Hikayat Cinta Elsa Agam

Hikayat Cinta Elsa Agam
Bab. 8


__ADS_3

Seorang pria duduk dibalik kursi kebesarannya itu," kenapa setiap kali aku ke sana pasti bibi yang menjaga rumah itu selalu berbohong padaku jika aku bertanya tentang gadis yang menerima jantung Mutia Ramadhani adikku, apa tujuan mereka dan juga informasi terakhir yang aku dapatkan kalau ada laki-laki yang tinggal di sana tapi juga sulit untuk ditemui dan datanya sangat sulit untuk diketahui, apa karena bukan Ando yang aku serahi tugas tapi, kalau Ando tahu pasti akan mengetahui jika jantungnya Mutia aku serahkan pada gadis lain yang pastinya akan membuatnya marah mengingat mereka sejak kecil sudah bertunangan,"


"Oke, aku pasti akan berikan jawaban nanti pasti itu."


Sambungan telpon pun terputus, mereka kembali ke aktifitas masing-masing.


"Ternyata kamu adalah gadis mangga itu yang selama ini aku cari semoga kita segera bertemu lagi,"


Ayam jago dan ayam jantan berkokok di pagi hari itu. Alarm pun saling bersahutan tapi, tidak mampu mengusik ketenangan istirahat dan tidurnya Elsa Safira Nadine yang baru saja terlelap sekitar satu jam lalu.


Elsa hari itu untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya harus bangun kesiangan. Padahal hari itu adalah hari tes pertama yang harus dia ikuti.


Elsa bangun di pagi hari itu tepat pukul delapan pagi. Padahal sebelum jam sembilan pagi dia harus sudah datang ke tempat tesnya.


"Aahhh tidak! Ya Allah… sudah jam 8 mati guwe pasti Mbak Nada akan marah-marah padaku," teriaknya lalu secepat kilat menyibak selimutnya kemudian berlari ke arah dalam kamar mandi.


Elsa hanya mandi biasa saja yang paling penting dia secepatnya selesai. Pergerakannya sedikit terganggu dan terhambat karena luka yang dialaminya akibat keserempet mobil pengemudi tak bertanggung jawab padanya.


"Auhh!" Keluhnya Elsa ketika tanpa sengaja bagian sikunya terkena busa sabun yang langsung merasakan perih diatas lukanya itu.


"Ini semua gara-gara pria tua itu, setir mobilnya pakai kacamata hitam,tapi aku tidak akan diam dan berdamai dengan dia jika besok-besok aku akan ketemu lagi dengannya aku akan buat perhitungan," gumam seraya menyikat giginya itu.


Hanya butuh waktu sepuluh menit saja yang dibutuhkan ketika mandi padahal normalnya dan biasanya jika ia mandi paling cepat setengah jam berada di dalam kamar mandi.

__ADS_1


Elsa segera berlari sambil menenteng tas handbagnya. Ia melihat abangnya yang duduk manis di depan meja makan sedang menikmati sarapan paginya.


"Elsa! Kamu enggak sarapan Dek?" Tanyanya Ergi Andrean dengan sedikit berteriak karena Elsa sudah ngacir lari dari hadapannya.


"Tidak sempat lagi Abang!" Balasnya dengan berteriak pula.


Ergi hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap adiknya yang tidak biasanya itu.


"Syukur Alhamdulillah… makasih banyak ya Allah… untungnya hari itu ada orang yang sangat baik ikhlas mendonorkan jantungnya untuk adikku sehingga ia masih bisa hidup sampai detik ini, tapi kami belum sempat untuk berterima kasih padanya ,apa aku ke rumah sakit untuk bertanya siapa gadis itu supaya aku bisa pergi bersama Elsa untuk berziarah ke makamnya," cicitnya Ergi lalu melanjutkan acara makannya.


Elsa rencananya hari ini akan memakai mobil,tapi ia kembali mengurungkan niatnya karena jalanan pasti sudah macet dan jika ia memakai mobil pergerakannya di atas aspal pagi itu akan sedikit terganggu jika dibanding memakai motor matic baru dibeli oleh abangnya sepesial untuknya.


"Blue hari ini kamu belum aku pakai yah tunggu giliran kamu,aku pilih si Red,"


Elsa memberikan nama setiap benda mati yang selalu menemani kesehariannya itu. Red adalah nama pilihannya motor matic yang nantinya akan menjadi kesayangannya yang kebetulan berwarna merah. Elsa segera memakai helmnya yang senada dengan warna motornya dengan motif kartun.


