Hikayat Cinta Elsa Agam

Hikayat Cinta Elsa Agam
Bab. 36


__ADS_3

Agam segera menepuk pipinya Elsa Safira Nadine Renald yang sudah panik dan ketakutan dengan kondisinya Elsa yang semakin pucat dalam pangkuannya Agam.


"Elsa, sadarlah sayang ini Abang ada di depanmu, kenapa kamu tega melakukannya padaku, jangan pingsan terus dong," ratapnya Abdillah Abqari Agam.


Sedangkan di tempat lain, seorang berteriak kencang dan histeris sembari melempar semua barang-barang dalam kamarnya itu.


"Brengsek! kenapa bisa perempuan jaaa laang itu selamat, kalian tidak becus, bego dan tidak pantas untuk dijadikan anak buah," geramnya seorang perempuan.


Carlando Arland Roland segera mempercepat laju kendaraan mobilnya setelah melihat kecemasan akut yang dialami oleh Agam.


"Ando! Cepat jangan terlalu lambat seperti keong saja jalannya ini mobil!" Geramnya Agam.


Padahal laju mobilnya malam itu cukup kencang larinya padahal, seperti pembalap formula satu saja di atas sirkuit. Kedua orang tuanya Elsa Safira Nadine segera dihubungi agar mereka tidak ada penyesalan nantinya jika, terjadi sesuatu pada putri semata wayangnya itu.


Sedangkan, Pak Alexander Mutahar dan juga Nyonya Besar Liviana Alexander Mutahar sudah dalam perjalanan dan berniat ia lebih duluan sampai di tempat rumah sakit sebelum Agam putranya itu. Agam segera berlari dalam ruangan rumah sakit bagian dari ugd rumah sakit.


Kedua pasangan suami istri sekaligus calon mertuanya Elsa sudah lebih duluan sampai di rumah sakit milik keluarganya sendiri yaitu adiknya Pak Mutahar. Pak Alexander Mutahar yang melihat

__ADS_1


"Dokter cepat tolong tangani menantuku!" Teriaknya Pak Mutahar yang sudah ikut panik dan ketakutan seperti itu.


Adiknya selaku pemilik rumah sakit swasta adalah Pak Anderson Mutahar sudah berdiri di samping istri dari kakak nya itu.


"Dokter dia adalah anak menantu kesayangannya kakakku jadi ingat jangan sampai ada kesalahan sedikitpun ketika menangani dan melakukan tindakan prosedur kesehatan apapun itu,jika tidak pekerjaan kalian yang akan menjadi taruhannya, camkan itu!" Ancamnya Pak Anderson.


Elsa sudah berada d salah satu bangkar rumah sakit dan segera ditangani oleh dokter terbaik rumah sakit tersebut. Bu Liviana yang melihat putra tunggalnya itu terduduk di kursi dengan kegelisahan dan kecemasan yang tersirat dari wajahnya itu.


Bu Livia mengelus lengan putranya itu," Nak sabarlah, insha Allah… Elsa akan baik-baik saja," bujuknya Bu Livia.


"Mama andaikan ada di lokasi kejadian, itu dan melihat mobil yang dikendarai oleh Elsah terbakar di depan matanya mama langsung pasti menyangka jika Elsa sudah meninggal dilalap si jago merah, aku sudah hancur dan terpuruk waktu itu tapi, Alhamdulillah Allah SWT menunjukkan kebesaran dan kasih sayangnya karena Elsa masih hidup," terangnya Agam.


"Agam, ceritakan pada Papa apa sebenarnya yang terjadi pada Elsa kenapa bisa sampai mobilnya kecelakaan dan terbakar?" Tanyanya Pak Alexander Mutahar penuh selidik.


"Ceritanya panjang lebar Papa, tapi aku yakin ini ada orang kuat dibalik semua kejadian ini, karena banyak anak buah penjahat yang kami hadapi tadi dan juga mereka lumayan kuat tidak mudah untuk ditumbangkan, tapi Alhamdulillah untung Ando dan anak buah kita cepat datang untuk mengatasi perlawanan dari gerombolan penjahat itu dan mereka sekarang sudah diamankan di rumah bawah tanah milik kita yang saya pastikan jika mereka tidak mau buka mulut untuk berbicara jujur maka saya akan berikan kesengsaraan yang sangat sehingga kematian dan malaikat maut enggan untuk mencabut nyawa mereka!" Geram Agam yang amarahnya membara dan sudah berada dipuncak.


"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu Nak, Papa akan bekerjasama dengan kepolisian untuk segera mencari siapa dalang dibalik semua ini,"

__ADS_1


"Tidak perlu Papa, kita buat mereka berbicara jujur sebelumnya barulah kita serahkan mereka ke polisi karena, feelingku ada oknum polisi yang bekerja dengan bos mereka, walaupun ini baru dugaan," pungkas Agam.


Perbincangan mereka berlanjut hingga ke ranah yang lebih serius. Hingga percakapan keduanya terhenti ketika melihat beberapa rombongan tim dokter dan perawat keluar dari UGD. Agam dan beberapa anggota keluarganya segera berjalan ke arah dokter tersebut.


"Alhamdulillah pasien sudah melewati masa kritisnya, tangannya mendapatkan beberapa jahitan dan juga di kepalanya harus kami jahit untuk mencegah perdarahan yang berlanjut dan masalah donor jantung yang pernah ia dapatkan sama sekali tidak mengalami masalah apapun sehingga kondisi pasien dalam keadaan yang baik saja," jelas kepala dokter di rumah sakit itu.


"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu Dokter, kami sangat bahagia mendengarnya dan semoga kedepannya tidak akan ada lagi masalah tentang kesehatan Elsa," tukas Pak Mutahar.


"Kalau kamu ingin melihat pasien silahkan,kami sudah pindahkan ke ruangan perawatan VVIP sesuai dengan arahan dan petunjuk dari Pak Anderson, saya permisi pamit undur diri karena masih ada beberapa pasien yang kami harus segera tangani Pak," ucapnya Pak Dokter.


"Makasih banyak Dok atas bantuan dan kerjasamanya,"


Agam tanpa peduli dengan tanggapan dan penjelasan dari dokter yang menangani Elsa, ia segera berjalan ke arah lift dengan jalannya yang cukup panjang dan lebar.


"Sama-sama Tuan ini sudah menjadi kewajiban dan tugas kami," timpal Dokter Reihan.


Yang lain pun mengikuti jejak langkahnya Agam, mereka bersyukur dan senang karena, Elsa Safira Nadine selamat dari kondisinya yang sempat kritis karena kehilangan banyak darah.

__ADS_1


Di pulau Kalimantan tepatnya di Kalimantan Timur kota Samarinda, pak Renaldi Hutabarat dan juga istrinya Bu Ratih Ningsih serta anaknya Ergi Andrean Renald sudah memesan tiket pesawat untuk keberangkatan besok subuh karena,malam itu tiket sudah habis terjual.


__ADS_2