Hikayat Cinta Elsa Agam

Hikayat Cinta Elsa Agam
Bab. 22


__ADS_3

Mila membanting pagar besi itu dengan kuat hingga menimbulkan bunyi suara yang cukup nyaring. Elsa segera bangkit dari duduknya untuk melihat langsung apa yang terjadi di luar. Mila menutup pintu pagar itu tanpa memikirkan sang penghuni rumah apa kah terganggu atau tidak.


Ia kemudian berjalan tak tentu arah, hingga Mila Agnesia berjalan terus tanpa henti, hingga ia kembali tersadar dengan apa yang dilakukannya setelah beberapa meter jauhnya.


"Ahh!! Ergi aku akan balas semua apa yang telah kamu lakukan padaku! Aku terlalu bodoh sehingga tidak memikirkan dengan baik sebelum aku datang ke sana, ini semua gara-gara Antonio yang tidak ingin bertanggung jawab pada kehamilanku sehingga aku panik dan cemas yang berlebih-lebihan sehingga aku tidak memikirkan semuanya dengan baik," geramnya Mila dengan kepalan tangannya yang kuat sambil menendang kap mobilnya hingga hanya kakinya yang merasakan kesakitan sedangkan kap mobilnya hanya sekedar penyok saja.


Amarah dan murka jelas terlihat dari raut wajahnya Mila. Ia kemudian membuka pintu mobilnya itu dengan sekuat tenaga hingga, dia sama sekali tidak memikirkan kondisi janin yang ada dalam kandungannya itu.


"Jika aku tidak bisa hidup bersama dengan Ergi Andrean Renald maka siapapun perempuan itu tidak akan boleh menikah dengan Erga, saya tidak akan biarkan siapapun bahagia di atas penderitaanku ini dan Elsa kamu juga bakal rasakan akibatnya telah ikut campur dalam urusanku sehingga aku gagal menikah dengan Erga tunggulah saat itu," umpatnya Mila.


Keesokan harinya, Elsa masih tertidur pulas dalam kamarnya. Padahal sudah jam delapan lewat. Ia melupakan jika, hari ini dia akan berangkat ke Seoul, Korea Selatan.


Bel rumahnya berbunyi dipagi hari itu, Ergi Andrean Renaldi sudah berangkat ke kantornya. Yang tersisa adalah Elsa Safira Nadine Renald yang masih meringkuk dalam selimut yang menikmati buaian mimpinya itu. Bel berbunyi nyaring, Bi Sumi segera berjalan ke arah pintu depan dengan tergopoh-gopoh.


"Siapa yah yang bertamu, apa Tuan Muda Ergi pulang lagi? Mungkin ada barang yang dia lupa kali," gumamnya Bi Sumi yang memutar handle pintu.


Pintu itu terbuka lebar dan Bu Sumi hanya melihat punggung lebar seorang pria yang memakai setelan pakaian jas lengkap.


"Maaf Pak Anda cari siapa?"


Abdillah Abqari Agam segera memutar tubuhnya ke arah perempuan yang menyapanya.

__ADS_1


"Waalaikum salam, maafkan saya ganggu aktifitasnya Bu, apa Elsa Safira Nadine ada di rumah?" Agam melirik ke sana kemari mencari keberadaan sekretaris idolanya itu.


"Non Elsa, masih di dalam kamarnya, sepertinya belum bangun Pak," jawabnya Bibi Sumi.


"Apa aku boleh bertemu dengannya Bu?"


"Kalau gitu aku panggilkan dulu yah Pak, silahkan duduk di dalam saja Pak sambil nungguin Nona Elsa," pintanya Bu Sumi.


"Makasih banyak Bu," Agam lalu mengekor di belakangnya bibi Sumi untuk berjalan ke sofa yang berada di ruang tamu.


Bi Sumi segera berjalan ke arah atas menaiki satu persatu undakan tangga.


"Pria itu sangat ganteng, apa itu kekasihnya Nona Muda?" Cicitnya Bi Sumi.


"Non, bangun ada temannya nungguin di bawah," teriaknya Bu Sumi.


Beberapa kali usaha yang dilakukan oleh Bi Sumi,tapi hingga tangannya bi Sumi tampak merah dan cukup lelah Elsa sama sekali tidak terusik dalam tidurnya. Bi Sumi tidak tahu harus berbuat apalagi agar Elsa Nona Mudanya bangun. Karena terlalu lama, Agam memutuskan untuk naik menyusul bibi Sumi yang belum pulang juga.


"Bibi ke bawah saja, ijinkan aku yakin bangunin, karena aku yakin dia akan bangun jika aku yang bangunin," imbuhnya Agam.


"Tapi, Tuan Muda," cegahnya Bi Sumi.

__ADS_1


Agam tersenyum tipis," Bibi tidak perlu cemas, serahkan semuanya padaku, Bibi silahkan turun untuk lanjutkan pekerjaannya bibi," tukas Agam.


"Baiklah Tuan Muda,"


Agam melihat Bi Sumi sudah pergi dan punggungnya tidak terlihat lagi.


"Sepertinya anak ini sengaja enggak bangun karena sengaja mencari alasan agar tidak ikut denganku," ketusnya Agam seraya berusaha memutar kenop pintu kamarnya Elsa.


Agam tersenyum karena, ternyata pintu kamar itu tidak terkunci, "Anak ini cukup teledor sampai-sampai tidak mengunci pintunya dengan rapat, gimana kalau ada orang yang berniat jahat."


Agam berjalan masuk lebih dalam lagi dan melihat ada benda seperti tumpukan kain di atas ranjang. Agam segera menarik selimut itu dengan sekuat tenaganya tanpa memikirkan konsekuensi dari apa yang dia kerjakan.


Selimut itu tertarik dengan satu kali tarikan hingga kedua matanya Agam melotot saking kagetnya melihat sosok gadis yang cantik dalam balutan pakaian yang cukup seksi dan terbuka. Elsa hanya memakai tentop dan celana yang cukup pendek. Agam kesusahan menelan air liur sendiri saking terkejutnya melihat bentuk tubuhnya Elsa yang cukup menarik untuk dilihat oleh siapapun terutama kaum Adam.


Kehidupan in bukan untuk menemukan cinta, tapi untuk membangun cinta. Cinta yang indah tidak mungkin hanya ditemukan. Cinta yang indah menuntut pengorbanan yang tidak sederhana.


Hanya dibutuhkan beberapa detik untuk jatuh cinta, tapi seumur hidup untuk membuktikannya.


"Menunggumu dalam kesabaran lebih indah bagiku dari pada mengungkapkannya. Menantimu dalam doa lebih bermakna dari pada menjelaskannya."


Jika jahat dibalas kejahatan, maka itu adalah dendam.

__ADS_1


Jika kebaikan dibalas kebaikan maka itu adalah perkara biasa.


__ADS_2