
Dengan wajahnya yang selalu ditekuk Elsa Safira Nadine Renaldi meninggal rumahnya menuju ke bandara internasional Soekarno Hatta Jakarta dan akan menuju bandara internasional Incheon airport Korea Selatan.
"Kamu cemberut seperti itu semakin membuat aku jatuh cinta padamu," bisiknya Agam ketika mengunci pintu mobil disebelahnya Elsa.
Elsa langsung mengalihkan perhatiannya ke arah luar mobil karena tidak ingin melihat wajahnya Agam yang selalu tersenyum kearahnya.
Abdillah Abqari Agam sesekali melirik apa yang sedang dilakukan oleh Elsa sang sekretaris cantiknya itu. Elsa sama sekali tidak menggubris apapun yang dilakukan oleh Agam, karena sudah membuat hatinya badmood yang sangat ingin segera kabur dan bersembunyi dari hadapannya Agam.
Elsa menatap ke arah luar sambil memegangi dadanya, ada getaran yang aneh yang tiba-tiba muncul dari dalam hatinya itu. Karena pesawat yang ditumpanginya belum berangkat, sehingga masih memiliki waktu beberapa menit untuk memainkan gedjetnya itu.
"Assalamualaikum Ibu," sapanya Elsa ketika melihat di layar hpnya siapa orang yang sudah menelponnya itu.
"Waalaikum salam Nak cantik, gimana kabarnya sayang?" Balasnya Bu Liviana Alexander Mutahar.
"Alhamdulillah baik kok Bu, kalau Ibu gimana?" Tanyanya balik Elsa.
Elsa berbincang-bincang santai dengan Bu Livia tanpa pedulikan Agam yang cemberut karena keberadaannya dicuekin oleh Elsa.
"Ada apa yah Bu, sepertinya ada yang ingin Ibu katakan padaku?"
"Sebenarnya Ibu ingin mengundang kamu ke rumah malam ini, apa kamu bersedia?" Sekedar basa-basi saja karena hanya bertujuan ingin mengetahui apa Elsa jadi berangkat ke Korsel bersama putra tunggalnya itu karena sesuai dengan yang dia ketahui,jika Elsa sangat menentang keinginan putranya itu.
Lirikan matanya tertuju pada Agam yang mendumel kesel di kursinya, "Maafkan saya yah Bu mungkin kali ini akan mengecewakan harapan ibu, karena kebetulan saya ingin ke luar negeri jadi mungkin untuk hari ini belum bisa," tolaknya secara halus.
Bu Livia tersenyum dibalik hpnya,"Hati-hati kalau gitu semoga pulangnya bawa kabar gembira," ucapnya Bu Liviana.
"Kabar gembira!" Beonya Elsa.
Amara Alfiani Ramadhani menguping pembicaraan mama dan calon kakak iparnya itu, "Maksudnya Ibu semoga kerjaannya berjalan lancar dan sukses gitu," elaknya Bu Liviana.
__ADS_1
Amarah berusaha menahan tawanya mendengar mamanya keceplosan papanya juga seperti itu. Bu Livia segera menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya agar keduanya diam agar Elsa tidak curiga sedikitpun.
"Kalau gitu hati-hati Nak cantik, assalamualaikum," ujarnya Bu Liviana sebelum menutup sambungan teleponnya itu.
"Waalaikum salam,"
Agam tersenyum tipis mendengar percakapan Mama dan Elsa," aku harap ada kemajuan dari pendekatan yang dilakukan oleh Mama dan pasti tujuan mereka menelpon adalah untuk memata-matai kami,"
"Bu Liviana, pasti kecewa karena aku menolak ajakannya," lirihnya Elsa.
"Kamu ngomong apa,Bu Livia siapa?" Tanyanya Agam yang berpura-pura bertanya kepada Elsa tentang siapa perempuan yang bernama Bu Livia.
Elsa mengalihkan perhatiannya dari layar hpnya," itu ada teman seorang wanita yang sudah tua mungkin seumuran dengan Mamaku di Kalimantan Timur,"
"Kalimantan Timur, ohh jadi kamu dari Kaltim rupanya,"
"Kalau papa dan mama sekarang ada di sana sih, tapi kami aslinya dari Jakarta hanya saja sekitar waktu saya kelas satu sma saya harus dioperasi setelah itu, papa memutuskan untuk pindah ke Kalimantan awalnya Papa pengen ke Bandung tapi,disana papa kesulitan mendapatkan pekerjaan dan kami cukup beruntung karena ada teman Papa yang menyarankan ke Kalimantan saja, Alhamdulillah semuanya berjalan lancar hingga detik ini kami tinggal di Kalimantan," ujarnya Elsa Safira Nadine panjang lebar.
