
Ariel Satya Muller menjelaskan dari awal kejadiannya hingga Amarah Meylani Ramadhani pingsan tak sadarkan diri lagi. Aldian merasa bersalah karena telah salah paham.
"Maafkan saya, saya sama sekali tidak menyangka jika Anda telah membantu adikku," ucapnya Aldian dengan penuh sesal.
Aldian walaupun hanya sepupunya Amarah, tapi sejak kecil hingga sekolah di SMA mereka selalu bersama di Jakarta. Barulah mereka terpisah ketika Alidian melanjutkan kuliahnya di USA Amerika Serikat sedangkan Amarah di London UK Inggris.
Kedekatan mereka seperti adik kakak
kembar saja. Bahkan jika ada pria ataupun perempuan yang mendekati keduanya harus melalui jalan persetujuan mereka juga. Aldian Faiz Kim adalah anak tunggal di dalam keluarganya.
Ariel menepuk pundak Al," tidak apa-apa kok, itu hal yang wajar terjadi, aku pun jika berada di posisimu pasti akan bertindak seperti itu, jadi santai saja lagian luka ini masih kecil dan tidak ada apa-apanya untukku,"
Mereka bertiga kemudian berbincang-bincang hingga beberapa jam kemudian. Pak Alexander Mutahar dan istrinya Bu Liviana akan segera pulang dan meminta tolong kepada Aldian untuk menjaga Amarah. Sedang Ariel dengan suka rela menawarkan dirinya untuk ikut menjaga Amarah juga.
Kedua orang tua itu cukup dibuat terkejut tapi, dengan senang hati menyambut niat baiknya Ariel Satya Muller.
"Tapi Nak, apa tidak merepotkanmu jika, kamu jugy ikut menjaga putri kami?" Kilahnya Bu Livia.
Ariel tersenyum simpul," tidak apa-apa kok Tante, anggap saja sebagai penebus rasa bersalahku itu," elaknya Ariel.
"Kalau seperti itu, makasih banyak sudah ikhlas dan rela untuk menjaga anak kami, Aldian temani Ariel untuk menjaga adikmu Amarah!" Perintahnya Pak Muhtar.
"Tidak perlu sungkan Pak Muhtar,"
"Kami pamit undur diri dulu, Al kalau ada apa-apa hubungi Tante yah,"
"Siap Aunty," jawab Aldian.
Mereka pun dalam kamar hanya bertiga. Sekitar jam satu tengah malam, Aldian sudah terlelap dalam mimpi indahnya di atas sofa. Sedangkan Amarah belum bisa memejamkan matanya. Begitu pun juga dengan Ariel.
"Tuan Ariel terima kasih banyak sudah membantuku untuk mengantarkan pulang, dan maaf saya salah sangka saya pikir Anda salah satu ojek online yang kebetulan melewati daerah itu," ucapnya Amarah yang malu-malu.
"Tidak apa-apa kok, anggap saja saya tukang ojek kamu mulai sekarang yang selalu siap kapan pun kamu butuhkan," candanya Ariel yang tersenyum tipis.
Amarah menatap intens ke arah Ariel yang tersenyum," kamu cukup ganteng dan baik hati, tapi sayangnya dihatiku sedari dulu sudah ada Abang Carlando Rolando yang mengisi hatiku ini."
"Entah apa yang terjadi padaku, sejak aku melihatmu ada yang aneh yang terjadi di dalam hatiku."
Sedang di dalam mobil, dua orang tua sedangkan berbincang-bincang santai.
"Mas gimana menurut Mas tentang Ariel itu?"
__ADS_1
"Kenapa emangnya bertanya seperti it" tanyanya balik Pak Muhktar.
"Kalau menurut aku sih, dia cocok kita jodohkan dengan Amarah putri kita gimana menurut kamu?"
"Hem, itu ide yang bagus juga, karena setahu Mas Ariel itu masih single loh," timpalnya Pak Mukhtar suaminya.
"Baguslah kalau begitu Mas harus atur waktu untuk bertemu dengan kedua orang tuanya Ariel Mas, karena menurut mama Ariel pria yang bertanggung jawab, bijaksana dan dewasa yang paling cocok untuk melindungi dan menjaga Amarah kelak,"
"Itu ide yang bagus banget Ma, papa akan melakukan semua secepatnya,"
Perbincangan mereka berlanjut hingga ke Elsa Safira Nadine Renaldi dengan Abdillah Abqari Agam yang sudah menginjakkan kakinya di Seoul Korsel.
Keesokan harinya di dalam sebuah apartemen yang cukup mewah. Suara benda pecah dan hancur berkeping-keping yang dilempar oleh pemiliknya.
Bruk… prang!!
"Bego! Kenapa aku bisa memenuhi keinginan perempuan mabuk itu tanpa bisa mengontrol diriku ini, kenapa disaat perempuan itu berada di atas tubuhku aku melihat wajahnya Almairah Mutia Ramadhani," erangnya dengan kesal Ando.
