Hikayat Cinta Elsa Agam

Hikayat Cinta Elsa Agam
Bab. 15


__ADS_3

"Kok bisa kamu yang duduk di kursi CEO?" Tanyanya Elsa dengan tangannya yang masih menunjuk ke arah wajahnya Agam tanpa gentar sedikitpun seolah keberaniannya Elsa tiba-tiba mencuak begitu saja.


Agam mengangkat kepalanya lalu menatap ke arah Elsa. Betapa terkejutnya ia setelah melihat dengan jelas pria yang duduk di hadapannya. Pria yang memakai setelan jas lengkap berwarna abu-abu gelap itu yang secara tidak langsung senada dengan pakaian yang dipakainya.


"Kamu!?" Pekik Elsa yang matanya melotot saking kagetnya melihat sosok Agam.


Agam hanya tersenyum menanggapi perkataan dari mulut Elsa.


"Terus kalau bukan saya siapa lagi yang kamu harapkan duduk disini!?" Ketusnya Agam sembari menunjuk ke arah papan nama yang terletak di atas meja kerjanya Agam.


Elsa mengikuti arah pandangan matanya Agam yang menunjuk ke arah papan tersebut.


"Abdillah Abqari Agam," cicitnya Elsa.


Agam berdiri dari duduknya sambil lalu berjalan ke arah Elsa," betul sekali aku adalah CEO kamu dan mulai detik ini kamu bekerja sebagai sekretarisku," imbuhnya Agam sambil duduk bersandar di sudut meja kerjanya.


"Itu tidak mungkin, pasti ada kesalahan disini," kilahnya Elsa.


Agam tersenyum smirk,"Apanya yang tidak mungkin!? Semuanya bisa terjadi Elsa Safira Nadine Renaldi,"


"Ehh aku baru ingat beberapa hari yang lalu ada om-om yang menyerempetku dengan sengaja tapi,om itu sama sekali tidak minta maaf dan juga tidak memberikan ganti rugi padaku berupa biaya berobat, lihatlah tangan dan kakiku gara-gara om aku cukup menderita karena perbuatan om," kesalnya Elsa sembari tersenyum penuh maksud.


"Ingatan kamu cukup bagus juga sehingga belum melupakan kejadian itu," tukasnya Agam.


Elsa berjalan ke arah Agam," saya tidak akan mudah melupakan kejadian itu karena kaki dan lenganku yang terluka belum sembuh juga hingga detik ini, jadi aku mau minta biaya berobat pada Anda Pak Agam," ujarnya Elsa seraya menyodorkan telapak tangannya ke hadapan Agam tanpa takut sedikitpun.


"Gadis manggaku cukup berani juga rupanya, biasanya kalau ada yang berhadapan denganku akan ketakutan dan gemetaran walaupun tidak melakukan kesalahan sedikitpun," bathinnya Agam.


Tangannya Elsa masih menggantung di udara menunggu Agam memberikan cuan ganti rugi. Agam segera membuka dompetnya dan mengambil kartu kredit yang berwarna hitam.


"Ini pakailah untuk mengobati tanganmu, saya tidak ingin gara-gara masalah kecil ini membuat images saya jadi hancur," jelas Agam.


Elsa sangat terkejut karena diberikan begitu saja kartu atm yang tanpa limit itu.


"Maaf, sepertinya ini terlalu berlebih-lebihan dan banyak Om lagian gimana juga caranya aku pakai saya enggak tahu kode PINnya," tukasnya Elsa dengan memonyongkan bibirnya itu.

__ADS_1


"Kamu semakin cantik jika seperti ini," bisiknya Agam tepat di samping telinganya Elsa.


Elsa yang merasakan deru nafasnya atasannya itu tepat mengenai wajahnya, refleks ia bergerak cepat untuk mundur beberapa langkah.


Agam tersenyum tipis melihat reaksinya Elsa," kamu berhak dapatkan kartu itu karena kamu kelak akan menjadi istriku untuk selamanya," gumamnya Agam.


"Maaf Pak ada uang tunainya? Saya hanya butuh uang tunai bukan kartu kredit," tolaknya Elsa.


"Kalau kamu gak butuh simpan saja didalam dompetmu,kalau kapan-kapan kamu butuh barulah kamu pakai," terangnya Agam lalu berjalan kembali ke kursinya.


Elsa masih berpikir apa yang telah terjadi pada pria dewasa yang ada di depannya. Elsa masih berdiri tanpa tahu apa yang harus ia lakukan.


"Apa kamu kira aku panggil kesini hanya untuk berdiri saja seperti patung Pancoran!?" Ketusnya Agam.


Elsa segera bergerak dan memasukkan kartu kredit tersebut ke saku blazer nya yang berwarna abu-abu soft.


"Tolong cek ulang berkas ini semua apa ada yang aku lewatkan untuk membubuhi tanganku," pintanya Agam dengan lembut yang sudah melupakan pertengkaran dan perdebatan kecilnya.


