
Aeris meletakan sebuah boneka beruang kecil pada ranjang yang masih kosong. Dia menatap ke seluruh ruangan. Ruangan ini begitu sempurna. Dindingnya di beri wallpaper pink, disudut ruangan ada satu lemari kaca yang di isi dengan baju-baju bayi yang sudah disusun rapi, dan di sampingnya ada meja dan kursi kecil yang juga bewarna pink. Reno juga meletakan beberapa mainan dan boneka- boneka besar untuk anak mereka yang berjenis kelamin perempuan itu.
"Sayang, kamu belum tidur?" Reno muncul dari balik pintu. Dia memeluk Aeris dari belakang, dan satu tangannya sibuk mengusap perut Aeris yang sudah membesar.
"Aku masih ingin di kamar Baby V." jawab Aeris sambil mengusap pipi Reno.
"Aku sendirian di kamar." bisik Reno.
Aeris tau kode yang diberikan Reno. Dia berbalik untuk menatap suaminya yang tampak sedih itu.
Sejak hamil, Aeris memang sedikit lebih cepat lelah. Dia lebih banyak tidur dan membuat Reno sering frustasi karena tidak bisa melakukan kegiatan rutin mereka.
"Ren.. terima kasih ya.." ucap Aeris yang sungguh menghargai kesabaran Reno.
"Apa kamu bahagia?"
"Tentu saja.. kamu suami yang sangat hebat." Aeris mengacungkan 2 jempolnya.
"Ayo, sekarang kita tidur. Tapi aku tidak bisa gendong kamu karena kamu sudah berat."
Reno menggandeng Aeris keluar. Tapi baru satu langkah, Aeris menahan tangan Reno.
"Ren, kita harus ke rumah sakit." kata Aeris panik. Dia merasakan perutnya mulai mulas dan bukan itu saja, Aeris melihat cairan bening yang mengalir ke kakinya.
"Kamu mau lahiran?" teriak Reno juga mulai panik.
"Perutku sakit, Ren.. cepat." Aeris memukul lengan Reno.
"Kita panggil Bi Inah. Tunggu, sopir sedang cuti." "Aku harus gimana?" Reno bicara sendiri karena dia tidak tau harus bagaimana.
"Turun dulu. Ambil kunci mobil, lalu setir sampai rumah sakit." teriak Aeris sambil mengatur nafasnya. Dia juga panik karena perkiraan dia melahirkan masih minggu depan.
Reno membawa Aeris turun. Dia secepat kilat membantu Aeris masuk ke bangku belakang.
"Siapa yang menyetir, Ren?"
Reno yang sudah duduk di sebelah Aeris segera tersadar jika bangku kemudi masih kosong. Sialnya sopir Reno libur hari ini. Jadi mau tidak mau Reno yang harus menyetir ke rumah sakit.
__ADS_1
"Cepat Ren.. aku tidak tahan lagi." perintah Aeris yang semakin berteiak kesakitan.
"Obat aku? aku harus minum obat dulu." cerocos Reno. Tapi, tangannya sudah mulai menyalakan mesin mobil. Sudah tidak ada waktu untuk mencari obat nya.
Sepanjang perjalanan mereka hanya berteriak karena panik. Aeris berteriak kesakitan, sedangkan Reno berteriak menguatkan diri sendiri supaya bisa menyetir dengan aman sampai ke rumah sakit.
*
*
*
Dokter dan perawat segera membawa Aeris ke dalam ruang persalinan. Reno berada di samping Aeris untuk membantunya, karena Reno lupa untuk membangunkan Bi Inah. Seharusnya, mereka sudah merencanakan jika nanti Bi Inah akan ikut ke rumah sakit untuk menemani Aeris. Tapi realitanya, Reno melupakan segala rencananya. Jadi, dia yang harus bertanggung jawab menemani Aeris.
"Sayang, ayo.. kamu pasti bisa." Reno memegang tangan Aeris.
"Ayo, nyonya.. fokus ya.. tarik nafas dalam-dalam.." ucap Dokter sembari mengarahkan Aeris.
Aeris mencengkram tangan Reno kuat-kuat karena rasanya begitu menyakitkan.
"Dok, apa ga bisa caesar saja?" tanya Reno yang tidak tega.
"Terlambat, Pak." jawab perawat di samping Reno.
"Kalau saya bilang mengejan, kamu harus mengejan dengan kuat ya.."
Aeris harus mengulangi hal itu beberapa kali, sampai akhirnya mereka bisa mendengar suara tangisan bayi.
"Selamat nyonya dan tuan.. anak kalian sudah lahir." Dokter menunjukan bayi merah yang menangis dengan kencang.
"Ren,, anak kita.." Aeris menangis terharu. Dokter memberikan bayi itu untuk di susui ibunya.
"I love you, Aeris." Reno mengecup dahi Aeris sambil memandangi anaknya yang tampak sehat dan lengkap.
"Welcome Baby V."
"Saya pindahkan dulu ya.." Suster mengambil bayi itu setelah dia menyusu dan diam.
__ADS_1
"Kakak ipar... selamat ya.." Cassie menyeruak masuk bersama dengan suaminya yang berwajah datar.
Di belakang mereka, ada Sam yang masuk dengan masih menggunakan pakaian dokternya.
"Selamat Bro..Ternyata bukan Reno junior.. tapi Aeris mini." Canda Sam.
"Apa kamu ingin juga, dokter?" Reno menyenggol lengan Sam. "Cepatlah bikin cerita mu dengan Rea." kali ini Reno dapat memanuver keadaan.
"Apakah rasanya begitu sakit?" tanya Cassie pada Aeris. Dia tidak mempedulikan percakapan bapak-bapak itu dan lebih tertarik dengan cerita Aeris. Ya, Cassie melahirkan dengan Caesar, jadi dia tidak merasakan seperti Aeris.
"Luar biasa. Kalau boleh juga aku pilih Caesar saja." jawab Aeris sambil tertawa.
"Oke deh, pilihan ku sudah tepat." kata Cassie cepat.
"Ya sudah lah.. kalian keluar dulu. Aeris butuh istirahat." "Besok saja kalian menengok Baby Valerie." Reno mendorong Adiknya keluar dan otomatis membuat kedua pria yang mengikutinya pun segera keluar.
Kini hanya Aeris dan Reno di dalam kamar.
"Love you, sayang.." Reno mengambil tangan Aeris yang masih tampak kelelahan.
"Kamu sudah bilang itu tadi."
"Aku tidak tau apa lagi yang harus ku katakan." Reno mendekat untuk mengecup bibir Aeris.
"Dulu aku pikir, ketika kita menikah, itu adalah endingnya.. tapi ternyata it,s not the ending Ren..Kita harus lewatin banyak hal dalam pernikahan, dan sekarang kita juga harus membuat cerita baru dengan anak kita.."
Reno mengangguk setuju dengan perkataan Aeris. Sampai saat ini, cerita mereka memang tampak sangat bahagia. Tapi ini bukan endingnya. Reno dan Aeris harus melalui tahap berikutnya yaitu menjadi orang tua untuk anak mereka, Valerie.
-------------- The end ----------------
*
*
*
(Sekian dulu cerita Aeris dan Reno.. Terima kasih sudah memberikan dukungan... Author akan lanjut pada kisah yang baru.. karena sudah banyak tokoh yang antri ingin ditulis kisahnya... Silakan mampir ke karya-karya selanjutnya.. Terima kasih atas dukungan kalian gaesssss.. Love you so much😘😘)
__ADS_1