Hikayat Cinta Elsa Agam

Hikayat Cinta Elsa Agam
Bab. 45


__ADS_3

Aldian segera kabur dari hadapannya Agam karena, takut dengan berbagai ancaman dan amarahnya Agam.


Aldian Aslan Kim yang kebetulan masuk ke dalam kamarnya kakak sepupunya itu tanpa permisi karena, sudah mengetuk tapi, tidak ada jawaban sama sekali sehingga ia langsung main nyelonong saja.


"Tidak tahan apa Abang!?' teriaknya Al yang segera berlari ngacir keluar setelah berteriak di telinganya abangnya langsung.


"Sepertinya ke rumah sakit menemui perempuan tercantikku lebih bagus dari pada harus melihat kebucinan kakak Agam," gumamnya Aldian Aslan Albert


Aldian mengemudikan mobilnya menuju salah satu rumah sakit sebagai tempat kerjanya Dini Kayla Susanti Wahab. Seperti biasa ia memarkirkan mobilnya sambil menunggu kepulangan Dini. Hari hari minggu sehingga ia off kerja. Ia menunggu Dini sambil memainkan game online dihpnya itu.


"Sketer, double wins," cicitnya Aldian yang sangat serius bermain domino.


Hingga tanpa sepengetahuannya Dini sudah berjalan melalui mobilnya yang terparkir itu. Suasana malam itu sungguh sepi, padahal baru jam delapan. Sesekali ia melihat ke arah pintu keluar,tapi satupun tidak ada yang melewati pintu itu yang bernama suster Dini.


"Kok belum pulang juga, padahal katanya cuma jaga siang hari ini," lirihnya Aldian.


Teriakan seseorang mampu mengalihkan perhatiannya dari layar hpnya dengan secepat kilat ia keluar dari dalam mobilnya,lalu mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Hingga sudut matanya melihat seorang perempuan yang dipaksa masuk ke dalam sebuah mobil minibus yang sangat ia dikenalinya.


”Itukan Dini, woi kalian mau bawa kemana pacarku!" Teriaknya Al yang segera masuk ke dalam mobilnya dan mengikuti mobil tersebut.


"Siapa kalian, kenapa menculikku apa salahku pada kalian!" Tanyanya Dini yang tangannya sudah diikat dengan sebuah tali.


Plak!!!


Sebuah tamparan meluncur keras langsung mengenai pipi kanannya itu. Dini tersungkur ke samping karena tidak mampu menghindar karena, tamparan itu datang tiba-tiba dan juga tangannya terikat sehingga ia kesulitan untuk melawan.


Pria itu mencengkram erat dagu lancipnya Dini hingga ujung kukunya menancap ke kulitnya hingga membuat Dini meringis menahan perihnya lukanya itu.


"Diamlah!, tidak perlu banyak bicara! Jika kamu masih cerewet maka saya tidak akan segan-segan untuk membuatmu menyesali apa yang sudah kamu perbuat!" Bentak pria botak itu.


Aldian segera menghubungi anak buahnya untuk segera membantunya, karena takutnya pencuri itu adalah berjumlah banyak orang.


"Kamu pasti akan bahagia setelah ini, tidak perlu capek-capek bekerja sebagai perawat dengan gaji yang rendah, kamu cukup melayani semua tamu yang datang ke club kamu akan menikmati uang yang sangat banyak," ungkap Pria gondrong itu.


Matanya Dini melotot saking kagetnya mendengar perkataan dari mulutnya penjahat itu jika dirinya akan dijadikan perempuan kupu-kupu malam.

__ADS_1


"Apa! Aku tidak mau, kenapa kalian tega melakukan ini padaku!?" Pekiknya Dini yang beringsut mundur kebelakang dengan kondisi tangannya yang terikat kuat hingga tangannya memerah menahan perih karena bergesekan dengan permukaan kulitnya dengan tali tambang itu.


"Hahaha!" Tawa mereka sungguh menakutkan dan menyeramkan.


"Kamu itu sudah dijual oleh Ibumu, ini semua perintahnya karena terlalu banyak hutang sehingga tidak mampu membayarnya sehingga harus menebus hutangnya dengan menjual dirimu yang masih pee raaa waan pada bos kami," jelas pria kurus itu.


Matanya kembali terbelalak mendengar ucapannya pria yang tubuhnya paling kecil dari rekan kerjanya yang lain.


Aldian terus mengejar mereka hingga , mobilnya Aldian sudah semakin dekat dengan mobil yang dipakai oleh penjahat itu.


"Bos ada sebuah mobil Lamborghini Veneno mengejar kita, apa yang seharusnya kita lakukan?"


"Apa mobil Lamborghini, siapa anak Sultan itu yang ingin mencari mati!?" Geramnya Pria botak.


