Hikayat Cinta Elsa Agam

Hikayat Cinta Elsa Agam
Bab. 29


__ADS_3

"Tolong! Hentikan semuanya sebelum kamu menghancurkan dua keluarga lagian cintaku untuk perempuan lain, hapus obsesi dan hasratmu padaku, jika tidak kamu akan menderita selamanya sepanjang hidupmu!" Kesalnya Ando.


Amarah terduduk di atas kursi kayu yang ada di pojok taman. Ia menangis sejadi-jadinya meratapi kisah cintanya pada pria yang dikaguminya sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama itu.


Elsa untuk pertama kalinya mengunjungi kediaman utama keluarga Agam. Walaupun sudah sering kali diajak oleh Amarah maupun Agam sendiri.


"Rumahnya Pak Agam lumayan besar juga," gumamnya Elaa mengagumi bentuk bangunan dan arsitektur rumah tersebut.


Elsa turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu utama, ia pun takjub melihat pemandangan sekitar tempat parkiran khusus mobil yang menghubungkan dengan taman yang ditumbuhi banyak macam jenis bunga-bunga yang sangat indah.


"Pasti pemilik rumah ini bahagia tinggal di hunian seperti ini, kalau banyak anak kecil yang bermain sambil berkejaran pasti akan semakin indah tamannya," cicitnya Elsa seraya menghirup wangi bunga mawar yang baru bermekaran kelopak bunganya.


Apa yang dilakukan oleh Elsa diam-diam diperhatikan oleh Bu Liviana sang Nyonya besar rumah itu.


"Hemm, kalau kamu suka silahkan dipetik saja Nak cantik," serunya Bu Livia dari arah belakangnya Elsa.


Bu Livia segera menghampiri calon istrinya dari Agam setelah mendengar informasi dari salah satu asisten rumah tangganya itu.


Elsa langsung membalik tubuhnya ke arah sumber suara," ehh ibu Livia," balasnya Elsa yang kaget melihat perempuan paruh baya yang masih cantik diusianya yang sudah masuk kepala lima itu.


"Ibu diundang juga yah rupanya sama Pak Agam, pantesan Ibu juga hadir disini," imbuh Elsa yang sangat bahagia karena bertemu dengan sahabatnya itu walaupun mereka berbeda generasi dan usia.


Bu Livia hanya tersenyum menanggapinya perkataan dari Elsa. Hingga salah satu asisten rumah tangganya datang hingga Elsa pun mengetahui yang sebenarnya.


"Nyonya Livia Nona Amarah mencari Anda," ucap art itu.


Elsa terdiam mencerna perkataan dari art itu.


"Mama!" Teriakan dari Amarah mampu menjawab semua teka-teki dan sskelabat pertanyaan yang muncul dari dalam benaknya Elsa.


Elsa semakin keheranan dengan hal kebetulan sekali yang terjadi di depannya.


"Mama!" Beonya Elsa.


Bu Livia belum berencana untuk menjelaskan tentang semua pertanyaan yang muncul dari dalam hati dan pikirannya Elsa karena, tidak lama lagi rombongan keluarganya Ariel akan datang.

__ADS_1


Amarah menarik tangannya Elsa,"Mbak Elsa temani aku dimake up yah," pintanya Amarah.


Berselang beberapa menit kemudian, Elsa Safira Nadine yang sedari tadi duduk bersama Amarah diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh Amarah.


Elsa menggenggam tangannya Amarah adik dari atasannya itu," Amarah sedikit masukan kalau aku berada diposisimu pasti aku akan memilih pria yang benar-benar mencintaiku, bukan memilih pria yang aku cintai,"


Amarah menatap perempuan yang disayangi oleh abangnya itu dengan tatapan matanya yang tidak mengerti.


"Maksudnya Mbak Elsa apa?"


"Saya akan menikahi pria yang serius yang mencintaiku setulus hatinya itu, karena jika pria itu sungguh-sungguh mencintaimu saya yakin kamu akan dibahagiakan, dimanja dan diberikan kasih sayang yang melimpah hingga setiap hari kamu akan tersenyum."


"Aku akan mencoba untuk mencintai Ariel, walaupun mungkin untuk saat ini hal itu sulit aku lakukan," ujarnya Amara dengan sendu.


Setelah shalat isya, rombongan anggota keluarga besar Muller sudah berdatangan. Ariel Satya Muller pun datang ke acara prosesi lamaran. Banyak barang seserahan pernikahan yang dibawa oleh pihak keluarga mempelai pria.


Kedatangan mereka disambut hangat oleh keluarga besar Mutahar Alexander. Mereka saling berjabat tangan satu dengan yang lainnya. Sejak kedatangannya Ariel, ia mencari keberadaan Amarah yang tidak kelihatan batang hidungnya itu.


Bu Livia menyambut kedatangan kedua calon besannya itu dengan ramah. Ia berjabat tangan terlebih dahulu dengan Pak Muller papinya Ariel lalu cipika cipiki dengan Bu Lusiana maminya Ariel.


"Pak Mutahar bisa saja, kami akan melakukan apapun untuk kebahagiaan putra tunggal kami dan juga ini semua keinginannya juga sih jadi,kami sebagai orang tua akan melakukan apapun yang terbaik untuk anak tunggalku itu," timpalnya Pak Adam Muller.


Ariel mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut, "Kemana perginya gadisku, aku tidak akan melepaskanmu apapun yang terjadi walaupun aku tahu di dalam hatimu bukan aku tapi, aku akan berusaha untuk membuatmu mencintaiku,"


Abdillah Abqari Agam melihat apa yang sedang dilakukan oleh Ariel calon adik iparnya itu. Agam segera menepuk pundaknya Ariel.


