Hikayat Cinta Elsa Agam

Hikayat Cinta Elsa Agam
Bab. 25


__ADS_3

Jika jahat dibalas kejahatan, maka itu adalah dendam.


Jika kebaikan dibalas kebaikan maka itu adalah perkara biasa.


Amarah berpamitan kepada mamanya untuk merayakan pesta ulang tahun salah satu sahabatnya. Tanpa memakai mobil pribadinya sendiri. Amarah Meylani Ramadhani berangkat sore harinya setelah pulang dari bekerja.


" Ya Allah… Amarah kok belum pulang juga, katanya sebelum jam sembilan sudah pulang ke rumah," Bu Liviana Alexander Mutahar mondar mandir di depan pintu utama rumahnya yang sesekali menatap ke arah pagar pelindung rumahnya jika ada lampu sorot mobil yang menerpa pagar itu.


Keponakannya yang baru saja pulang dari luar negeri dan memutuskan untuk menetap dan tinggal bersama keluarga kedua orang tuanya di rumahnya Bu Liviana. Arinda berjalan ke arah tantenya setelah memarkirkan mobilnya di carport rumah itu yang terletak di bawah tanah. Untuk ke tempat itu harus menggunakan akses lift.


"Assalamualaikum Tante," sapanya Arinda sembari meraih tangan dari adik mamanya itu.


Bu Liviana tersenyum ramah menyambut kepulangan keponakannya dari perusahaan suaminya.


"Waalaikum salam, kamu sendirian pulangnya?" Tanyanya Bu Livia yang celingak-celinguk mencari keberadaan putri bungsunya itu.


"Tante cariin siapa?" Tanyanya penuh selidik ini.


"Tante mikir kamu pulangnya barengan sama Amarah," ujarnya Bu Liviana.


"Ohh Amarah tadi sebelum magrib dia chat aku katanya akan pulang agak malem," jawabnya Arinda.


"Ya Allah… itu anak sejak pulang dari London baru kali ini keluar rumah tanpa memakai mobil segala lagi, dimana juga cuaca mendung kayaknya akan turun hujan lebat," tuturnya Bu Livia.


Arinda menyentuh lengannya Bu Livia," Tante tenang dong jangan terlalu gelisah seperti ini juga, enggak baik loh untuk kesehatan Tante juga yang paling penting perbanyak berdoa semoga Amarah pulang dengan selamat lagian dia juga sudah gede insya Allah bisa jaga diri baik-baik," pungkas Arinda yang berusaha untuk membujuk tantenya agar lebih tenang.

__ADS_1


Mereka berjalan berbarengan ke arah dalam rumahnya," Mbak Ani tolong tungguin Non Amarah sampai dia pulang kalau Tuan Besar pulang jangan katakan apapun jika Amarah belum pulang juga," pintanya Bu Livia.


"Siap Nyonya Besar,"


Arinda sebenarnya baru juga pulang, semalam tidak sempat pulang karena ada beberapa masalah yang cukup rumit yang dihadapinya.


"Ya Allah… semoga saja apa yang aku alami tidak ketahuan sama Tante dan paman Mutahar jika, tidak aku akan mengalami masalah besar sedangkan kejadian itu terjadi karena atas dasar kesalahan kami berdua," batinnya Arinda Arun Albert.


Mereka kemudian berjalan menaiki undakan tangga step by step hingga Arinda berpisah dengan Bu Livia.


"Selamat malam Tante,aku duluan yah," ujar Arinda yang berjalan sedikit terpincang-pincang dan seperti seseorang yang mengangkang.


Bu Livia diam-diam memperhatikan cara jalan keponakan perempuan satu-satunya yang dimilikinya itu.


"Arin, kok jalanmu seperti bebek Nak, enggak enak banget dilihatnya, kamu baik-baik saja kan?"


"Ehh itu a-nu Tan, tadi aku terlalu lama duduk jadi mungkin kaki aku sedikit pegal, insya Allah… setelah beristirahat sejenak mungkin akan kembali normal," kilahnya Arinda dengan senyuman yang dipaksakan.


"Oh gitu, kamu gih istirahat yang cukup jangan begadang enggak baik kalau anak gadis bangunnya lama,"


"Baik Tante,"


Bu Liviana hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap dari keponakannya itu.


"Siapa lagi pria yang sudi menikahiku Tante jika tahu apa yang terjadi padaku," ratapnya Arinda sambil memutar kenop pintu kamarnya.

__ADS_1


Arinda langsung melompat ke atas ranjang king size-nya itu. Ia segera menumpahkan segala gunda gulananya melalui bantal kepalanya.


"Ya Allah… maafkanlah atas segala dosa-dosaku ini,"


Sedangkan di tempat lain, seorang pria kebingungan dengan perempuan yang duduk dibelakangnya.


"Pak kita jalan di depan saja dari sana kita belok kiri," teriaknya Amarah yang menjelaskan kepada Pria yang kebetulan memboncengnya pulang.


Pria itu hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari mulut Amarah. Hingga diujung jalan depan, baru saja ingin membelokkan arah motornya, hujan pun turun dengan lebatnya. Hingga seluruh tubuh mereka panas di guyur air hujan malam itu.


"Ya hujan!" pekiknya Amarah seraya menengadahkan telapak tangannya ke arah atas.


"Mbak kita berteduh sebentar yah disana!" Pekik Pria itu yang harus berbicara dengan suara yang cukup besar.


"Tidak perlu kok Pak rumahku juga sudah dekat kok," balasnya Amarah.


"Tapi, Mbak aku tidak bawa mantel jas hujan, kasihan Mbak rumahku masih jauh dari tempat sini," tampiknya Pria itu.


"Terserah dari Bapak saja kalau seperti itu," imbuhnya Amarah yang akhirnya mengalah dan mengikuti perkataan dari pria yang sudah menolongnya.


Pria itu melajukan ke arah emperan toko yang kebetulan mereka lalui. Mereka kemudian berteduh di sana hanya mereka berdua yang berteduh di tempat itu.


"Ya Allah… ini hujan kalau seperti ini terus turunnya sangat lebat bisa-bisa aku pulangnya kemaleman lagi, kalau papa tahu pasti akan marah-marah," gumamnya Amarah.


Pria itu melepas helmnya yang sudah basah kuyup. Ia berusaha untuk mengeringkan rambutnya. Hingga pukulan tiba-tiba mendarat diperut pria itu.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan pada adikku haa!!" Gertaknya Aldian adik sepupunya Agam sambil terus memukul pria itu dengan membabi buta.


"Abang Al apa yang Abang lakukan, please hentikan pukulannya!" Teriak Amarah yang berusaha untuk mencegah Aldian untuk terus memukuli pria yang sudah berbaik hati membantunya untuk pulang.


__ADS_2