
Mobil lexus putih itu sudah terparkir rapi di tempatnya. Bi Inah kaget setengah mati melihat Reno pulang di papah oleh dokter pribadinya. Dr. Ericka adalah dokter yang ditunjuk oleh orang tua Reno. Dia sudah terbiasa menghadapi panggilan darurat dari Reno, jadi ketika harus membwa Reno pulang, dokter itu sudah tau di mana Reno beristirahat. Mereka naik ke lantai 2. Ericka menaruh Reno pelan di ranjang.
“Aku sudah taruh obatnya di mobil, jadi kalau kamu kumat lagi, kamu ga perlu panggil aku.” Pesan Ericka.
“Thank you ya.. besok aku ke tempat praktek kamu.”
“Santai lah,, aku audah di bayar mahal sama om Dimas.”
Reno tertawa kecil.
“Istirahat dulu aja,, jangan kebanyakan mikir.”
Ericka mengambil ponsel Reno dan menekan tombol off. Dia lalu pergi meninggalkan Reno di kamar.
Bi Inah yang baru saja mau membawa minum jadi terhenti melihat Ericka yang mau pergi.
“Kok cepet non?”
__ADS_1
“Iya Bi,, Reno sudah baikan dan dia butuh banyak istirahat.” Ucapnya sambil tersenyum.
Bi Inah menangguk paham. Dia lalu mengajak Ericka turun untuk mengantar wanita itu. Sejak dia kerja, hanya ada beberapa Orang yang datang ke rumah ini. Salah satunya orang tua Reno dan juga Dr.Ericka yang notabene teman masa kecil Reno. Bahkan Sandra pun hanya satu kali datang ke rumah Reno. Reno memang tidak berencana untuk memakai rumah ini bersama Sandra, karena dia sebenarnya sudah membeli rumah lain, dan rumah ini digunakan untuk tempatnya ketika ingin sendirian.
“Oh iya bi, tadi Reno pergi sama perempuan. Apa dia sudah dapat ganti nya Sandra?” Tanya Ericka tiba-tiba.
“Wah, saya ga tau non.. tadi Pak Reno bilang mau pergi makan siang sama teman.”
Ericka tersenyum lagi dan memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh. Dia segera pamit sama Bi Inah karena masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan.
***
Dan Dokter itu, sama saja. Dia tidak memikirkan Aeris. Menyebalkan sekali.
Aeris menatap ponselnya dengan resah. Dia menunggu pesan dari Reno. Apakah pria itu tidak minta maaf padanya? Atau, dia sudah mati sekarang? Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Aeris. Tanpa sadar dia jadi khawatir sama Reno. Dia memberanikan diri untuk menelepon Reno.
‘nomor yang anda hubungi, sedang berada di luar jangkauan.’
__ADS_1
Pesan suara. Mungkin Reno sedang bersama dokter itu. Pikir Aeris lagi. Dokter Ericka terlihat seperti model. Dia tinggi langsing, dan ada lesung pipi yang menambah nilai plus. Apakah Ericka dokter syaraf? Atau dokter jantung? Kenapa dia begitu muda? Setaunya dokter jantung pasti bapak-bapak dan berkacamata.
“Mikir apa sih gue.” Aeris memukul mukul kepalanya sendiri.
Dia harus istirahat sekarang karena besok dia sudah kembali bekerja, dan Bu Meri sudah telepon kalau Aeris harus siap jam 7 pagi untuk menemaninya bertemu dengan klien.
Baru satu menit mencoba tidur, tiba-tiba ponsel Aeris berdering dan dengan segera Aeris dengan semangat mengangkatnya.
"Ris.. Tadi telepon kenapa? Gue lagi ke toilet tadi." ternyata Tiffany yang menelepon.
"Enggak,, tadi acara makan siang nya kacau. Tiba-tiba Reno sakit dan dia suruh gue pulang sendiri." curhat Aeris.
"Astaga.. kenapa? sakit apa?" tanya Tiffany kepo.
"Mana gue tau.. misterius banget si Reno."
"Sabar aja deh bu.. kan kalau di drakor yang misterius gitu justru menarik."
__ADS_1
"Mulai lagi ngomong drakor.. udah ah.. gue mau tidur.. Besok Bu Meri minta aku datang pagi." Aeris mencoba menghentikan imajinasi Tiffany sebelum sohibnya makin banyak cerita.
"Oh iya.. oke.. besok itu klien VIP.. Siap-siap ya.."