
Mereka menginginkan masalah kejadian itu segera teratasi tanpa ada keributan selanjutnya yang diciptakan dari ulah penjahat itu.
"Aldian dan Roy bawa mereka pergi sekarang juga, tapi Ingat jangan biarkan mereka lolos apalagi mencoba untuk bunuh diri dan menghilangkan bukti apapun itu," perintah Ando.
"Baik, kalau gitu kami pamit,"
"Agam, sabarlah semua ini sudah jalannya, kita tidak mungkin bisa menentang kehendak dari sang Pencipta pemilik kehidupan yang telah dititipkan pada kita semua, bagaimana pun caranya kamu menjaganya jika,Tuhan telah berkenan dan berkehendak apa lah daya kita hanyalah manusia biasa yang harus rela dan ikhlas menerima kenyataan ini," bujuk Ando yang berusaha untuk menyadarkan Agam dari keterpurukannya.
Agam menatap nyalang ke arah Ando," jika aku berada di posisimu pasti aku akan berkata seperti ini juga, cerita itu sangat mudah seperti mudahnya membalik telapak tangan, tapi untuk melakukan semua yang kamu katakan adalah sangat sulit,kamu tidak tahu jika sejak enam tahun lalu aku sudah mencintai Elsa bagaimana bisa dengan semudah itu aku melupakan dan menerima semua ini, dia gadis yang selalu ada dalam hatiku sejak kami bertemu di Samarinda saat ia hampir jatuh ketika memetik buah mangga," jelasnya Agam.
Seseorang yang berdiri di belakangnya Agam tidak menyangka jika, cinta pertamanya adalah pria yang akan menjadi suaminya nanti. Laki-laki itu sekaligus atasannya di perusahaan. Dan yang terpenting adalah juga kakak dari perempuan yang telah menolongnya dengan sukarela dan keikhlasannya mendonorkan jantungnya hingga ia masih hidup hingga detik ini hingga bisa menikmati indahnya dunia.
__ADS_1
Agam menundukkan wajahnya dengan menitikkan air matanya itu yang sudah menetes membasahi pipinya. Hatinya pilu telah ditinggal seorang diri.
Ando segera menghubungi Tuan Besar Alexander Mutahar dengan kejadian yang menimpa Elsa Safira Nadine Renald agar mereka segera waspada dan berhati-hati. Karena bisa saja penjahat itu mengarahkan kekuatannya ke rumah calon istrinya Andira Farhana Albert.
Sedangkan Agam masih betah berlutut dengan kesedihannya yang tidak terbendung lagi. Ia meratapi nasibnya yang begitu malang, padahal rencananya besok kedua orang tuanya akan berangkat ke Kalimantan Timur kota Samarinda untuk meminang gadis pujaannya itu. Tapi, apalah daya, semua itu ia harus kubur dalam-dalam.
"Elsa!! Maafkan Abang semua ini kesalahan Abang yang tidak becus menjagamu, karena Abang terlalu bodoh mengijinkan kamu pulang seorang diri saja, apa yang aku katakan kepada kakak dan ke-dua orang tuamu jika mereka bertanya tentang ini semua, apa yang harus aku katakan?!" Jeritnya Agam yang meninju aspal saking marahnya dalam penyesalannya.
Carlando Arlamd Roland atau yang sering disapa Ando hanya tersenyum melihat seorang pria yang biasanya terlihat dingin,kaku, senyum yang jarang sekarang dalam keadaan menangis, meraung dan berteriak-teriak melepas kepergian kekasihnya yang tidak apa-apa itu hanya kesalahpahaman saja.
"Cinta sungguh begitu besar pengaruhnya hingga membuat orang yang waras dan normal menjadi gila dan idiot!" Sarkasnya Ando sambil menyandarkan tubuhnya ke atas kap mesin mobilnya.
__ADS_1
"Kamu mungkin belum pernah berada diposisi mencintai seseorang sedangkan wanita itu mencintai pria lain, bagaimana sakitnya apalagi mengira perempuan yang sangat kita sayangi dan cintai setulus hati meninggal dunia di depan mata kita sendiri, sakitnya tuh disini," ketusnya Ariel Satrya Muller.
"Aku sudah pernah berada di dua posisi dan keadaan itu, tapi aku belajar pada pengalaman itu aku harus bangkit dan sabar serta ikhlas menjalaninya karena hidupku masih dibutuhkan oleh beberapa orang yang masih nenyanyangiku, aku sedih, terpuruk, hancur berkeping-keping hingga seakan-akan tubuhku, jiwaku terhimpit oleh benda yang sangat besar hingga saya semakin kesulitan untuk bernafas hingga aku tersadar jika, aku dalam keadaan seperti ini terus maka orang-orang yang aku sayangi dan cintai itu pasti pergi dengan tidak tenang hingga akan membuat kami dalam kehidupan yang tidak jelas dan kesengsaraan yang berkepanjangan, satu hal yang perlu kamu ketahui jika semua ini sudah menjadi suratan takdir dari Illahi yang mutlak pasti akan terjadi dalam setiap hidup insan manusia," jelasnya Ando panjang lebar.
Agam mendengarkan perdebatan kecil kedua sahabat sekaligus calon adik iparnya itu,"apa yang kalian katakan benar adanya, tapi aku tidak tahu sampai kapan aku harus hidup dalam kubangan lumpur penyesalan yang semua kejadian ini adalah karena ulahku, kebodohanku sendiri sehingga Elsa Safira Nadine calon istriku gadis manggaku harus pergi di depan kedua mataku menjadi saksi bisu dari kecelakaan maut itu, mobil itu terbakar di depanku," ratapnya Agam yang semakin meneteskan air mata itu membasahi pipinya.
"Abang Abdillah Abqari Agam!" Sapanya seseorang yang berdiri di belakangnya yang masih setia berlutut.
Agam tidak menolehkan kepalanya karena menganggap itu hanya ilusi belaka saja.
"Aku pasti hanya berhalusinasi mendengar suara dari Elsa," cicitnya Agam.
__ADS_1
"Abang Agam, apa kamu tidak ingin melihat aku lagi!?" Tanyanya Elsa yang sangat ingin tertawa terbahak-bahak melihat reaksi dari Agam yang menganggap bahwa dirinya hanya mimpi dan ia hanya berhalu saja.