"Tenanglah, adikku tidak akan pergi kok dia berada di atas kamarnya nanti dia juga akan turun ke sini," imbuhnya Agam dengan senyuman khasnya.


Ariel tidak menyangka jika, calon kakak iparnya melihat apa yang sedang ia lakukan itu. Kedua belah pihak pun membicarakan maksud dan niat kedatangan mereka.


Mereka berbincang-bincang santai sambil membicarakan hal penting itu. Dan akhirnya mereka sepakat untuk mengadakan pernikahan keduanya antara Ariel Satya Muller dengan Amarah Meylani Ramadhani Muhtar sebulan dari hari itu.


Setelah disepakati oleh kedua keluarga belah pihak, mereka melanjutkan acara selanjutnya adalah makan bersama. Tapi, Agam segera mengumumkan hal yang sangat penting.


Amarah dan Ariel pun bertukar cincin pertunangan satu sama lainnya. Dengan senyuman yang dipaksakan dari Amarah. Tetapi, Amara tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir dengan semua itu.

__ADS_1


"Maaf saya meminta waktunya untuk beberapa menit saja, karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada kalian semua dan mungkin ini tidak ada hubungannya dengan kebahagiaan atas lamaran pinangan untuk adikku, tapi saya akan menjelaskan siapa gadis yang selama ini sangat beruntung mendapatkan jantung Almairah Mutia Ramadhani, dia adalah wanita yang sangat aku sayangi dan kebenaran itu baru terungkap dan aku ketahui ketika kami mengadakan perjalanan bisnis ke Seoul Korea Selatan," jelasnya Agam.


Apa yang dikatakan oleh Agam membuat Elsa cukup terkejut," donor jantung adiknya Pak Agam," cicitnya Elsa.


Pak Mutahar dan istrinya Nyonya Liviana tidak menduga jika Agam akhirnya mengetahui siapa orang yang beruntung itu.


"Dia adalah sekretaris dan sekaligus wanita yang aku sayangi dia adalah Elsa Safira Nadine Renald perempuan yang beruntung mendapatkan donor jantung dari adikku almarhumah Almairah Mutia Ramadhani kakak kembarnya Amarah," ungkap Agam.


Elsa spontan berdiri dari duduknya ketika mendengar fakta dan kebenaran itu. Ia tidak menduga jika, keluarga gadis yang selama ini ditutupi darinya dan baru beberapa minggu yang lalu bisa berkunjung ke makam Almairah adalah adik kandungnya CEO tempat ia bekerja.


Agam berjalan ke arah Elsa yang kebetulan berdiri. Semua pasang mata tertuju pada Elsa dan Agam. Elsa memegang dadanya karena tiba-tiba jantungnya berdegup kencang ketika Agam semakin dekat dengannya.


Agam meraih tangan kanannya Elsa lalu berlutut tepat di depannya Elsa," Elsa Safira Nadine Renaldi maukah kamu menjadi pendamping dan sekaligus teman hidupku, menjadi ibu dari anak-anakku kelak hingga kita menua nanti?"


Agam segera merogoh saku celananya itu lalu mengambil sebuah kotak buludru berwarna merah muda. Ia membuka kotak itu dan terlihat lah sebuah cincin putih yang bertahtakan berlian berwarna merah.


Elsa menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan semua fakta dan kenyataan yang ada di depan matanya. Ia tidak tahu akan berbuat apa dan apa menolaknya atau menerimanya. Elsa mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Semua tatapan mata itu berharap agar dirinya menjawab pertanyaan dari Agam.


Amarah dan Aldian segera berteriak untuk meramaikan acara lamaran dadakan itu. Karena, tiba-tiba terjadi keheningan yang ada di dalam ruangan itu.


"Terima!!"


"Bilang saja Yes!" Teriak beberapa orang yang kebetulan hadir di dalam acara itu.


Bu Livia dan suaminya saling berpegangan tangan dan berdoa agar lamaran putra tunggalnyanya itu diterima.


"Ya Allah apa yang harus aku katakan, kalau aku jawab tidak pasti akan membuat pak Agam sedih dan kecewa dan akan mempermalukan keluarga besar Pak Alexander dan jika aku jawab ya sedangkan di dalam hatiku jelas-jelas sudah ada pria yang menolongku waktu itu, pria yang menolongku ketika aku hampir terjatuh dari atas kursi plastik ketika akan memetik buah mangga," raut wajahnya Elsa penuh kebimbangan dan pertimbangan.


Elsa kebingungan untuk menjawab apa, Elsa dilanda kebingungan dengan situasi yang ada. Tapi, entah ucapan dan bisikan dari mana, Elsa seolah mendengar suara seseorang yang menganjurkan dan menyuruhnya untuk mengatakan yes.


"Elsa Terima saja," perkataan itu terngiang-ngiang di dalam rongga telinganya itu.


Elsa mencari pemilik suara itu, tapi ia hanya berdua dengan Agam di sekitar tempat itu. Sedangkan yang lainnya berada di tempat yang agak jauh dari mereka berdua. Agam masih dengan setia berlutut menanti dan menunggu jawaban dari mulutnya Elsa.


Elsa menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan cukup kuat," bismillahirrahmanirrahim, aku bersedia menikah dengan Pak Agam," ujarnya Elsa dengan serius penuh keyakinan.

__ADS_1


Agam reflek bangkit dari berlututnya dan tak segan langsung memeluk tubuhnya Elsa dengan erat tanpa peduli dengan banyaknya orang dari sana.


__ADS_2