Elsa kembali menatap kearah Agam atasannya itu," iya operasi jantung, saya sejak kecil sudah mengalami gangguan jantung bawaan dan salah satu jalan untuk mengatasi dan mengobati penyakitku dengan jalan satu-satunya adalah mencari pendonor jantung yang cocok denganku dan syukur alhamdulillah ada seorang gadis yang baik hati mengikhlaskan jantungnya untukku," ungkapnya Elsa dengan berwajah sendu karena saking bahagianya hingga air matanya akan jatuh menetes membasahi pipinya itu.
Agam terkejut mendengar perkataan dari Elsa," apa jangan-jangan dia adalah gadis sekolah menengah atas itu yang sangat beruntung mendapatkan anggota tubuh adikku? Karena rumah yang sering aku datangi untuk mencari gadis itu rumahnya sama,"
Elsa memperhatikan raut wajahnya Agam yang berubah-ubah,baru ingin bertanya masalah tentang kecurigaannya, seorang pramugari cantik mendatangi mereka.
"Maaf Tuan dan Nyonya tolong sabuk pengamannya dikencangkan karena pesawat akan segera berangkat," jelas pramugari itu.
"Oke, makasih banyak Mbak,"
Pesawat pun tinggal landas meninggalkan bandara internasional Soekarno-Hatta. Elsa memejamkan matanya sejenak karena, ia merasa lelah.
__ADS_1
"Elsa aku mau tanya apa nama gadis yang telah menolongmu adalah Almairah Mutia Ramadhani?" Tanyanya Agam.
Agam berharap Elsa segera menjawab pertanyaan darinya, tapi hingga sekitar lima belas menit kemudian Elsa sama sekali tidak menggubris perkataannya. Agam yang tidak sabar segera menolehkan kepalanya, ternyata Elsa sudah mendengkur halus.
Agam hanya menggelengkan kepalanya melihat wajahnya Elsa yang imut dengan tidur seperti itu. Agam memperbaiki posisi hijabnya Elsa yang sedikit mengganggu dan menutupi wajahnya Elsa. Agam segera memindahkan kain hijabnya Elsa yang menghalangi pandangan matanya.
"Kamu terlihat manis dan lucu tiduran seperti ini," lirih Agam dengan tangannya menoel hidung mancungnya Elsa dan juga mengelus pipinya Elsa sedangkan yang punya pipi sedang tertidur nyenyak.
Berselang beberapa jam kemudian, pesawat mereka sudah sampai dengan selamat di Korea Selatan dengan selamat.
Sedangkan di tempat lain..
Seorang gadis sedang berdiri di depannya pinggir jalan raya menunggu kendaraan umum. Hari ini kecerobohannya sendiri yang memilih untuk menumpang di mobil temannya.
"Ini gara-gara aku yang terlalu ceroboh dan egois memilih untuk tidak pakai mobil sendiri," dumelnya Amarah Meylani Ramadhani.
Beberapa menit yang lalu,
"Ama, maafkan kami yah, kami tidak mengetahui jika mobilnya Susan tiba-tiba mogok, andaikan saja kami tahu semua bakal seperti ini pasti kami akan lebih memilih untuk makai mobilmu," sesalnya Aurelia.
"Tidak apa-apa kok, anggap saja ini ujian dan semoga besok-besok enggak bakalan seperti ini lagi," kilahnya Amarah yang dalam hatinya cukup jengkel dengan sahabatnya itu.
"Makasih banyak yah Amarah kamu gak marah sama kami, kalau gitu aku bantuin pesankan kamu ojek online boleh yah," pintanya Susan.
"Tidak perlu kok, aku saja yang langsung berjalan ke arah depan sambil nungguin mungkin ada taksi atau ojek yang lewat, dari pada aku nongkrong dengan kalian mulu aku bisa-bisa belum pulang juga," ketusnya Amarah yang sedari tadi berusaha untuk mengontrol emosinya.
Di sinilah Amarah berdiri sembari terus mengayungkan tangannya, untuk memberhentikan beberapa motor dan juga mobil yang kebetulan berlalu lalang melewati jalan itu.
"Pak stop!" Teriaknya Amarah yang berusaha untuk menghentikan laju motor matic yang berwarna merah itu.
__ADS_1
Sang pengemudi motor pun segera berhenti karena, tidak mungkin melajukan motornya dengan Amarah yang sudah berdiri di tengah jalan. Amarah segera naik ke atas motor itu, tanpa banyak pikir maupun banyak tanya. Pengemudi motor berniat untuk mencegah apa yang akan dilakukan oleh Amarah.
"Pak jalan xx yah, cepat Pak jangan lama entar aku kena omelan lagi dari mama dan papa," perintahnya Amarah.