Hikayat Cinta Elsa Agam

Hikayat Cinta Elsa Agam
Bab. 49


__ADS_3

"Bagaimana para saksi apakah Sah!?"


"Sah Pak Penghulu?" Teriaknya beberapa anggota keluarga maupun tamu undangan yang bersedia datang menghadiri acara mereka.


Suara kata sah itu menggema seantero penjuru ruangan masjid.


"Syukur Alhamdulillah," ucapnya Bu Liviana Alexander Mutahar Lubis yang terharu melihat putra tunggalnya sekaligus anak sulungnya yang selama ini dirumorkan tidak normal karena tidak pernah terlihat dekat dan punya hubungan spesial dengan seorang perempuan itu.


Ucapan syukur Alhamdulillah terdengar dari semua orang yang datang memadati ruangan masjid untuk menyaksikan langsung akad nikah dari dua pasangan kembar tersebut.


Yaitu Ergi Andrean Renald dengan Istrinya Nada Khaerunnisha Azzahrah Lukman dan juga Elsa Safira Nadine dengan Abdillah Abqari Agam Mutahar.


Satu persatu mengucapkan selamat kepada kedua pasangan suami istri baru itu. Agam nampak jelas terlihat dari pancaran sinar matanya yang berbinar-binar terang. Pak Alexander Mutahar dan anggota keluarganya yang lain bergantian memeluk Agam untuk memberikan ucapan selamat atas pernikahannya.


"Selamat putraku kamu sekarang sudah menyandang gelar predikat sebagai seorang suami, ingat tanggung jawabmu sekarang semakin bertambah besar, karena ada anaknya orang yang meski kamu jaga, lindungi, cintai setulus hatimu," ujar Tuan Alexander.


"Makasih banyak Papa,saya akan selalu ingat itu dengan baik semoga saya selalu diberikan kesehatan, kekuatan, resky yang berkah untuk menjaga menghidupi anaknya orang yang sekarang sudah menjadi pasangan hidup ku ini," imbuhnya Agam yang sudah menggandeng tangan istrinya itu.


"Selamat Abang sudah jadi seorang suami semoga cepat dapat momongan saja doaku untuk kalian dan masalah kadonya sepulang dari sini baru aku berikan khusus untuk kakak ipar," ujarnya Aldian Adlan Kim.


"Aku tunggu janjimu itu," tukasnya Agam.


"Masya Allah Mbak Elsa kamu cantik banget, semoga kalau nanti aku juga nikah dengan Mas Ariel aku lebih cantik dari Mbak Elsa," ucapnya Amarah Meylani Ramadhani adik bungsunya Agam calon pengantin juga.

__ADS_1


"Benar sekali Mbak Elsa sangat cantik pantesan Abang kita yang sudah tuir ini tertarik dengan brondong semanis Mbak Elsa kalau aku jadi Mbak Elsa mana mau aku sama bujang lapuk macam dia," candanya Andira Farhana Albert.


"Tidak apa-apa sudah tuir tapi, masih ganteng kok dan yang paling penting anak sultan," gurauan Elsa yang membuat semua orang tertawa terbahak-bahak mendengar candaan Elsa.


Dini Susanti datang memeluk tubuhnya Elsa dari samping, "Ya Allah… aku baru nyadar ternyata sahabatku ini adalah perempuan matre juga, kok kita sama prinsip," kelakarnya Dini yang semakin membuat suasana semakin ramai saja.


Para anak muda saling berkumpul sedang orang tua berbincang-bincang santai dengan banyaknya orang yang sengaja meluangkan waktunya untuk hadir di acara tersebut.


"Emangnya kita ini hanya hidup dengan cinta saja, enggak kan apalagi jaman sekarang bahan pokok dan sembako harganya pada naik jadi wajar saja menurut aku kalau para istri matre sama suaminya sendiri," sahutnya Nada yang ikut bergabung menimpali percakapan mereka.


"Ya Allah… apakah seperti ini sifat asli dari para kaum hawa," tanyanya Ariel Satrya Muller yang ikut semakin membuat heboh suasana.


Sedangkan Carlando Arland Carlando hanya duduk sambil mengawasi keadaan sekitarnya, karena ada beberapa orang yang datang dengan gerak gerik yang mencurigakan.


"Siapa perempuan itu, kenapa hanya dia tamunya Pak Renald yang datang memakai cadar burka?" Gumamnya yang memperbesar gambar di iphone-nya itu khusus dipakai untuk mengawasi cctv.


"Abang Ergi ikut juga kan dengan Mbak?" Tanyanya Elsa.


"Katanya dia akan nyusul mobil kami," imbuhnya Nada.


"Kalau gitu saya pamit yah, assalamualaikum," salamnya Nada lalu re tersenyum tipis sebelum menjawab pergi dari sana.


"Waalaikum salam," jawab serentak semuanya.

__ADS_1


Berselang beberapa menit kemudian,satu persatu tamu undangan pulang ke rumahnya masing-masing. Rombongan Nada terpisah satu dengan yang lainnya, gara-gara banjir sehingga banyak yang memutar untuk mencari jalan alternatif.


Ando yang baru tersadar jika, beberapa jalan yang dilalui keluarganya Nada bukan jalan yang mereka rencanakan. Si juga terkejut melihat perempuan bercadar itu pergi dari sekitar area pelataran masjid setelah mobil Nada bertolak ke hotel.


"Kita tertipu, rencana kita bocor," ujarnya Ando yang langsung menghentikan canda tawa mereka semua.


"Maksudnya?" Tanyanya Agam.


"Kita harus secepatnya menyusul kakak iparnya Elsa sebelum terlambat," terangnya Ando.


Agam, Aldian, Ergi dan Ando segera masuk ke dalam mobil masing-masing. Anak buah mereka sebagian siap sedia untuk menjaga para wanita. Sedang sekitar delapan mobil menyusul Nada.


Agam mengecup keningnya Elsa sebelum masuk ke dalam mobil, "Papa hubungi anak buahnya pak Ronald Steven dan anak buahnya papa yang lain untuk tidak pergi kemanapun kecuali kalian pulang ke hotel dengan penjagaan dari pihak kepolisian," ucap Agam sebelum mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi.


"Ya Allah… selamatkanlah istriku, semoga dia dalam keadaan baik-baik saja," batinnya Ergi.


Perjalanan mereka tempuh cukup aman karena penunjuk jalan melewati jalan alternatif yang cukup aman dan cepat.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di dalam mobil Nada dengan beberapa sepupunya itu dibuat histeris melihat seorang pria dengan kepala botak menodongkan senjata kearah Nada.


"Pasti pengantin barunya terkejut melihat senjatamu Dino botak, coba pakai ini," tuturnya perempuan yang baru saja membuka cadarnya.


"Apa yang kalian inginkan dari kami sedangkan kami tidak punya banyak barang mewah dan berharga kami pakai," ucapnya adik sepupunya Nada yang bernama Risa Saraswati yang sudah gemetaran ketakutan karena ditodong dengan senjata api.

__ADS_1


"Mila Agnesia," cicitnya Nada.


"Benar sekali tebakanmu, saya adalah Mila Agnesia yang selama ini selalu menjadi dalang dibalik kekacauan yang dihadapi oleh keluarga iparmu yang cantik itu Elsa Safira Nadine,"


__ADS_2