
Elsa mendongak ke atas melihat siapa orang yang bermurah hati telah menolongnya itu. Elsa awalnya berniat untuk mengambil es boba yang begitu menggiurkan dan menggoda dahaganya.
Elsa tidak tahu sihir apa yang membuatnya menatap pria itu dengan lekat, ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dalam hatinya. Jantungnya pun berdetak kencang ketika melihat senyuman pria yang berdiri tegak di hadapannya sejak tadi sambil menawarkan segelas minuman dingin kesukaannya.
Tetapi, ia segera menghentikan hal tersebut karena, mengingat pria yang menawarkan minuman dingin untuknya adalah orang yang pertama kali bertemu dengannya.
"Ya Allah... siang ini kok panas banget yah, sepertinya minuman dingin mampu membuat dahagaku hilang," lirihnya Elsa hingga tatapan matanya melongok tak percaya melihat ada tangan seseorang yang menyodorkannya padanya segelas minuman dingin dengan boba ciri khasnya.
"Semoga minuman ini bisa menghilangkan sedikit rasa gerahmu," imbuh orang itu yang sama sekali tidak dikenal oleh Elsa karena ini pertama kalinya bertemu dengan orang itu.
"Kok minumannya enggak diambil apa kamu tidak suka?" Tanyanya yang masih berdiri di depannya Elsa Safira Nadine Renaldi.
Elsa berusaha untuk menghilangkan godaan minuman tersebut dari pikirannya dengan tersenyum tipis," Maaf saya tidak kenal Anda jadi saya tidak punya alasan untuk menerima pemberian Anda," tolaknya secara halus.
"Ohh gitu, kalau begitu kita kenalan dulu supaya kamu tahu siapa aku sebenarnya dan kamu tidak akan takut dan ragu menerima pemberian ku ini," pungkasnya pria itu.
Elsa hanya menatap intens ke arah pria yang cukup tampan itu," ya Allah… kenapa senyumannya mampu melelahkan jiwa dan ragaku tidak seperti om-om tua itu yah? Ihh kenapa juga aku tiba-tiba bandingkan mereka yah," gumamnya sambil terus menggelengkan kepalanya itu.
Apa yang dilakukan oleh Elsa membuat pria itu tersenyum tipis hingga lesung pipitnya kelihatan.
Pria itu mengulurkan tangannya ke arah depan Elsa," Muhammad Corlando Ronald tapi, panggil saja Ando,"
Elsa menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya," Elsa Safira Nadine."
"Nama yang sungguh cantik dengan penuh makna seperti pemilik namanya yang begitu cantik luar dalam," pujinya Ando sambil mendudukkan dirinya di atas kursi di sebelahnya Elsa.
"Makasih banyak,"
__ADS_1
Elsa kembali melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda karena kedatangan Ando. Is membersihkan seluruh permukaan lukanya lalu memberikan salep agar lukanya tidak perih dan cepat sembuh.
"Kalau boleh tahu kenapa kakinya sampai terluka seperti ini?" Tanyanya Ando yang menjaga jarak dari Elsa karena takut jika Elsa risih padanya.
"Ini cuma luka ringan kok, hanya kecelakaan kecil kemarin tidak perlu terlalu dipedulikan juga," kilahnya Elsa Safira Nadine yang sedikit terganggu dengan kehadiran pria itu karena mengeluarkan terlalu banyak pertanyaan.
Pria yang terlalu berjiwa kepo paling tidak disukai oleh Elsa sebenarnya, hanya saja Elsa berfikir kalau memperlihatkan langsung ketidak sukaaannya itu akan berdampak tidak baik juga.
"Ngomong-ngomong kamu kerja disini yah?"
Elsa melirik sepintas ke arah Ando," Insya Allah… besok saya akan mulai bekerja di perusahaan ini, kalau Anda gimana?"
"Belum bekerja sih tapi, baru rencana ingin mencari pekerjaan yang cocok denganku," imbuhnya Ando yang rencana awalnya hanya datang berkunjung untuk memastikan masalah pendonor jantung calon tunangan masa kecilnya itu. Tapi, semuanya berubah sejak melihat Elsa dia kemudian memutuskan untuk menerima tawaran dari sahabatnya itu.