Elsa segera mematikan mesin motornya, lalu berjalan ke arah tukang parkir dengan langkah yang sedikit pincang," woi bang tolong parkirkan motorku yah ini juga helmnya sekalian, nanti aku kasih uang capeknya kalau aku pulang," jeritnya Elsa yang selalu berbicara dengan nada suara yang cukup tinggi karena Ia berlari seraya berbicara agar bisa menghemat waktu.


Elsa menyerahkan semua barang kesayangannya untuk diamankan oleh petugas parkir. Tanpa peduli dengan situasi disekitarnya yang sebenarnya sejak kedatangannya sudah menarik simpatik dan perhatian dari seorang pria yang masih asyik duduk di kursi jok belakang dengan senyuman smirknya.


"Itu kan gadis mangga, apa yang dilakukannya disini," gumam Agam dengan mengerutkan keningnya itu yang keheranan melihat kedatangan Elsa.


Agam segera menghubungi Mety untuk bertanya tentang perempuan yang bernama Elsa Safira Nadine Renaldi apa tujuannya datang ke perusahaannya.

__ADS_1


Hanya butuh waktu sebentar saja, info tentang maksud Elsa datang ke perusahaan miliknya sudah di dalam genggamannya. Agam membuka layar hpnya ketika berbunyi nada beep.


"Salah satu kandidat calon sekretarisku rupanya kalau seperti ini seru kalau aku sedikit bermain dengannya, cukup menarik dia memiliki nilai yang cukup tinggi tapi, kita lihat saja apa dia mampu melewati tes khusus yang aku berikan untuknya," lirih Agam.


Supirnya memperhatikan setiap gerak geriknya Bosnya itu," Maaf Pak tadi Anda bicara apa?"


Agam kembali'menetralkan perasaannya dan raut wajahnya kembali dingin,cuek dan datar, "Saya tidak bicara apa-apa, kamu pulang saja nanti aku bawa sendiri mobil ini," perintahnya Agam lalu berjalan cepat ke arah pintu rahasia khusus untuk dia saja.


Samar-samar terlihat guratan senyuman terpancar dari wajahnya itu jika harus kembali mengingat gadis mangganya. Elsa sesekali mengeluh kesakitan dipermukaan lukanya jika bergesekan dengan pakaiannya sendiri yang dipakainya.


Elsa berjalan cepat sambil membuka layar hpnya dan melihat begitu banyak panggilan tidak terjawab dari nomornya Nada dan juga pesan chat. Untungnya kemarin Nada sudah mengirimkan alamat lengkap tempat kerjanya sehingga ia tidak mengalami kesulitan yang berarti menuju alamat tersebut.


"Mbak Nada pasti akan ngomel-ngomel kalau kami ketemu nanti, sudah aah nanti aku balas chatnya yang paling penting ke tempat tes dulu semoga aku tidak terlambat, bismillahirrahmanirrahim," cicitnya ketika menekan tombol lift.


Elsa kembali berlari setelah sudah sampai di lantai enam kantor tersebut. Ia tidak mau usahanya sia-sia. Sudut ekor matanya melihat masih banyak orang yang berdiri di lokasi area tempat tesnya membuat Elsa bisa bernafas lega.


Elss tidak mengetahui jika sebenarnya tesnya sudah dimulai dan berjalan sedari tadi itu pertanda tesnya sudah ditutup bagi siapapun yang terlambat. Tapi, karena CEO mereka yang menginginkan agar Elsa masih diberikan kesempatan untuk ikut dengan pastinya mereka harus merahasiakan hal itu dari siapapun jika tidak, pekerjaan dan masa depan mereka akan jadi taruhannya.


"Siapa perempuan ini sampai-sampai Pak Agam memberikan perintah khusus untuknya," Mery membatin sembari membuka berkas cv Elsa.


Elsa berusaha mengatur nafasnya yang ngos-ngosan itu baru dia menyerahkan mapnya ke dalam genggaman tangannya Mery.


"Maaf Mbak saya terlambat dan ini berkas saya," imbuhnya Elsa sambil menyodorkan berkasnya ke depannya Mery di atas meja.

__ADS_1


Mery memperhatikan dengan seksama penampilan Elsa dari ujung hijabnya hingga ujung sepatunya," cantik, pantesan Pak Agam bersikap tidak biasanya kalau seperti ini aku harus segera menghubungi Tuan Besar Muktar Nababan dengan Nyonya Lusiana pasti mereka akan cukup terkejut dengan perubahan besar yang dialami oleh anaknya yang dikatakan impoten itu," sudut bibirnya Mery terangkat menyadari pikirannya sendiri.


Bagi Like, Komentar, gift iklan,poin dan koinnya dong kakak readers...


__ADS_2