"Baik Pak Agam," balas Elsa yang segera menjalankan perintah dari atasannya itu.


Gadis 23 tahun itu, terkejut sekaligus bahagia karena, orang yang akan menjadi bosnya adalah pria yang diam-diam ia sukai.


Amarah berdiri dari duduknya ketika melihat atasannya, "Abang Ando," cicitnya Amarah ketika memasuki ruangan kantor pribadi Carlando Roland.


Ando mengerutkan keningnya melihat Amarah yang duduk di kursi sekretarisnya.


"Kamu ikut aku meeting di luar jam sebelas, jadi aku mohon padamu tolong periksa dengan baik aku tidak ingin ada kesalahan sedikitpun," imbuhnya Ando lalu berjalan ke arah dalam ruangannya dengan wajah dinginnya.


"Aku akan berusaha untuk membuat kamu mencintaiku tanpa harus melupakan cintamu pada kakakku almarhumah Almairah,"


Ando adalah pria yang sudah ditetapkan oleh keluarga besar keduanya sebagai tunangan dari saudari kembarnya Amarah. Tetapi, karena Mairah mengalami kecelakaan sehingga ia menghembuskan nafasnya yang terakhir kalinya, tapi sebelum meninggal dunia,ia telah berjanji untuk mendonorkan jantungnya dan organ tubuh lainnya untuk siapapun yang membutuhkannya kala itu.


Mereka bekerja tanpa lelah sedikitpun, Elsa dalam bekerja tidak mau mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Sebisa mungkin ia bersikap profesional dalam menjalankan kewajiban dan tugasnya.


"Hem!"Agam berdehem untuk mencairkan suasana yang tercipta di dalam ruangan itu yang hanya keyboard komputer yang berbunyi meramaikan suasana dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Maafkan saya Pak apa saya melakukan kesalahan?" Tanyanya Elsa seraya melepaskan kacamata bacanya itu.


"Kamu hari ini bekerja cukup bagus,aku suka hasil kerjamu semoga kedepannya kamu bekerja seperti ini terus," tutur Agam yang mau tidak mau mengakui keterampilan dan skill yang diperlihatkan oleh Elsa.


Elsa tersenyum manis sekali sampai-sampai membuat Agam yang melihat secara langsung senyuman Elsa membuat hati dan perasaannya meleleh saking bahagianya melihat senyuman dari gadis pujaan hatinya.


"Syukur Alhamdulillah… makasih banyak Pak atas pujiannya, insya Allah… aku akan selalu berusaha bekerja yang terbaik untuk perusahaan," pungkas Elsa.


Elsa menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan pujian yang diucapkan oleh Agam si pria single di usianya yang cukup dewasa itu 32 tahun.


Elsa menutup mulutnya," ya ampun Pak Agam memberikan pujiannya untukku, apa aku hanya bermimpi yah?" Lirihnya Elsa.


Apa yang dilakukan oleh Elsa membuat Agam tersenyum sumringah bahagia. Sehingga perlahan rasa lelahnya hari itu terobati.


"Kita akhiri kerjanya, sepertinya perutku butuh asupan makanan deh," candanya Agam yang langsung berdiri tanpa menunggu Elsa menanggapi perkataannya itu.


Elsa kembali melongok tak percaya karena lagi-lagi pikirannya tentang sikap dan tingkah lakunya Agam hari ini dengan beberapa hari yang lalu sangat berbeda Elsa menggelengkan kepalanya sambil menepuk-nepuk pipinya itu.


"Apa! aku tidak sedang bermimpi kan?"


Agam tidak peduli dengan Elsa yang masih duduk di tempatnya yang menghayati perkataan dari Agam.


"Kamu tidak lapar kah? Kalau enggak lapar kamu lanjutkan pekerjaanmu," canda Agam.


Elsa segera bangkit dari duduknya lalu berlari mengejar Agam yang sudah berjalan mendahuluinya.


"Ya Allah… ini Om jago bercanda juga rupanya, tidak seperti tanggapan aku selama ini." Elsa membatin tapi, langkah kakinya terus menapaki satu persatu lantai keramik.


Amarah sudah berada di dalam mobil bersama dengan pria dingin sedangkan, Elsa sedang duduk berhadapan di salah satu cafe perusahaan yang cukup elit itu.


Mery segera melaporkan apa yang terjadi di perusahaan. Ia segera mengirim beberapa foto kebersamaan Elsa dengan Agam yang duduk saling berhadapan menikmati makanan yang tersaji di hadapannya masing-masing.


"Ya Allah… pasangan yang sungguh serasi, semoga kalian bersatu dalam ikatan pernikahan," batin Mery Ariah Alfin.


Bagi Like, Komentar, gift iklan,poin dan koinnya dong kakak readers...

__ADS_1


__ADS_2