
Malam itu begitu terang cahaya sinar rembulan, cahayanya yang berkilauan mampu menerangi seluruh jagad raya. Bintang-bintang yang bertaburan semakin mempercantik indahnya malam itu.
Andira duduk di balkon kamarnya sambil menatap ke arah langit. Air matanya luruh seketika itu ketika ia teringat dengan janjinya pada seorang pria yang berada jauh di negri seberang.
"Emier maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku untuk menunggumu, maafkanlah aku yang sudah mengkhianati kepercayaanmu yang tidak mampu menjaga kesucian ku ini, maaf aku terpaksa melakukan semua ini agar anakku bisa lahir ke dunia dengan memiliki seorang ayah," gumamnya Andira Farhana Alber seraya mengelus perutnya yang sudah berusia dua bulan itu.
Andira datang ke Indonesia sebenarnya bukan keinginannya, tetapi karena desakan kedua orang tuanya itu. Tuan Albert dan Nyonya Annie sudah mengetahui yang sebenarnya tentang hubungan diam-diam yang terjalin antara putrinya dengan seorang pria yang berasal dari negara Qatar itu.
Tetapi, mereka tidak merestui hubungan anaknya dengan Emier karena alasan kedudukan dan posisi Emier hanyalah karyawan biasa saja yang tidak apa-apanya dibanding dengan putrinya itu.
Andira menumpahkan segala kerisauan hatinya dan juga gunda gulananya melalui air matanya itu. Dia tidak menyangka jika, dia akan mengakhiri masa lajangnya dengan pria yang sama sekali tidak ia cintai dan pria itu juga tidak mencintainya.
Pernikahan keduanya terjadi karena, kesalahan fatal yang keduanya lakukan yaitu, berhubungan suami istri dengan dasar karena, masuk ke dalam perangkap seseorang yang memasukkan dan mencampurkan obat peee raaang saan di dalam gelas minumannya, ketika mengadakan pertemuan dengan kliennya dari perusahaan uncelnya pak Alexander Mutahar Sungkar.
Keesokan harinya, kediaman keluarga besar Alexander Mutahar Sungkar. Hilir mudik dari beberapa orang yang semakin membuat rumah itu semakin ramai saja. Dekorasi interior rumah itu sudah disulap menjadi dekorasi pengantin.
Hari ini adalah akad nikah antara Amarah Meylani Ramadhani dengan calon suaminya Ariel Satya Muller dengan Andira Farhana Albert dan Carlando Arland Roland.
Bu Liviana Sandra Alexander itu berjalan menuruni tangga rumahnya dan melihat segala persiapan mereka sudah hampir rampung seratus persen sebelum akad nikahnya berlangsung.
__ADS_1
Hari itu baru pukul tujuh pagi, sedangkan acaranya akan berlangsung sekitar jam 10 pagi. Bu Livia memeriksa catering dan yang lainnya itu dengan seksama dan detail. Beliau tidak ingin ada kesalahan sedikitpun juga.
"Aldian apa kamu sudah memeriksa semua keamanannya, apa pihak keamanan sudah berjaga di posisi masing-masing?" Tanya Bu Liviana Sandra Alexander yang sudah berdiri di depan keponakannya itu anak dari adik suaminya.
Aldian Adlan Kim segera menjawab pertanyaan dari auntynya," Alhamdulillah sudah beres mulai dari semua sekejul dan susunan acara akad nikahnya sudah saya periksa dan saya sangat bersyukur karena orang yang kita pekerjakan sangat memiliki dedikasi yang tinggi terhadap tanggung jawab mereka masing-masing Aunty," terangnya Aldian.
"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu, ingat jangan sampai lengah sedikitpun, Aunty tidak mau jika, kejadian seperti akad nikahnya Elsa Safira Nadine dengan putraku di Samarinda Kalimantan Timur kacau seperti itu, ingat tamu-tamu kita yang datang ini adalah bukan orang sembarangan jadi berikan dan tunjukkan kepada mereka jika keluarga besar Mutahar Sungkar bukan keluarga kacang-kacangan yang bisa mereka usik semudah itu," imbuhnya Bu Liviana.
