
Dua tahun kemudian
Aeris terburu-buru masuk ke dalam restoran Jepang sambil menatap jam tangannya. Dia tampil begitu cantik malam ini dengan menggunakan rok lilit batik yang di padu dengan blouse warna merah. Dia juga menggunakan make up membuat wajahnya lebih cerah dan glowing. Berkat didikan Boy, Aeris bisa kursus make up.
"Mba, atas nama Boy di mana ya?" Tanya Aeris pada salah satu pelayan.
"Mari.." Pelayan membawa Aeris ke sebuah meja yang berada di tengah.
Aeris tersenyum, lalu dia kembali sibuk dengan ponselnya. Dia mau protes pada Boy. Boy menyuruh nya untuk cepat datang, tapi malah Boy seenaknya saja bilang ada keperluan lain dan akan terlambat 30 menit.
Aeris beralih melihat buku menu sambil menunggu Boy. Dia tidak sadar jika ada sepasang mata yang sedang menatapnya dengan tajam sejak tadi.
30 menit menunggu, Boy tidak juga datang. Aeris dengan kesal mengaduk minumannya. Dia sangat bosan menunggu begitu lama. Dia memandang ke sekeliling dan matanya bertemu dengan seseorang yang sejak tadi menatapnya.
Aeris merasa tiba-tiba rasa dingin menjalar ke tubuhnya. Bibirnya tidak dapat bicara menatap sosok yang begitu tampan tepat di meja depannya.
"Reno." Akhirnya dia sadar, tepat saat Reno mendekat. Reno berubah sekarang. Dia mengubah gaya rambutnya dan itu membuat Reno semakin tampan. Dia melirik ke arah tangan Reno, tidak terpasang cincin.
"Apa kabar?" Tanya Aeris canggung.
***
Reno menatap wanita yang baru saja masuk. Dia begitu berbeda. Jauh lebih cantik dan terawat. Jerawat nya pun tidak terlihat karena wanita itu memoleskan make up. Reno menunggu beberapa saat sambil mengamati, siapa yang akan ditemui wanita itu. Rasa kesal meliputi hati Reno, tapi dia tidak bisa melakukan apapun. Dia hanya menatap nya begitu lama sampai, wanita itu menemukan keberadaannya. Reno terpaksa bangun, lalu menghampirinya.
__ADS_1
"Apa kabar?" Sebuah pertanyaan itu membuat Reno ingin berteriak pada nya. Reno mencoba bersikap cool, meskipun dia sangat ingin marah.
"Baik." Jawab Reno singkat.
"Bagaimana kabar istrimu?"
Kali ini Reno terdiam. Apakah ini sebuah prank atau dia benar-benar bodoh?
"Dia juga baik. Sangat baik." Jawab Reno dengan sedikit penekanan dalam nadanya.
Aeris tersenyum kaku. Dia begitu canggung sampai tidak tau akan bicara apalagi.
"Maaf ya Ren.." Kata Aeris menyesal.
"Di mana dia?" Tanya Reno sambil menggoyangkan bayi laki-laki yang sudah ada di pelukannya.
"Nyonya pergi ke outlet depan, katanya sebentar saja."
Ekspresi Reno berubah ketika dia berinteraksi dengan bayi lucu itu.
Aeris menyaksikan pemandangan itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia tidak menyangka kalau Reno bahkan sudah punya anak. Aeris menguatkan dirinya sendiri sambil berusaha menahan air matanya. Dia berharap bisa lari dari situasi ini.
"Kamu menunggu siapa?" Tanya Reno setelah sadar kalau Aeris masih di situ.
__ADS_1
"Aeris.. Sorry aku te.. Lat.." Boy yang baru masuk cukup terkejut mengetahui Reno ada bersama Aeris.
Kini giliran Reno yang terkejut melihat Boy datang. Reno tau Boy adalah teman Samuel. Dia juga menggunakan program milik Boy untuk beberapa perusahaannya. Apa hubungan Aeris dengan Boy?
"Boy, kita pergi saja.." Aeris memegang lengan Boy meminta tolong padanya supaya Boy setuju.
"Ren,, sorry, gue pergi dulu.." Boy berpamitan dengan terburu-buru pada Reno. Dia tau Aeris sebentar lagi akan menangis, jadi Boy merangkul pundak Aeris untuk menghibur sekaligus mengetes Reno. Tapi sampai mereka keluar pun, Reno tidak mengejar Aeris.
Aeris menangis sejadi-jadinya begitu masuk ke dalam mobil. Boy bingung bagaimana dia menanangkan Aeris. Dia pasti mengira Reno sudah menikah dan punya anak. Kenapa Reno diam saja dan tidak menjelaskan semuanya?
Ponsel Boy berdering. Reno calling.. Boy terpaksa mereject telepon dari Reno tanpa peduli setelah ini Reno akan marah besar.
"Udah dong Ris.. Nanti tenggorokan kamu sakit."
"Dia jahat Boy.." Ucap Aeris sesunggukan. "Dia bahkan udah punya anak." "Gue ga ada, artinya untuk dia."
"Ae..Katanya kamu mau move on..kenapa belum bisa move on dari Reno?"
"Ya karena gue sayang sama dia Boy.. Lo gimana si.. Cowo memang ga peka." Omel Aeris.
"Ya lagian sih.. Lo nya yang pergi..cowo itu bukan mahkluk super yang bisa tau jalan pikiran cewe.. Lo hrsnya ngomong sama dia."
"Huaaaa.. " Aeris menangis lebih keras. Jika lebih lama bersama Aeris, Boy bisa terkena penyakit jantung atau gendang telinganya rusak.
__ADS_1
"Ayo kita ke taman.. Aku beliin kamu es krim."