Hikayat Cinta Elsa Agam

Hikayat Cinta Elsa Agam
Bab. 59


__ADS_3

"Jangan banyak ngeluh deh Abang, kan belum acara buka kadonya," kesalnya Elsa yang malah tersenyum.


Pernikahan adalah bentuk ibadah umat manusia yang paling terpanjang dari ibadah lainnya.


Agam memukul-mukul kasurnya yang tertutup seprei berwana pink itu dengan kesalnya. Padahal ia sudah berencana ingin ini itu jika, istrinya sudah siap untuk melewati malam pertama mereka, tapi apa mau dikata nasi sudah jadi bubur, terpaksa rencana itu tinggal menjadi angan-angan semata kosong yang harus ia pending dulu untuk beberapa hari kedepannya.


Elsa tersenyum simpul menanggapi sikap kekanak-kanakan suaminya itu yang merajuk, ngambek dan misruh-misruh yang tidak mungkin Elsa penuhi permintaan suaminya dalam keadaan seperti itu.


"Abang semua bekas gigitannya sudah adek olesi dengan cream, jadi saatnya sekarang buka kadonya sayang," ajaknya Elsa seraya mengulurkan tangannya ke arah tangannya Agam yang terpaksa tersenyum tipis karena kegagalan dari impiannya yang sudah sejak tadi ia impikan akan menjadi kenyataan, tapi berhubung sang istri lagi palang merah bin datang tamu bulanannya sehingga acara di jago ketemu sangkar emasnya gagal total.


Agam yang awalnya merajuk seperti anak kecil saja, dengan harus merelakan malam keduanya itu terlewatkan tanpa ada adegan kuda-kudaan terlebih dahulu. Elsa memeluk tubuh tinggi tegap dan jangkung milik suaminya itu. Tubuhnya Elsa cukup tinggi sehingga hanya berbeda sedikit ukuran tinggi mereka. Tinggi Elsa mencapai hingga ujung rambutnya di depan bibirnya Agam.


Elsa menarik tengkuk lehernya Agam agar sedikit menundukkan kepalanya, untuk memudahkannya Elsa mencium bibir suaminya itu. Awalnya ciii uuu Maan mereka sangat kaku karena, ini adalah pengalaman pertama dari kedua pasutri tersebut.


Sehingga baru beberapa sepersekian detik saja, nafas mereka ngos-ngosan hingga dengan berat hati keduanya harus mengakhirinya dengan secepatnya agar mereka tidak kehabisan nafas


Elsa dan Agam tidak terlalu kesulitan untuk melakukan kegiatan yang seperti sekarang ia lakukan. Mereka tersenyum bahagia, walaupun hanya sekedar lidah mereka saling membelit dan meee luuu maat dengan bertukar saliva, mereka sudah puas dan bahagia mengingat kondisi Elsa yang tidak memungkinkan terjadi hubungan yang lebih dari itu.

__ADS_1


"Akhirnya manten barunya turun juga nih," candanya Mbak Ani.


"Sepertinya Tuan Muda Agam belum berhasil bobol gawang atau seperti kate Juve Julia Perez almarhum belah durennya gagal maning bos, maklum sang istri tercinta lagi berhalangan," celetuknya Bu Anna yang tidak mau tinggal diam untuk menggoda pasangan pengantin baru itu.


"Sudah ahh candanya kasihan Agam sepertinya lapar belum makan jadi wajahnya muram durjana ditekuk seperti cucian belum disetrika saja," guraunya Ibu Ratih Ambar Purwanti.


Elsa tersenyum simpul menanggapi candaan dan gurauan dari mereka semua. Elsa mengambilkan piring kosong untuk suaminya itu.


Elsa menatap intens ke arah suaminya itu, "Abang mau makan apa, biarkan adek yang mengisi piringnya Abang," pintanya Elsa Safira Nadine Renald.


Elsa segera memilihkan makanan yang kemungkinan yang paling sering ia lihat Agam makan. Ada rendang daging sapi, sayur capcay kuah, bakso dan juga sate sudah berada di atas piringnya.


"Thanks sayang, oiy Abang lihat banyak makanan, kenapa enggak ngundang tetangga saja sekedar sitaruhmi gitu sayang berbagi kebahagiaan dengan orang lain itu baik sekali dilestarikan dan dibudayakan," imbuhnya Agam.


Elsa tersenyum," Alhamdulillah Bi Ani sudah bergerak cepat gercep begitu untuk memanggil Pak RT beserta anggota keluarganya dan juga tetangga kita semua sudah beres, kayaknya sebentar lagi mereka akan datang," ujarnya Elsa yang mengisi juga piringnya dengan beberapa jenis makanan seperti sate kambing,opor ayam, sayuran tidak lupa.


Mereka menikmati makanan mereka masing-masing, hingga pintu itu terbuka lebar dengan masuklah sekitar dua puluh orang lebih dengan berbagai jenis usia.

__ADS_1


"Assalamualaikum," sapanya Pak RT pak Lukman.


"Waalaikum salam," jawab mereka serentak dengan menyambut kedatangan mereka dengan senyuman.


Pak Lukman berjabat tangan dengan pak Renaldi Hutabarat Lubis, "Alhamdulillah makasih banyak yang sebesar-besarnya atas undangannya,saya selaku ketua RT mengucapkan banyak terima kasih telah memanggil kami seluruh warga masyarakat untuk menghadiri tasyakuran atas bertambahnya usia dari anak mantunya bapak Renaldi semoga menjadi semakin dewasa, bijaksana dan mampu menjadi pemimpin dalam keluarganya untuk membawa istri dan anak-anaknya kelak hingga jannahnya Allah SWT,"


"Amin ya rabbal," ucapnya mereka lagi.


"Syukur Alhamdulillah… terima kasih atas doa tulusnya pak Lukman saya selaku papanya sangat bersyukur atas doa yang tulus dari kalian semua dan juga kehadirannya di tengah-tengah keluarga kami untuk memperingati berkurangnya umur menantuku ini, semoga doa kalian diijabah oleh Allah SWT," pungkas Pak Renaldi.


"Kami juga turut prihatin dengan berduka cita atas musibah insiden yang menimpa istrinya Erga Andrean Alfiansyah putra sulungnya Bapak, semoga istrinya segera sembuh dan pulih total hingga kembali berkumpul dengan kita semua," tuturnya Bu Arifah Pasha.


"Amin ya rabbal alamin, makasih banyak atas dukungannya dan doanya juga, kami sangat bahagia karena kalian sudah berempati dengan kondisi dari Nada Khaerunnisha Azzahrah Lukman anak menantu kami," timpalnya Bu Ratih.


Tiga hari kemudian, Nada sudah bisa pulang ke rumahnya. Karena keesokan harinya mereka akan bertolak ke Ibu kota Jakarta. Rencana resepsi pernikahan mereka akhirnya ditunda hingga setelah idul Fitri saja, karena mengingat kondisi fisik dari Nada sendiri itupun hanya kedua orang tua Elsa Safira Nadine yang akan mengadakan pesta resepsi pernikahannya.


Sedang Bu Salamah ibunya Nada tidak ingin mengadakannya ulangan karena sudah berlangsung walaupun tanpa kehadiran kedua mempelai pengantin pria maupun wanita nya.

__ADS_1


__ADS_2