
Seminggu kemudian
Aeris akhirnya bisa menghirup udara selain di kamar kostnya. Sudah seminggu ini dia tidak berniat untuk melakukan apapun. Bahkan untuk sekedar makan dan mandi saja Aeris tidak ingat. Reno sangat berpengaruh di hidupnya sampai dia selalu menangis hanya dengan memikirkan nama Reno Tan.
Sekarang Aeris harus mencari kerja jika tidak ingin jadi gelandangan. Aeris memandang kantor di depannya dengan takjub. Kantor By-tech bukan yang tertinggi, tapi kantor itu cukup menarik seperti Turning Torso di Swedia versi mini.
Aeris masuk dengan percaya diri dan dia langsung ke meja resepsionis.
"Saya ingin bertemu dengan Pak Boy."
"Apakah anda sudah membuat janji?" tanya nya.
"Sudah, dia bilang saya harus ke kantor jam 8 pagi."
"Baik, gunakan ini untuk masuk, dan ruang kerja Pak Boy ada di lantai 3." Resepsionis tadi memberikan Aeris sebuah kartu seperti kartu e-toll. Aeris berjalan menuju pintu palang di samping nya. Dia menempel kan kartu nya pada sebuah kotak hitam di depan palang. Dan otomotis pintu terbuka.
Namanya juga perusahaan teknologi. Batin Aeris. Dia heran karena baru pertama kali melihat kantor dengan sistem seperti yang biasa dia lihat di film-film Korea.
Aeris masuk ke lift sambil meregangkan jari-jarinya. Dia gugup karena sudah lama dia tidak interview.
Lantai 3 begitu sepi. Dia langsung melihat sebuah pintu di depan lift.
Di depan pintu, ada seorang wanita dengan rambut biru yang tampak sedang menggunakan lipstik.
__ADS_1
"Permisi, saya ingin bertemu dengan Pak Boy." Kata Aeris ramah.
Wanita itu hanya melirik, lalu melanjutkan kegiatannya. "Boy tidak ada. Mungkin dia masih tidur."
Aeris memutar bola matanya.
Pertama,wanita itu memanggil Boy dengan namanya saja. Dan kedua, dia bingung kenapa Boy belum datang padahal kemarin dia yang membuat janji.
"Bisa saya menunggu dia?" Tanya Aeris lagi.
"Ya, berdiri saja di situ."
"Apa kantor ini tidak punya tempat duduk atau ruang tunggu? Aneh sekali.." protes Aeris dengan suara lirih.
Wanita tadi langsung membereskan make up nya lalu cepat-cepat berdiri.
Melihat perubahan wanita itu, Aeris menengok ke belakang.
Dia hampir saja pingsan mengetahui siapa yang berdiri di belakangnya. Pria berwajah Korea dengan tubuh ramping dan rambut warna hijau abu-abu.
Pria itu tersenyum pada Aeris dan Aeris membalasnya dengan anggukan.
Ya, pria nyentrik itu adalah pria yang Aeris cari tadi. Awalnya Aeris ragu ketika Boy memperkenalkan dirinya sebagai CEO, tapi sekarang dia benar-benar ada di sini.
__ADS_1
"Senang sekali pagi-pagi sudah digosipin 2 orang." Kata Boy santai.
Aeris menelan ludahnya. "Maaf pak Boy.." sesal Aeris.
Sedangkan wanita tadi hanya menyibakkan rambutnya tanpa peduli.
"Ayo masuk nona.." Boy menempelkan sidik jarinya, dan pintu langsung terbuka.
"Jess, tolong lebih ramah lain kali." omel Boy sebelum masuk.
Ruangan Boy begitu luas. Hanya saja, ada yang aneh dari ruangan itu. Aeris memang melihat meja kerja di sana, tapi sekeliling ruangan ini lebih tepat di sebut tempat bermain Timezone. Ada beberapa mesin yang Aeris tau, seperti mesin dance revolution, mesin capit boneka yang isi nya boneka anime, dan mesin dingdong.
"Gimana? Bagus kan?" Kata Boy bangga.
Dia duduk di kursi kebesarannya sambil berputar ke kanan dan ke kiri.
"Eh, iya deh bagus.." Aeris merasa salah masuk tempat.
"Jadi, kamu setuju kerja di sini?"
"Emm.. Tapi saya cuma lulusan SMA pak. Seperti yang saya bilang kemarin.."
Boy tertawa. Dia mengingat kembali bagaimana dia bisa bertemu dengan Aeris.
__ADS_1