Happy Ending?

Happy Ending?
Membawa Aeris ke dokter


__ADS_3

Tiffany hampir saja pingsan melihat Aeris menangis sesenggukan. Luka Aeris juga makin parah. Dia menatap Reno dengan tatapan seakan ingin membunuh Reno. Hanya Reno yang ada di sini, jadi pasti penyebab Aeris menangis adalah Reno.


“Bukan aku, Tiff." "Sekarang lebih baik kita bawa Aeris ke rumah sakit."


Tiffany menyadarkan dirinya kembali dan berfokus pada Aeris. Dia membantu Aeris untuk bangun. Dia juga memapah Aeris yang jalan dengan satu kaki berjinjit.


Reno mengambil tas Aeris dan mengikuti mereka dari belakang. Jarak untuk menuju pintu keluar memang agak jauh. Aeris berjalan dengan sangat pelan sehingga memakan waktu 10 menit. Para tamu undangan sudah mulai keluar juga. Ingin rasanya Reno menggendong Aeris supaya lebih cepat, tapi dia ingat Aeris pasti sedang trauma.


“Tiff, aku naik motor saja. Bawa Aeris ke rumah sakit Husada. Kamu pakai taksi saja." Reno mengeluarkan beberpa lembar uang 100 ribuan. Tiffany menerimanya, dan belum sempat dia bicara sama Reno, pria itu sudah kabur lebih dulu.


“Sebenernya niat ga sih bantuin.” Omel Tiffany.


Aeris sejak tadi hanya diam. Dia tidak mendengarkan Reno atau Tiffany. Dia hanya kesakitan dan pikirannya kosong.


“Ris, kok lo bisa gini sih..” ucap Tiffany sedih. Akhir-akhir ini Aeris sangat sial.


Sesuai dengan perintah Reno, Tiffany membawa Aeris ke rumah sakit Husada.


***


Tiffany dan Aeris sampai di rumah sakit Husada. Reno sudah sampai di sana lebih dulu. Dia menunggu mereka di depan pintu masuk. Aeris sudah jauh lebih tenang. Dia sudah berani melihat Reno.


"Aku sudah daftar.. sebentar lagi di panggil.."


"Emang kamu punya data Aeris?" Tanya Tiffany bingung.


"Udah lah, yang penting cepet kan."


Betul juga kata Reno. Mereka menuju ruang tunggu. Beberapa orang melihat ke arah Reno, lalu berbisik. Yah, Reno memang terlihat tampan malam ini.


Ponsel Tiffany berdering. Bu Meri telepon. Dia lupa kalau belum ijin Bu Meri.


"Halo Bu.. iya... saya di rumah sakit sama Aeris.. gimana bu? Oh iya.. sebentar ya bu.."

__ADS_1


Tiffany mendengus kesal sambil menutup teleponnya. Dia lalu memandang Reno dan Aeris.


"Ris.. gue harus balik ke sana. Lo gak apa-apa sama Reno?"


Aeris hanya mengangguk pelan. Dia tidak mau Tiffany kena masalah karena dirinya. Lagipula tempat ini ramai, dan tidak mungkin Reno macam-macam.


"Kamu jangan macam-macam sama dia. Aku laporin polisi kalau terjadi sesuatu sama Aeris." Ancam Tiffany.


"Apa perlu lo pegang ktp gue?" Reno mengeluarkan ktp nya.


Dasar Tiffany, dia benar-benar mengambil ktp Reno. Dia lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Tidak lama, mereka di panggil. Reno memegang tangan Aeris dengan lembut. Dia seperti menuntun anak kecil yang sedang belajar jalan.


Dokter paruh baya di dalam tersenyum saat melihat Reno.


"Apa kabar Reno?" Sapanya.


"Sudah lebih baik om." Sebelum di suruh, Reno menaruh Aeris di ranjang pasien.


"Teman Reno jatuh dari tangga."


"Kalau ini kenapa? Kamu berantem?" Dokter itu melihat kondisi pipi Reno yang lecet.


"Kapan sih om Reno pernah berantem sama orang." Reno membanggakan dirinya sendiri. Dia memang good boy. Dia tidak akan membalas orang yang memukul nya, karena dia tau orang itu akan mati kalau dia balas.


"Coba saya cek dia dulu." Dokter itu memegang pelan kaki Aeris yang biru kehitaman. Dia menekan di beberapa bagian, dan itu membuat Aeris meringis.


"Syukurlah ga ada yang patah, cuma keseleo saja. Nanti saya bikinkan resep ya.. obat anti radang dan antibiotiknya."


Dokter itu menuliskan sesuatu, lalu memberikan nya pada Reno.


"Sana, kamu ambil obat nya dulu.. biar dia di sini. Kasian dia kalau jalan-jalan terus." Suruh nya pada Reno.

__ADS_1


Reno segera pergi untuk menebus obat Aeris.


Aeris tersenyum pada dokter itu. Dia melihat nama tag di jubahnya, Dr.Andre. Reno pasti dekat sama dia karena dia bilang Dr.Andre dengan sebutan om.


"Siapa nama kamu?"


"Saya Aeris dok."


"Kamu pasti dekat dengan Reno. Tadi Reno panik sekali waktu telepon saya."


Aeris hanya tersenyum. Reno tidak bisa di bilang dekat, tapi dia selalu ada waktu Aeris kesulitan.


"Saya EO yang mengurus pernikahan Reno kemarin." Aku Aeris.


Dokter Andre mengangguk pelan. "Saya teman papa Reno. Saya kenal Reno dari dia kecil. Dia anak yang baik tapi dia suka menyendiri." Jelas Dokter Andre.


"Ya, dia cukup aneh."


Dokter Andre tertawa keras. Gadis ini sangat jujur. Reno memang sedikit aneh. Dokter Andre lalu menceritakan semua kebiasaan Reno. Dulu Reno hobinya ketiduran di bath tub. Lalu pernah Dokter Andre melihat Reno pura-pura pingsan karena tidak mau pergi dengan Dimas. Belum lagi Reno sengaja beli bubble wrap 100 meter untuk dia mainkan pletekannya di kamar sendiri. Mendengar cerita Dokter Andre Aeris tertawa cekikikan. Reno tampan, tapi gila juga.


Reno akhirnya datang. Dia mendapatkan Aeris sudah tertawa bahagia dengan Dokter Andre. Dia sedikit curiga pada mereka.


“kalian ngomongin apa?”


“Kami ngobrol biasa aja sih,, ada cerita lucu. Kamu sudah ambil obatnya?” Dr. Andre kembali ke kursinya.


Reno menunjukan plastik biru di tangannya. Dia menghampiri Aeris untuk mengajaknya pulang.


“Aku bawa motor. Kamu mau naik grab?” Tawar Reno.


“Emm,, motor aja gak apa-apa.” Jawab Aeris mantab. Dia takut kalau naik grab atau taksi sendiri.


“Om, makasi ya Om..“ pamit Reno.

__ADS_1


“Oke,, kalian hati-hati ya.. Cepat sembuh Aeris."


__ADS_2