
Bummm…. Bumm… Bom...
Suara ledakan dari mobi yang diperkirakan masih terdapat di dalamnya Elsa Safira Nadine membuat Agam ketakutan, cemas, khawatir jika terjadi sesuatu pada Elsa.
Elsa menolehkan kepalanya ke arah Agam, betapa bahagianya melihat Agam yang datang menolongnya. Ia pun mencari alat yang bisa dipakainya untuk meloloskan diri sebelum mobil itu terbakar.
Tangannya meraih sebuah tabung gas yang biasa dipakai untuk memadamkan api bersamaan dengan api yang semakin membesar pula.
"Saya tidak boleh kalah dengan keadaan ini," lirihnya Elsa.
"Tidak!!" Teriaknya Agam yang segera memukul beberapa orang yang berdiri menghalangi jalannya sedari tadi.
"Kamu tidak perlu lari terbirit-birit seperti itu, gadis yang berada di mobil itu aku yakin dia sudah meninggal dunia," ketusnya pria itu.
Agam sama sekali tidak menghiraukan perkataan orang tersebut, dia hanya menatap dengan sinis sang pria.
"Setelah ini aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja, aku akan memberikan pelajaran yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidupmu, camkan itu baik-baik!" Ancamnya Agam yang menghentikan langkahnya sementara waktu untuk meladeni ucapan pria itu.
"Ha-ha-ha!" Tawa pria itu membahana di seantero tempat itu.
__ADS_1
Agam terus berlari ke arah mobil yang terbakar api itu,"ya Allah… lindungilah Elsa jangan biarkan terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan bisa hidup lagi jika Elsa sampai terjadi sesuatu padanya," gumam Agam.
Agam mencoba untuk menerobos ke dalam kobaran api itu, tapi segera dicegah oleh tangan seseorang yang cukup panjang untuk menariknya.
"Agam!! Stop berhenti! Apa kamu sudah gila!" Teriaknya Ando yang kebetulan melewati jalan tersebut dan mendengar suara gaduh dan keributan.
Agam menatap tajam Ando," aku tidak peduli dengan apinya Ando, bagaimana mungkin aku membiarkan kekasihku mati terbakar di depan mataku sendiri!" Bentaknya Agam sembari menunjuk ke arah matanya bergantian ke arah mobil.
"Saya tahu dan mengerti apa yang kamu rasakan,tapi hal yang harus kita tangani sekarang adalah mereka yang telah menyebabkan semua kekacauan dan musibah ini, karena aku yakin kekasihmu itu dalam keadaan baik-baik saja," bujuknya Ando.
Agam mendengarkan dengan baik saran serta masukannya Ando sahabat sekaligus rekan kerjanya di perusahaan.
Apa yang dilakukan oleh Agam pun diikuti oleh Ando. Mereka berduel dengan beberapa anak buah penjahat itu. Pukulan dan tendangan keras mereka layangkan untuk sama-sama menumbangkan musuh mereka.
Hanya sepersekian detik mereka bertempur,bala bantuan dari anak buahnya Agam pun sudah datang bersamaan dengan Ariel Satrya Muller sang calon adik iparnya itu.
"Abang Agam,apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya Aldian yang kebetulan juga mengetahui insiden penyerangan tersebut.
"Tidak usah banyak tanya, cepat tangkap mereka dalam keadaan hidup-hidup jangan biarkan ada seorang pun yang lolos dari sini, karena aku ingin memberikan kepada mereka gimana rasanya kematian enggan menjemputnya!" Gertak Agam lagi dengan menarik pelatuk pistolnya yang baru saja diberikan oleh anak buahnya.
__ADS_1
Jumlah anak buahnya Agam lebih banyak, sehingga anak buah penjahat itu terdesak hingga mau tidak mau harus menyerahkan diri mereka semua dalam keadaan yang tidak baik saja. Mereka sudah dalam kondisi yang mengenaskan, dengan berbagai luka ditubuh mereka masing-masing.
"Roy! Bawa mereka ke markas bawah tanah dan siksa mereka hingga mereka mau mengakui siapa orang dibalik penyerangan ini!" Teriaknya Agam sembari melempar salah satu dari penjahat itu seperti melempar benda bantal saja.
"Baik Bos, perintah siap kami laksanakan sesuai dengan petunjuk Bos," balasnya Roy.
Agam segera berlari ke arah mobil itu, ia tersungkur di depan bangkai mobil yang masih mengeluarkan asap dan sisa api yang sudah melahap mobil itu dengan cepat.
Agam tersungkur di depan mobilnya Elsa hingga berlutut dalam keadaan yang hancur lebur melihat kekasihnya sekaligus calon istrinya harus menjadi korban ledakan mobil tersebut.
"Tidak!!! Elsa Safira Nadine jangan tinggalkan aku! Aku tidak akan bisa bernafas dengan baik tanpa dirimu, gadis manggaku kembalilah padaku, Abang tidak mungkin bisa menerima dan merelakan kepergiaanmu yang begitu cepat, ini semua salahku!" Ratapnya Agam yang tergugu dalam tangisnya itu.
Carlando Arland Roland dan Aldian Faiz Kim segera mengamankan tempat kejadian berserta anak buahnya yang lain, agar tidak mengundang kepanikan dari beberapa masyarakat yang akan melewati jalan itu dan juga pihak kepolisian tidak mengetahui hal tersebut,jika tidak masalahnya akan lebih rumit dan berbuntut panjang.
Mereka menginginkan masalah kejadian itu segera teratasi tanpa ada keributan selanjutnya yang diciptakan dari ulah penjahat itu.
"Aldian dan Roy bawa mereka pergi sekarang juga, tapi Ingat jangan biarkan mereka lolos apalagi mencoba untuk bunuh diri dan menghilangkan bukti apapun itu," perintah Ando.
"Baik, kalau gitu kami pamit,"
__ADS_1
Rombongan mereka sudah pergi meninggalkan lokasi area kejadian tersebut. Ando berjalan mendekati Agam yang sudah terpuruk dalam kubangan penyesalan. Hingga tatapan matanya Ando mengarah ke kedatangan sosok seseorang dengan memberikan kode kepada Ando untuk diam dan mengikuti alur yang dia buat.