Ando menghancurkan beberapa barang di dalam kamarnya setelah menyadari kesalahan besarnya sendiri.
Carlando Rolando mengelus wajahnya dengan gusar," ya Allah… gimana kalau perempuan itu hamil sedangkan aku tidak bermaksud untuk sengaja untuk melakukan hal itu, sedangkan perempuan itu masih pee raa wan," umpatnya pada dirinya sendiri.
Seorang gadis yang berusia sekitar dua puluh empat tahun itu duduk termenung dibalik jendela kamarnya. Air matanya menetes membasahi pipinya itu. Ia sesekali menyeka air matanya yang tidak ada hentinya itu.
Arinda terus menggosok tubuhnya sendiri dengan sekuat tenaga.
"Aahhh tidak!!" Teriaknya sambil melempar hp yang kebetulan ia genggam.
Brak… prangg!!
Arinda menangis histeris, meraung dan berteriak-teriak melepas kesedihan dan kebenciannya sendiri pada dirinya.
Satu bulan kemudian, sejak insiden malam itu. Amarah dan Arinda sudah kembali beraktifitas seperti biasanya. Seolah kejadian hari itu, tidak pernah terjadi dalam kehidupan mereka masing-masing.
Arinda menuruni tangga rumahnya Pak Alexander Mutahar pamannya yang akan bersiap untuk sarapan bersama pagi itu. Tapi, kedatangan Arinda pagi itu cukup membuat perhatian semua orang tertuju pada Arinda yang sangat cantik dengan balutan hijab menutupi seluruh tubuhnya itu.
"Masya Allah cantiknya ponakannya Tante," pujinya Bu Livia.
"Iya benar sekali apa yang dikatakan oleh Mama Mbak Arinda kamu sangat is beautiful girl," celetuk Amarah.
Arinda hanya tersenyum menanggapi perkataan dan pujian dari anggota keluarganya itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah kamu sudah menutup auratmu Nak, Paman sangat bahagia melihatnya kalau Papi dan Mami kamu tahu pasti mereka akan sangat bahagia mendengar kabar baik ini, masih ada kabar baik sekaligus berita menggembirakan bagi kami adalah hari ini akan datang keluarga besar Pak Muller untuk melamar Amarah, bagaimana Amarah apa kamu setuju?"
Amarah tersedak makanan yang baru saja ia kunyah," uhuk… uhukk..!!"
Aldian yang berdekatan duduknya dengan Amarah segera membantunya memberikan gelas yang berisi minuman air mineral. Amarah tanpa ragu mengambil air putih itu lalu segera meneguknya.
"Papa, tapi saya sama sekali tidak mencintai Pak Ariel kami hanya teman biasa saja," tolaknya Amarah yang baru kali ini menentang keputusan papanya itu.
Agam yang mendengar keputusan papanya hanya memberikan masukannya saja.
"Papa apa sebaiknya keputusan papa dipikirkan baik-baik dulu, karena mereka baru sekitar sebulan lalu saling kenal," sanggahnya Agam.
Amarah hanya menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap mata papanya itu yang sudah nyalang menatapnya.
"Cukup! Papa tidak ingin mendengar penolakan dari siapapun lagian kami juga menikah awalnya tanpa cinta tapi seiring waktu Mama dan papa saling mencintai hingga kami tidak ingin terpisahkan," ketusnya Pak Muhktar.
Sedangkan Bu Livia menggenggam tangannya Amarah Meylani Ramadhani agar patuh dengan keinginan papanya itu.
"Saya sudah putuskan kamu tidak berhak untuk menolaknya ini kebaikanmu sendiri," ucapnya tegas pak Alexander Mutahar.
Beliau meninggalkan ruangan tempat mereka makan kala itu. Hingga kedatangan asisten rumah tangga mereka yang mampu memecahkan ketegangan itu.
"Maaf Tuan Agam ada teman kantornya Tuan Muda di depan," imbuhnya art itu.
"Siapa bi?"
"Pak Ando," jawabnya.
Amarah seolah-olah mendapatkan energi tambahan sehingga raut wajahnya berubah drastis dari marah, kesal dan sedih berubah bahagia dalam sekejap mata mendengar namanya Ando disebut.
"Suruh Ando ke sini bi," pintanya Agam.
Art itu segera berjalan ke arah depan untuk memanggil Ando. Pria itu segera mematuhi perintah dari atasannya di perusahaan sekaligus sahabat dan mantan tunangannya Almairah Mutia Ramadhani adik kembarnya Agam.
"Maaf menggangu kenyamanannya Tuan Muda," ujar Ando.
Andira mengalihkan perhatiannya ke arah sumber suara itu,ia spontan berdiri dari duduknya saking terkejutnya melihat Ando.
"Kamu!" Tunjuknya Andira yang langsung ingin muntah saat itu juga karena tiba-tiba kepalanya pusing dalam sekejap.
Oek… owek…
__ADS_1
Andira melihat wajahnya Ando seketika itu perasaannya aneh, kepalanya langsung puyeng.