
Ergi Andrean Renaldi kembali duduk dengan santai dan anteng di sofa ruang tamunya itu, "Jadi aku mohon padamu jujurlah Mila, karena tidak ada seorang ibu pun yang sama sekali tidak mengetahui siapa pemilik janin yang berada dalam kandungannya kecuali kalau perempuan itu disentuh oleh seorang pria dalam keadaan sama sekali tidak sadarkan diri dan tidak melihat siapa pria yang melakukannya, tapi itu kemungkinan besar terjadi padamu ngomong-ngomong kalau enggak salah ingat kamu keluar dari hotel xx sekitar kurang lebih tiga bulan yang lalu, kenapa aku tahu dengan persis itu kau karena hotel yang kamu sewa itu tempat aku meeting dengan klien dari perusahaan tempat aku bekerja dan juga aku cukup penasaran waktu itu sehingga aku mengecek langsung apa penglihatanku waktu salah atau benar dan kalau tidak salah nama pria itu adalah…," ucapan yang terakhir dari Ergi sengaja ia gantung karena ingin melihat reaksinya Mila Agnesia apa dia sendiri yang akan jujur membuka semuanya atau akan terdiam terus dalam kebohongannya.
" Aku ingatkan kembali mungkin kamu lupa, setiap kali kita melakukannya aku selalu memakai pengaman kamu juga konsumsi alat kontrasepsi jadi itu tidak mungkin terjadi,Mila andai saja aku betul ayah dari bayi yang ada dalam kandunganmu pasti aku akan bertanggung jawab," Ergi tersenyum mencemooh ke arah Mila sang mantan.
Raut wajahnya Mila seketika itu langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Peluh keringat bercucuran membasahi pipinya itu, tubuhnya gemetaran tangannya ia genggam cukup kuat. Ergi mengeratkan giginya karena, perempuan yang pernah ia sayangi itu sekaligus perempuan yang memperkenalkan padanya hubungan di atas ranjang itu.
Ergi masih bersimpati pada kondisi yang terjadi pada Mila. Bagaimanapun juga ia masih punya hati nurani dan perasaan melihat seseorang mengalami masalah, tidak mungkin ia akan hanya diam dan berpangku tangan seperti itu.
Ergi menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi," Mila pria itu sudah kamu ketahui dengan jelas-jelas tentang statusnya sudah menikah dan sekaligus bandar terbesar saa buu, tapi masih bermain api dengannya," ungkap Ergi.
__ADS_1
Mila menggenggam kepalan tangannya dengan erat," sial! Kenapa Sampai-sampai ia tahu kenyataan itu, saya terlalu menganggap rendah dan bodoh kemampuannya, ini semua gara-gara Emil Salim yang tidak ingin bertanggung jawab atas kehamilanku andai saja ia bersedia pasti aku tidak akan merendahkan harga diriku harus diinjak-injak oleh mereka," batinnya Mila yang tidak berani menatap langsung ke dua bola matanya Ergi.
Mila yang masih dalam keadaan bersimpuh dan berlutut meminta belas kasihnya Ergi meneteskan air mata penyesalannya.
"Mila, dulu aku memang sempat sayang sama kamu, tapi seiring waktu berjalan aku perlahan tahu kebohonganmu. Tetapi aku masih berikan kamu kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan membiarkan dan mengijinkan kamu untuk memakai uangku untuk keperluan hidupmu tapi,apa yang aku dapatkan kamu masih saja membohongiku hingga aku tidak sanggup untuk berdiri di sampingmu lagi."
"Saya mengaku bersalah, tapi aku mohon jangan laporkan aku pada polisi tolonglah Elsa, aku tidak ingin hidup dibalik penjara," rengeknya Mila Agnesia sambil memeluk kedua kakinya Elsa.
Elsa kemudian bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah dapur karena, tenggorokannya tiba-tiba kering. Ia kemudian membuka lemari pendinginnya kemudian mengambil beberapa minuman kaleng dingin.
__ADS_1
Elsa menyimpan beberapa minuman diatas meja sofanya," mungkin minuman dingin ini mampu meredakan emosi kalian dan bisa berfikir jernih terutama untuk Mbak Mila," tatapan mata jengahnya tertuju pada Mila.
Air matanya luruh tak terbendung lagi, penyesalan sudah menghampiri hati jiwa dan raganya Mila. Perempuan yang cukup matre itu tergugu dalam tangisnya. Ergi dan Elsa turut prihatin melihat penderitaan dan keterpurukan yang dialami oleh Mila.
Mila mengepalkan kedua genggaman tangannya dibalik pakainnya," Hari ini aku yang berada di posisi ini, kalian boleh tersenyum tapi, aku tidak akan membiarkan kalian bahagia aku akan datang suatu saat nanti untuk menuntut pembalasan dendamku," Mila terusan menundukkan kepalanya karena tidak mungkin menatap keduanya dalam keadaan marah yang nantinya mereka akan mengetahui karakter dan sifat aslinya.
Ergi sama sekali tidak menggubris ratapan yang ditujukan untuknya oleh Mila.
"Saya tahu siapa kau Mila, jadi tidak perlu sok menyesali semua ini, karena aku yakin kamu mengumpat kami dalam hatimu," cibirnya Ergi yang tersenyum penuh arti.
__ADS_1