"Kalau gitu aku permisi pamit dulu Pak kebetulan aku masih ada urusan, assalamualaikum,"
Elsa kemudian berpamitan untuk pergi dari tempat itu karena suasananya terasa canggung dan entah kenapa, dadanya Elsa berdetak kencang jika melihat raut wajahnya Ando. Seolah dia dejavu pernah melihat Ando sebelumnya.
"Gadis yang lucu dan menggemaskan, aku mendekati gadis itu jadi salah satu caranya adalah harus menerima tawaran dari Abdillah Abqari Agam, tapi apa yang terjadi padaku ketika melihat senyumannya tadi seolah itu senyumannya Almairah," cicitnya Ando.
Elsa terus berjalan ke arah parkiran motor sambil menunggu kedatangan chatnya Nada Humairah Azizah Razak.
"Chat aku belum di baca masih centang dua juga, mungkin Mbak Nada sibuk kali sehingga tidak punya waktu untuk membalas chatku," cicitnya Elsa lalu segera menyalakan mesin motornya dan tak lupa memasang helm kesukaannya itu.
Elsa melajukan motornya menuju jalan raya dan sudah menyatu dengan pengendara motor lainnya. Tapi, kadang ia meringis menahan perihnya bagian lukanya terutama tangannya yang memang ada lukanya.
Elsa terus melaju tunggangannya menuju rumahnya dengan kecepatan sedang saja di sore hari itu. Dia sampai di rumahnya sebelum jam empat sore.
__ADS_1
"Syukur Alhamdulillah… sudah sampai juga semoga besok lukaku ini cepat kering, enggak bebas bergerak dan beraktifitas dalam keadaan kayak gini," lirihnya Elsa.
Elsa memutar kenop pintu rumahnya, tapi merasakan ada keanehan di rumahnya itu. Tidak seperti biasanya, rumahnya yang walaupun mereka hanya berempat saja yang tinggal di rumah itu tapi, baru kali ini merasa sepi.
"Bi Sumi ada di mana? Kok rumah kayak rumah yang tidak pernah dihuni lama saja," gumamnya Elsa yang keheranan dengan kondisi rumahnya.
Elsa berjalan ke arah dapur untuk mengambil air putih dingin karena sejak tadi sudah kehausan.
Gluk… gluk..
Suara air minum mineral yang masuk ke dalam tenggorokannya itu.
"Syukur Alhamdulillah… segarnya,"
Elsa kembali berjalan untuk naik ke lantai dua rumahnya tempat kamarnya berada. Dengan cukup tertatih menaiki satu persatu undakan tangga dengan kakinya yang masih sering ngilu dan perih.
Tetapi, baru berniat ingin memutar kenop handle pintu kamarnya, telinganya menangkap suara yang aneh. Elsa berusaha untuk menajamkan pendengarannya.
Suara dee saaa haaan terdengar jelas ketika Elsa berada tepat depan kamar Abangnya. Karena penasaran dan rasa keponya sudah mengalahkan perasaan aneh yang lainnya yang timbul di dalam benaknya.
"Kedengarannya seperti suara apa gitu, tapi apa yah? Ini kan baru jam empat lewat juga tidak mungkin Abang Ergi sudah pulang dari kantornya,"
Elsa tidak ingin hidup dalam rasa penasaran akhirnya membuka pintu kamar abangnya tanpa meminta ijin terlebih dahulu dengan yang punya kamar.
Elsa dibuat terkejut dengan pemandangan yang terjadi, kedua matanya melotot seolah akan melompat dari tempatnya saja. Mulutnya menganga lebar membentuk huruf O saking tidak percayanya dengan apa yang dilihatnya saat itu juga.
"Abang Ergi Andrean Renaldi!!" Pekiknya Elsa yang dibuat geram oleh kekakuan kakaknya dengan perempuan yang berada di bawah kunkungan kakaknya itu.
__ADS_1
Keduanya tersentak terkejut mendengar teriakannya Elsa. Keduanya cukup kaget dan raut wajah mereka langsung pucat pasi. Ergi tidak menyangka jika perbuatannya kali ini kedapatan dan dilihat langsung oleh adiknya itu. Karena selama ini apa yang sering ia lakukan dengan kekasihnya sama sekali tidak diketahui oleh Elsa sang adik kesayangan.
Bagi Like, Komentar, gift iklan,poin dan koinnya dong kakak readers...