
"Auh semut merah!!" jeritnya Agam.
Bu Ratih dan Mbak Ani serta bi Anna secepatnya berlari ke arah Agam yang melihat kejadian Agam lompat saking menghindari dan mengurangi rasa gatal ditubuhnya itu akibat gigitan semut.
Abdillah Abqari Agam melompat dan berjalan mondar-mandir ke sana kemari gara-gara berniat mengurangi rasa gatal akibat gigitan serangga kecil sejenis semut.
"Auhh gatal!" Teriaknya Agam yang mengeluh hampir di sekujur tubuhnya mengalami rasa gatal yang tidak tertahankan.
Bu Ratih Ambar Purwanti dan bibi Anni segera berlari menuju Agam untuk memberikan secepatnya menolongnya itu. Mangga yang berada di dalam kantong kresek terjatuh ke atas rumput.
"Bi Anna tolong ambilkan salep gatel di dalam laci meja rias di kamarku!" Perintahnya Bu Ratih yang berteriak kencang ke arahnya Bibi Anna yang baru hendak berlari ke arah mereka.
Bi Anni terkejut mendengar perintah dari majikannya itu yang mengatakan salep gatal," Nyonya Besar kenapa mintanya salep gatal bukannya itu akan menambah parah penyakitnya Tuan Muda yang benar tuh pereda atau obat anti gatal itu baru cocok Nyonya Ratih yang terhormat,"
Bu Ratih menatap jengah ke arah Ani, "Terserah deh apa katamu, saya panik melihat Agam anak menantuku ini,lihat tuh sudah guling-guling di atas tumpukan rerumputan kan kasihan melihatnya," ujarnya Bu Ratih yang bukannya membantu Agam malahan berdebat dengan Bi Anni.
"Ya Allah… mama sama Bibi Anni bukannya tolongin saya kek apa gitu yang kalian lakukan malah berdebat hal yang tidak masuk akal dan sepele itu," ketusnya Agam yang tubuhnya sudah memerah karena ia sudah membuka bajunya hingga terekspos lah bekas gigitan semut itu di permukaan kulitnya.
__ADS_1
Bu Ratih mengangkat lengannya Agam untuk berdiri, "Ayo Mama bantuin kamu berdiri kita obatin di dalam lukamu," pintanya Bu Ratih.
Agam menurut saja dan sempat-sempatnya ia meraih kantong kreseknya yang berisi beberapa buah mangga itu. Ia sudah bersusah payah hingga harus relakan kulitnya digigit oleh beberapa jenis macam serangga kecil.
"Sini duduk Mama akan bantuin kamu," pinta Bu Ratih yang segera mengambil salep pereda gatel tersebut dari dalam tangannya Bi Anna.
Dengan telaten dan hati-hati, Agam diobati oleh ibu mertuanya itu. Sedang kedua asisten rumah tangganya itu hanya terdiam dan berdiri mematung di tempatnya masing-masing memperhatikan interaksi antara anak menantu dengan sang ibu mertua.
"Nak Agam kenapa meski harus manjat segala sih? Kan bisa tuh minta bantuan sama Mang Jono Iskandar siap membantumu," imbuhnya Bu Ratih.
"Saya pengen buah mangga ini dimakan oleh Elsa Safira Nadine istriku dan ketika memakannya selalu teringat padaku sehingga Elsa semakin cinta padaku," jawab Agam yang serius berkata jujur mengungkapkan maksudnya harus repot-repot manjat segala.
Candaan Bu Ratih membuat keduanya yang terseret dalam arus candaan spontan memeriksa kulitnya masing-masing.
"Benar juga, Tuan Muda Agam kulitnya seputih susu sebening embun pagi dan secerah mentari pagi hari," pujinya bibi Ani.
Apa yang dikatakan oleh Bibi Ani membuat Agam tersipu, wajahnya langsung merona memerah.
__ADS_1
"Pasti perawatannya pakai skincare mahal yah Tuan Muda?" Celetuk Mbak Anna.
"Sudah aah kalian bisa saja berguraunya dalam keadaan genting seperti ini," ketusnya Bu Ratih.
"Iih Nyonya kan yang mancing duluan, kenapa malah kami yang disalahkan," cercanya Bi Anni lagi.
Berselang beberapa menit kemudian, Pak Renaldi Hutabarat yang baru pulang dari kantornya, tercengang melihat kondisi Agam yang tidak memakai pakaian duduk di sofa ruang tengah yang dipakai untuk ruangan keluarga tersebut hingga sampai melupakan mengucapkan salam sebelum berjalan ke arah dalam rumahnya tersebut.
"Ibu! Apa yang terjadi dengan suaminya Elsa?!" Teriaknya Pak Renald Papanya Elsa.
Bu Ratih yang sedang mengontrol dan memeriksa makanan yang sedang dimasak oleh artnya itu segera menyimpan sendok teh yang sempat ia pegang itu. Kemudian segera berjalan tergesa-gesa ke arah depan.
"Apa yang terjadi Pak,kok datang-datang pake berteriak segala, emangnya rumah kita ini hutan belantara apa," sarkas Bu Ratih yang menatap jenuh ke arah suaminya.
"Papa cuma kaget dan keheranan melihat Agam seperti itu," tunjuknya pada pria yang sudah tertidur pulas di atas salah satu sofa di ruangan keluarga.
"Hush! Jangan berisik pak kalau ngomongnya, ini ulahnya sendiri yang terlalu ceroboh dan gegabah manjat pohon mangga tak bilang-bilang terlebih dahulu, kasihan ia baru terlelap menahan rasa gatal di seluruh badannya itu hingga ke kakinya dan juga tangannya," jelas Bu Ratih.
__ADS_1
"Emang Elsa mana Ma,kok enggak dijagain oleh Elsa putri kita?" Tanyanya lagi.
Bu Ratih bukannya menjawab pertanyaan dari Tuan besar, malahan dia berjalan mendekat ke arah telinganya suaminya lalu membisikkan kata-kata yang sangat penting, Pak Renald hanya tersenyum. Beliau mendengarkan dengan seksama sembari manggut-manggut dan manut dengan apa yang dikatakan, dijelaskan oleh istrinya tercinta itu yang sudah bersamanya melewati suka duka kehidupan selama hampir dua puluh sembilan tahun itu.