"Siap aunty tidak perlu khawatir,ada kami yang bekerja pasti akan aman," pungkasnya Aldian lagi.
Elsa Safira Nadine yang membangunkan suaminya yang tumben lambat bangun untuk kali ini. Agam sengaja berlama-lama tidur, karena hari ini libur bekerja dan urusan acars akad nikah hingga resepsi adiknya dan adik sepupunya sudah ada yang mengurus semuanya itu.
Elsa sudah berusaha dengan segala macam cara yang ditempuhnya itu. Baik dari menggoyang tubuhnya Agam hingga menarik bantal peluk, selimutnya dan juga menambah cuacanya kamar itu semakin minus derajat. Agam bukannya bangun malah semakin memeluk erat gulingnya itu.
"Abdillah Abqari Agam Sungkar bangun!!" Teriaknya Elsa dengan kesal.
Hingga senyuman licik terbit dari sudut bibirnya itu," sepertinya itu ide yang sangat bagus deh, saya yakin pasti akan bangun," cicitnya Elsa.
Dengan teriakannya Elsa Safira Nadine Renaldi Lubis itu yang langsung di telinganya Agam, hingga membuat suaminya langsung membuka kelopak matanya dan melihat posisi Istrinya yang terlalu dekat dengannya. Agam tersenyum smirk lalu kemudian langsung membalik tubuhnya Elsa hingga Elsa sudah berada di dalam kungkungan suaminya itu. Elsa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya hingga ia reflek berteriak.
__ADS_1
"Aaahhh!!!" Teriaknya Elsa yang sudah terbaring di bawah tubuhnya Agam yang sudah tersenyum lebar melihat istrinya itu.
Agam tanpa basa-basi segera meee luuu maaat bibirnya Elsa hingga Elsa tak mampu berkutik lagi. Dalam sekejap mata, sekujur tubuhnya langsung seperti kaku dan mati rasa. Agam melakukan itu tidak selembut seperti biasanya, ia menggigit kecil daging dan kulit bibirnya Elsa. Matanya Elsa terbelalak diperlakukan seperti itu oleh Agam.
"Ya Allah… Abang ganas banget dah, sampai-sampai aku tidak bisa melepaskan pagutan kami ini," batinnya Agam.
Elsa mulai terbiasa dan mereka setiap harinya semakin lihai dan pintar untuk melakukan hal itu. Ciuman yang awalnya kasar, sekarang berubah menjadi lembut dan mendayu-dayu hingga tanpa mereka sadari semua benang dan kain yang membungkus seluruh tubuh kedua pasangan suami istri itu tercecer di atas lantai.
Elsa segera tersadar mengingat jika masih dalam kondisi palang merah atau datang tamu bulanannya. Dengan secepatnya ia berusaha untuk mencegah apa yang dilakukan oleh suaminya di atas tubuhnya itu.
"Abang sayang, stop dong jangan dilanjutkan, masalahnya sangkar emasnya masih bercat merah, jadi si jago belum bisa menengok sangkarnya," ucapnya Elsa yang sesekali meen deeee sawah menahan rasa geli atas perlakuan ulah tangannya Agam.
"Biarkan Abang seperti ini saja, kamu tidak perlu takut Abang masih sadar dan tahu pasti jika kamu belum bisa memenuhi keinginanku ini, tapi ijinkan Abang melakukan seperti yang Abang inginkan," tuturnya Agam dengan memperlihatkan tampang memelasnya itu.
Elsa kemudian mengalungkan kedua tangannya di lehernya Agam sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan dari suaminya itu.
"Tapi ingat sekedar seperti itu saja, jangan sampai kebablasan dan melupakan semuanya," ujar Elsa dengan raut wajahnya langsung merona memerah saking malunya diperlakukan seperti itu oleh suaminya sendiri padahal itu adalah yang ketiga kalinya dalam hidupnya terjadi seperti ini.
Agam semakin melancarkan serangannya setelah mendapatkan lampu hijau persetujuan dari Elsa yang memilih mengalah saja.
__ADS_1