
Sudah sebulan setelah menikah, Aeris justru jarang bertemu dengan Reno. Pria itu bekerja dari pagi hingga malam. Sedangkan Aeris hanya di rumah bermalas-malasan. Dia hanya turun sesekali untuk mengobrol dengan Bi Inah, atau makan. Sisanya Aeris habiskan di kamar untuk menonton drama Korea.
Ternyata kehidupan orang kaya itu cukup membosankan. batin Aeris.
"Nyonya.. makan siang nya sudah siap." Bi Inah mengetuk pintu kamar majikannya.
"Makasi Bi..nanti aku turun." teriak Aeris.
Dia beranjak dari ranjang untuk makan siang. Di bawah, Bi Inah sudah menyiapkan banyak sekali makanan. Segala jenis daging ada di situ. Ayam goreng, udang goreng mentega, sop bakso rambutan, juga rendang. Jika ditanya, Bi Inah hanya menjawab jika Reno yang ingin supaya Aeris bisa memilih makanan yang dia suka.
"Bi, Ini mau kondangan ya?" canda Aeris.
"Ah, Nyonya Aeris nih.." "Cobain udangnya non.. ini kesukaan Pak Reno." Bi Inah menyendokan makanan itu ke piring Aeris.
"Enak bi.. Bi Inah harus ikut masterchef nih." ucap Aeris dengan mulut penuh makanan. Dia tidak lupa mengacungkan 2 jempol tangannya ke arah Bi Inah.
"Bi, bungkus kan ini dan sop nya. Aku ingin kirim ini ke Reno."
"Siap Nyonya, laksanakan." Bi Inah bersiap ke dapur, tapi belum ada 1 menit dia kembali lagi. "Tapi, Pak Sopir sedang cuti, nyonya."
"Gak apa-apa Bi.. Saya mau coba mobil dari Juna."
"Tapi nanti Pak Reno marah."
"Dia tidak akan marah, Bi." Aeris melanjutkan makannya sambil menunggu Bi Inah.
Dia ingin cepat-cepat pergi ke kantor Reno untuk memberinya kejutan. Reno pasti senang.
*
*
*
"RENO!"
Welcome to the world of the married. Cerita dongeng mengenai pangeran dan putri menikah dan hidup bahagia selamanya itu ternyata bohong. Drama baru kehidupan justru baru akan dimulai setelah pernikahan.
Itu yang Aeris rasakan saat membuka pintu ruangan Reno. Mata Aeris hampir keluar dari tempatnya ketika melihat Hana sedang memasangkan dasi untuk Reno.
__ADS_1
"Aeris." Reno sama terkejutnya dengan Aeris.
Dia segera menjauh dari sekretarisnya, lalu menghampiri Aeris yang terlihat shock dan sangat marah.
"Sayang, kamu ke sini sama siapa?" tanya Reno sambil memegang tangan Aeris, tapi Aeris langsung menepisnya.
"Jadi ternyata kamu betah sekali di kantor, karena ada dia." kata Aeris dengan suara tercekat. Tubuhnya juga bergetar karena menahan emosi. Aeris sungguh melupakan jika Reno punya sekretaris yang cantik.
"Nyonya, saya bisa jelaskan." Hana maju mendekat.
"Kamu pergi saja!" usir Aeris.
"Cepat keluar, Hana." tambah Reno.
"Tapi, anda ada meeting." Hana tampak enggan meninggalkan Reno.
"Batalkan saja."
Reno membuka pintu ruangan karena Hana tak kunjung pergi juga. Tatapan Reno membuat Hana takut. Dia tidak pernah melihat Reno sampai emosi seperti itu.
"Sayang.. ini salah ku. Aku yang meminta dia betulkan dasi." Reno kembali mendekat pada Aeris.
Aeris melengos ketika Reno akan menciumnya.
Reno menarik tangan Aeris. Dia menjepit pipi Aeris dalam kedua tangannya, sehingga mau tidak mau Aeris melihat wajah Reno.
"Kalau kamu pikir aku itu selingkuh, kamu salah." Aeris mencium bibir Aeris sekali. "Hana sudah punya suami." Reno kembali mencium bibir Aeris. "Kamu sangat cantik jika sedang kesal." terakhir Reno mencium nya lama dan lembut.
Kemarahan Aeris mereda karena terapi yang diberikan oleh Reno. Mata Reno memang tidak menunjukan kebohongan, tapi Aeris harus tetap waspada dengan wanita di sekitar Reno.
"Aku tidak akan memaafkan mu Ren kalau sampai kamu selingkuh." "Aku tidak suka menggunakan sendok yang sama dengan orang lain." ancam Aeris.
"Sayang, apa aku perlu ganti sekretaris?" Reno membelai rambut Aeris.
"Ya, itu lebih baik. Aku tidak ingin mengambil resiko."
"Ya sudah, aku akan bicarakan pada Hana nanti." "Kamu bawa apa?"
Aeris meletakan tas bekalnya di meja Reno. Reno kini sudah duduk di kursinya, menunggu Aeris selesai menyiapkannya makan.
__ADS_1
"Sayang, aku bosan sekali di rumah." keluh Aeris. "Boleh kah aku bekerja?"
Reno yang baru saja memasukan makanan ke mulutnya, otomatis tersedak mendengar perkataan Aeris. Aeris segera membuka kan botol mineral untuk suaminya, lalu menyodorkan supaya Reno cepat minum.
"Aku tidak ijinkan kamu bekerja, Ae." ucap Reno setelah batuk nya terhenti.
"Kenapa?"
"Kamu hanya cukup bermain saja dan habiskan uang ku. Untuk apa kerja? Aku tidak kekurangan uang." katanya santai.
"Wah, sifat Juna seperti nya menular." Aeris tampak kagum dengan perkataan suaminya yang notabene adalah Sultan.
"Ayolah.. hanya untuk kegiatan saja, sayang.." Aeris duduk di pangkuan Reno.
"Jangan kompromi Ae.." "Kamu bisa bermain dengan Tiffany atau dengan Rea." Reno tampak tidak mempedulikan permintaan Aeris dan hanya sibuk makan.
"Ya sudah, Ren. Aku pulang saja.. jangan pulang malam ya sayang.."
Aeris mencubit pipi Reno gemas.
Reno tersenyum senang karena Aeris sudah tidak marah lagi.
*
*
*
Aeris bertemu dengan Hana di depan. Dia sedang duduk sambil melamun.
Hana sampai tidak menyadari kehadiran Aeris yang telah duduk di depannya.
"Eh, nyonya.." katanya salah tingkah.
"Aku tidak tau kalau kamu sudah punya suami." kata Aeris ketus.
"Maafkan saya Bu. Tadi.."
"Reno sudah jelaskan semua."
__ADS_1
"Syukurlah kalau Ibu tidak salah paham." ucap Hana lega.
Aeris meneliti ekspresi Hana yang masih tampak sedih. Dia mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh karena tidak ingin terlibat lagi dengan wanita itu.