"Sepertinya pemilik mobil itu kenal dengan gadis yang kita culik ini," pungkasnya pria tubuhnya paling pendek dari yang lain.


"Ayo cepat tambah kecepatannya!" Perintah dari sibotak.


Mobil tersebut semakin melaju dengan kecepatan yang semakin lama semakin tinggi dan cepat laju mobilnya. Aldian segera meraih senjatanya di dalam laci dasboard mobilnya itu.


"Tiga, dua, satu," hitungnya Aldian yang menembaki salah satu ban mobilnya itu dengan tepat sasaran.


Mobil itu pun melaju dengan kecepatan yang sudah tidak terkendali. Mobil itu oleng, Aldian tersenyum melihat tembakannya tepat sasaran.


"Aahhh! Tolong!" Jerit Dini yang semakin ketakutan karena semua penghuni mobil itu sudah tidak duduk dengan baik di dalam mobil.


"Yes, ini saatnya pahlawan datang menyelamatkan nyawanya Dini," cicit Aldian.


Dengan kecepatan yang cukup tinggi Al menabrakkan mobilnya ke kap belakang mobil tersebut sehingga mobil penjahat tersebut menabrak pembatas jalan yang dilaluinya.


"Aahhhh!!" Teriak Dini yang berusaha melindungi wajah dan kepalanya dari tabrakan dengan kursi depan mobil.


Al segera berlari ke arah mobil tersebut untuk menyelamatkan perempuan yang sudah dianggapnya kekasihnya sendiri walaupun mereka belum jadian.


"Dini! Kamu dimana, apa kamu baik-baik saja?" Aldian segera membuka pintu mobil minibus itu dengan paksa dan ia terkejut melihat kondisi Dini.

__ADS_1


"Kalau Anda berani untuk maju beberapa langkah maka kepalanya suster ini akan meledak dan isinya berhamburan keluar.


Aldian tepaksa mundur beberapa langkah demi keselamatan Dini, ia terpojok dan kebingungan harus melakukan apa. Keempat penjahat itu keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah depannya Aldian.


"Kemana mereka semua, padahal aku sudah menelpon mereka sekitar hampir setengah jam yang lalu," batinnya Aldian.


"Kamu sok jagoan rupanya, kalau tidak punya kemampuan jangan sekali-kali berani melawan kami apalagi bos besar kami, hanya mengandalkan mobil yang bagus dan mewah sudah berani mengganggu pekerjaan kami," gertak si botak.


"Benar sekali, pria pengecut mau jadi pahlawan mana bisa," sarkas si gondrong yang langsung menendang bagian perutnya Al.


Aldian yang tidak bersiap karena melihat ke arah lain hingga ia tersungkur ke atas aspal tekena tendangan yang cukup keras diperutnya.


"Aldian awas!!" Jeritnya Dini.


Jeritan Dini terlambat hingga penjahat itu berhasil dengan usahanya untuk melukai Aldian.


"Aah!" Keluhnya Al sembari menyeka darah yang kebetulan mengalir dari sudut bibirnya itu.


"Hanys itu kemampuanmu gondrong!" Ketusnya Al yang bangun dari tempatnya.


"Apa kamu bilang! Baiklah aku akan perlihatkan kemampuanku padamu,"


Baru saja ingin melangkahkan kakinya si Gondrong, suara beberapa tembakan membuat mereka tersentak terkejut mendengar suara tembakan itu.


"Aahh!! to-long!" Dini kembali berteriak melihat banyak darah yang berceceran di atas aspal malam itu dan percikan darah itu sempat mengenai wajahnya.


Elsa Safira Nadine entah kenapa malam itu begitu tidak tenang, hatinya seperti merasakan akan ada sesuatu yang terjadi. Elsa mondar mandir di depan ranjangnya yang baru saja mengakhiri telponnya itu.


"Ya Allah… kenapa perasaanku sangat gelisah, seolah ada yang terjadi pada keluargaku sendiri tapi apa itu, Abang Agam juga baru selesai matiin telponnya, Abang Ergi juga ada di rumah,papa dan mama baik-baik saja, tapi apa yang terjadi padaku kenapa seperti ini," Lirihnya Elsa.


Agam yang baru saja hendak ke ruang tamunya untuk berkumpul dengan keluarga besarnya yang sudah berdatangan baik dari dalam negeri seperti dari daerah jauh hingga maupun luar negeri.


Langkahnya Agam terhenti padahal tersisa beberapa langkah saja karena deringan telponnya. Ia pun segera mengangkat telpon itu. Matanya melotot dan terbelalak mendengar perkataan dari orang yang dari seberang telepon.


"Apa! Itu tidak mungkin!" Teriaknya Agam.

__ADS_1


__ADS_2