Hikayat Cinta Elsa Agam

Hikayat Cinta Elsa Agam
Bab. 37


__ADS_3

Agam tanpa peduli dengan tanggapan dan penjelasan dari dokter yang menangani Elsa, ia segera berjalan ke arah lift dengan jalannya yang cukup panjang dan lebar.


"Sama-sama Tuan ini sudah menjadi kewajiban dan tugas kami," timpal Dokter Reihan.


Yang lain pun mengikuti jejak langkahnya Agam, mereka bersyukur dan senang karena, Elsa Safira Nadine selamat dari kondisinya yang sempat kritis karena kehilangan banyak darah.


"Ya Allah… apa yang terjadi pada putriku ayah, kenapa sampai Elsa mengalami hal seperti ini," ucapnya sendu Bu Ratih.


Oak Renaldi segera memeluk tubuh Istrinya itu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.


"Sayang istriku, ini adalah cobaan yang Allah SWT berikan untuk kita semua, yakinlah dan percaya jika, putri kita itu kuat dan pasti akan selamat dalam keadaan yang baik-baik saja," pungkas Pak Renald.


"Benar sekali apa yang Papa katakan, Ergi apa kamu sudah berpamitan kepada calon istrimu Nada Azizah?" Tanyanya Bu Ratih yang tidak ingin anaknya pergi ke Jakarta tanpa berpamitan kepada calon mantunya itu.


"Alhamdulillah sudah Ma, barusan kami telponan dan Nada turut prihatin dengan kecelakaan yang menimpa Elsa, Nada juga meminta maaf karena tidak bisa ikut ke Jakarta untuk menjenguk Elsa karena Mama kan tahu kondisinya gimana," imbuhnya Ergi yang menyesal karena kekasihnya tidak bisa ikut bersamanya itu.

__ADS_1


Bu Ratih menatap ke arah anak sulungnya itu, "Tidak apa-apa Nak, katakan saja pada Nada untuk mendoakan yang terbaik untuk Elsa adikmu semoga secepatnya pulih dari sakitnya sehingga dua minggu dari sekarang juga bisa ikut bersama kita semua melaksanakan akad nikah jakiqjy," imbuh Bu Ratih.


"Amin ya rabbal alamin,insya Allah Ma, adikku itu tidak apa-apa karena, barusan aku menelpon atasannya yang mengabarkan kepadaku apabila, Elsa sudah melewati masa kritisnya itu dan satu kabar yang akan membuat papa dan mama pasti terkejut adalah orang yang mendonorkan jantungnya untuk Elsa adalah adik dari CEO perusahaan tempat Elsa bekerja sebagai sekretaris," ungkap Ergi dengan penuh keyakinan.


"Apa!? Apa kamu yakin?" Tanyanya Bu Ratih yang cukup terkejut mendengar penuturan dari mulutnya Ergi fakta baru terungkap itu.


"Apa itu sudah dipastikan kebenarannya?" Tanya Pak Renald.


Ergi tersenyum sumringah bahagia sebelum menjawab pertanyaan dari kedua orang tuanya itu," Ma, Pa keluarga mereka bahagia karena, menurut mereka jantungnya Almairah Mutia Ramadhani nama gadis itu berada di dalam tubuh gadis yang baik,"


Ergi merahasiakan masalah lamarannya Agam dari kedua orang tuanya, hal itu terjadi sesuai dengan keinginan Agam sendiri yang katanya rencananya ingin memberikan kejutan kepada calon mertuanya itu.


Sedang di tempat lain, Agam sedari tadi menggenggam tangannya Elsa yang masih tidak sadarkan diri dalam keadaan pingsannya itu.


"Elsa, calon istriku bangun dong, apa kamu tega melihat Abang kebingungan, ketakutan dan sedih melihat kondisimu yang seperti ini?" Lirihnya Abdillah Abqari Agam Alexander Mutahar.

__ADS_1


Bu Livia dan suaminya pak Alexander Mutahar sudah pulang dari rumah sakit sesuai dengan keinginannya Agam sendiri. Awalnya mereka tidak ingin pulang memilih untuk menginap di rs, tapi Agam mencegah dan melarang kedua orang tuanya mengingat usia new mereka tidak muda lagi dan Papanya siang harinya sibuk bekerja.


Carlando Arland Roland calon suaminya Andira Farhana Albert tidak lain keponakannya Pak Mutahar sepupu dari Agam sendiri yang akan menikah rencananya berbarengan dengan Amarah Meylani Ramadhani adik bungsunya Agam dan kalau diterima lamarannya, Elsa dan Agam juga akan menikah dihari yang sama pula.


"Abang, aku pamit pulang dulu insya Allah… besok saya akan datang lagi dan jika ada yang kamu butuhkan jangan sungkan dan segan untuk menelponku brotha," ucap Ando.


Agam membalas senyuman tipis milik Ando sahabat sekaligus direktur penanggung jawab dari perusahaannya sendiri.


"Thanks atas bantuannya, saya sangat bersyukur karena kamu dan Ariel datang tepat waktu, sehingga semua anak buah penjahat itu mudah kita lumpuhkan dan jatuhkan hingga kita sudah mendapatkan informasi siapa pelaku dibalik semua ini," terangnya Agam.


"Santai kakak ipar, semua ini sudah menjadi tanggung jawab kami semua, karena kita ini calon keluarga jadi pasti kami akan turun tangan membantu Abang sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kami," imbuhnya Ariel Satrya Muller calon suaminya Amarah adik salah satu adik kembarnya Agam sendiri.


"Thanks, hati-hati dengan jalan,apapun informasi yang kalian dapatkan segera infokan kepadaku," tukas Agam yang bersyukur karena banyak orang-orang baik yang mengelilingi kehidupannya itu.


Agam seorang diri menjaga Elsa, matanya sulit terpejam padahal dia sangat mengantuk dan lelah hingga sekitar jam empat subuh, matanya sudah sulit untuk terbuka lebar dan Ia juga jatuh juga dalam lelapnya dan mimpi indahnya.

__ADS_1


Keesokan harinya, Elsa terbangun dari tidurnya dan melihat Agam yang tertidur pulas di ujung bangkar rumah sakit. Elsa masih mengeluh sedikit sakit di bagian kepalanya itu. Dia terenyuh melihat luka diwajahnya Agam dan juga sikunya yang masih menetes darah. Kepalan tangannya pun memar, membiru serta bengkak jika dibandingkan dengan tangannya yang satu.


Elsa kembali teringat ketika Agam marah sehingga meninju aspal malam itu di samping bangkai mobilnya Elsa Safira Nadine Renald. Ia segera menekan tombol agar perawat segera datang ke dalam ruangannya itu.


__ADS_2