
Malam ini Reno tidak bisa tidur, terlebih ketika dia menelepon Aeris dan ponsel nya tidak aktif. Reno lalu beralih menelepon Tiff dan ponsel nya juga tidak aktif.
Apa aku ke sana saja ya? Batin Reno.
Dia memandang jam di ponselnya. Jam sudah menunjukan pukul 12 malam. Ini sudah terlalu larut untuk pergi ke tempat Aeris. Tapi, sedetik kemudian, Reno memutuskan untuk bangun dari ranjang, lalu buru-buru turun ke bawah.
Bi Inah yang mau pergi ke toilet sampai di tabrak oleh majikannya.
"Mau ke mana Pak?"
"Keluar sebentar, Bi."
Reno menjalankan motornya secepat mungkin. Jarak yang harusnya di tempuh dalam waktu 20 menit, hanya perlu separuh nya untuk Reno sampai ke rumah Aeris. Rumah itu sudah gelap. Sudah pasti mereka tidur.
Reno duduk di bangku depan. Perasaannya sangat tidak enak, tapi tidak mungkin dia mengetuk rumah Aeris saat ini. Di tengah kebingungan nya, Reno akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
Tak lama pintu terbuka. Ibu Aeris keluar sambil menguap.
"Oh, Reno, kenapa?"
"Apa Aeris ada Bu?"
"Lho, katanya Aeris ada kerjaan di luar kota. Baru 2 jam yang lalu dia pergi."
'Pergi?' Reno menangkap sinyal buruk.
Dia berpamitan pada Ibu Aeris tanpa banyak bicara lagi.
Tiba-tiba ponsel Reno tiba-tiba berbunyi. Pesan suara dari Aeris.
"Reno.. Maaf.. Aku pergi. Seperti yang sudah aku bilang, kita berbeda jauh bagai langit dan bumi. Aku tau kamu orang yg baik, tapi kenapa kamu ga pernah cerita soal ini? Kenapa aku harus dengar dari orang lain? Rasanya seperti kisah Bobby terulang lagi. Semoga kamu bahagia dengan Ericka dan semoga semua lancar. Aku juga akan hidup dengan baik."
Reno bagai tersambar petir mendengar pengakuan dari Aeris melalui pesan suara. Aeris sudah tau tentang pernikahan dengan Ericka, tapi bagaimana bisa?
Reno menelepon Aeris berulang kali dan hasilnya tetap sama. Tidak aktif.
Dia beralih ke nomer lainnya, untuk menghubungi Tim.
__ADS_1
"Tim cepet cari Aeris. Dia menghilang."
"Maksudnya?" Tanya Tim bingung.
"Dia pergi karena tau aku menikah dengan Ericka."
Reno segera mengakhiri percakapannya dengan Tim. Dia, harus bergerak cepat. Setelah itu, Reno kembali menelepon orang yang mungkin bisa menemukan Aeris.
"Melacak apa? CCTV di jalan?" Sam hampir saja tertawa mendengar permintaan Reno, tapi dia urungkan karena Reno benar-benar panik.
"Ren, aku sekarang sudah jadi dokter.. Dan meretas CCTV itu ga semudah di film-film. Kalau aku ketauan, aku bisa di penjara." Jelas Sam dengan hati-hati.
Mendengar penjelasan Sam yang masuk akal, Reno tidak memaksa Sam lagi.
Dia sekarang pergi dari rumah Aeris lalu menjalankan motor nya dengan kecepatan di luar nalar, dan kali ini dia pergi ke rumah Ericka untuk meminta penjelasan. Sudah pasti Ericka yg memberitahu Aeris.
Ericka sudah tertidur ketika Reno datang dan berteriak-teriak.
"Ada apa Ren?"
"Pasti kamu yang kasih tau Aeris. Dan dia kabur." Tuduh Reno kesal.
"Ren, gak mungkin Aeris kabur."
Reno mencengkram lengan Ericka dengan kuat. Dia begitu kesal sampai tidak dapat mengendalikan emosinya. Ericka berusaha tetap tenang meskipun kuku Reno saat ini menancap kuat di kulitnya.
"Rick, lo temen gue dari kecil. Lo tau pasti siapa yang gue suka. Kenapa lo tega."
"Reno.. Kamu tenang dulu. Ini hanya salah paham."
"Dia pergi Rick.." Reno terduduk lemas di lantai.
Ericka tidak pernah liat Reno sepanik dan sefrustasi ini. Dia bahkan sampai menangis.
Ericka berjongkok supaya sejajar dengan Reno.
"Kalau dia pergi berarti dia itu tidak suka kamu Ren.." Ericka memegang tangan Reno, tapi Reno segera menepisnya.
__ADS_1
Reno berjalan keluar, tanpa mempedulikan Ericka lagi. Dia tidak akan mendapat solusi di sini dan bicara pada Ericka hanya akan memperkeruh pikirannya.
"Reno.. Ren.." Ericka mengejar Reno tapi Reno sudah pergi mengendarai motornya dengan kecepatan yang tinggi.
***
'Argh' Reno menyapu semua meja kerja nya membuat laptop, jam dan yang lainnya jatuh dan pecah.
Bi Inah berlari ke atas bersama sopir Reno begitu mendengar keributan. Bi Inah berteriak panik karena ruangan Reno berantakan dan juga tangan Reno berdarah.
"Pak Reno kenapa?" "Cepat telepon Pak Dimas atau non Cassie." Suruh Bi Inah pada sopir Reno.
Sementara Bi Inah pelan-pelan mendekati Reno.
Reno sudah seperti anak sendiri untuk Bi Inah, jadi dia sangat sedih dan takut kalau Reno bertindak seperti ini. Apa masalah dia sampai Reno begitu frustasi?
"Ayo pak.. Kita ke sini saja.. Biar bibi bereskan." Bi Inah memegang tangan Reno dan membantu nya untuk pindah ke ranjang.
"Dia pergi bi." Ucap Reno sedih.
"Siapa? Non Aeris?"
Reno mengangguk. Dia teringat kembali kata Ericka jika Aeris memang tidak suka padanya.
Tapi kalau Aeris sudah tau pernikahan ini, kenapa dia tidak bertanya langsung padanya seperti dulu dia melabrak Bobby dan Megan? Kenapa harus kabur?
Reno lalu tertawa putus asa. Bi Inah semakin khawatir takut majikannya benar-benar stress.
"Apa bibi perlu panggil Non Ericka?"
"Jangan sebut nama itu lagi." Bentak Reno.
Dia kemudian merebahkan badannya di ranjang,sementara Bi Inah mengobati luka di tangan Reno.
"Pak, bibi yakin Non Aeris adalah wanita yang baik. Dia pasti punya alasan."
"Sudah berakhir bi.."
__ADS_1
Reno mencoba menutup matanya. Dia tidak ingin ada hari esok. Impiannya buyar sudah.