. Udah minum obat?”


Reno mencengkram tangan seseorang yang memegang dahinya. Tanpa buka mata pun dia tau siapa yang datang.


“Aku baik-baik aja.. Kenapa kamu ke sini?”


“Ya karena aku hubungi kamu sejak kemarin dan ga diangkat. Aku pikir ada sesuatu yg terjadi."


Kali ini Reno membuka matanya. Wajah Ericka terlihat sedikit panik. Tapi dia berbeda hari ini. Dia tidak mengenakan pakaian prakteknya. Dia menggunakan blouse hitam polos ketat dan celana jeans pendek. Pakaian itu membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas. Lelaki manapun pasti tidak akan memalingkan wajahnya jika Ericka berpenampilan seperti ini.


“Rick,, aku bukan Reno yang 10 tahun lalu. Dan kalau ada apa-apa, pasti Bi Inah telepon kamu.”


“Thank you.. tapi kamu juga punya kehidupan sendiri. Maksudnya, kamu bisa pakai hari libur kamu untuk jalan-jalan, kenapa malah ke sini?" oceh Reno.


“Pak Reno, maaf bibi ganggu, ini ada makanan dari non Aeris.” Bi Inah ikut masuk sambil membawa mangkuk berisi bubur panas dan roti isi selai srikaya.


Reno mengisyaratkan agar bi Inah membawa nampannya mendekat. Bi Inah yang awalnya hanya ingin menaruhnya di meja kerja akhirnya membawa nya ke depan Reno.


“Dia ke sini?”


“Enggak pakai grab.”


Reno mengangguk mengerti. Bi Inah segera pergi karena sepertinya Reno dan Ericka sedang berbicara sesuatu yang serius. Reno merasa batre di tubuhnya bertambah 50 persen ketika menatap makanan yang tersaji.


“Sebelum makan obat, aku mau makan dulu.” Dia mengunyah makanannya dengan santai, sementara Ericka memandang Reno dengan takjub. Seorang Reno Sebastian yang misterius bisa mengundang Aeris ke rumahnya.

__ADS_1


Tak lama ponsel Reno berdering. Aeris video calling.. tanpa menunggu lama Reno segera mengangkatnya.


"Sudah sampai ya... Get well soon Ren..”


“Thank you,, kenapa kamu beli roti srikaya?” Tanya Reno sambil tersenyum lebar.


“Ya, kamu kan pernah bilang katanya suka roti srikaya.. jadi aku beli deh.”


“Oke,,pasti aku makan.. makasi ya.. oke, kerja lagi yang rajin,, dan jangan jatuh lagi.”


Reno mengakhiri video callnya. Aeris memang antimainstream. Reno bahkan tidak ingat bahwa dia bilang kalau suka roti srikaya.


“Ini obatnya,,” Ericka menaruh beberapa obat di piring kecil lalu menaruhnya pada nampan di depan Reno. “Setelah ini, kamu bisa istirhat dan jangan naik motor dulu. Usahakan pergi naik mobil atau di antar sopir.”


“Oke.. i will try.. “ jawab Reno tanpa perlawanan.


Ini sungguh aneh. 10 menit yang lalu Reno terbaring dan ga punya semangat, tapi setelah itu dia terlihat segar bugar seperti orang sehat.


“Kamu bener, aku terlalu khawatir. Telepon saja kalau ada apa-apa.. aku balik dulu..” oceh Ericka.


“Oke, hati-hati,,,thanks..” jawab Reno dengan ramah. "Oh iya Rick.." panggil Reno lagi.


Ericka yang sudah siap pergi akhirnya berbalik dan mendekati Reno.


"Tolong bawakan itu ke bawah.." Reno menunjuk nampan berisi sarapan paginya yang tadi di bawa Bi Inah. Ericka menghela nafas panjang, antara lelah dan kesal. Lelah karena dia sudah secepat kilat pergi ke rumah Reno, dan kesal karena Reno malah menyuruhnya melakukan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan Bi Inah.


Ericka segera turun ke lantai bawah dan memberikan nampan yang tidak disentuh Reno pada Bi Inah.


"Saya pulang dulu Bi." pamit Ericka.


“Kok sebentar non?”


“Iya,, Reno butuh istirahat kan Bi..”

__ADS_1


“Iya bener non,, kemarin Pak Reno kumat lagi.. untung ada non Aeris.”


Ericka tersenyum mengetahui fakta bahwa ternyata obat yang dia kasih ke Aeris itu bisa berguna. Tapi di satu sisi dia sedikit kecewa, karena Reno biasanya akan segera menelepon dia ketika terjadi sesuatu.


__ADS_2