Hikayat Cinta Elsa Agam

Hikayat Cinta Elsa Agam
Bab. 42


__ADS_3

"Dini,apa kamu tidak keberatan tinggal bersama Mbak Elsa anaknya teman mama kau?" Tanyanya Aldian yang sudah menghubungi nomor hpnya kakaknya Elsa Ergi Andrean Renald.


"Saya tidak masalah Pak dimanapun yang penting aman dan yang punya rumah menerimaku dengan tangan terbuka itu sudah cukup," ujarnya Dini yang ketika memasang seatbelt ketubuhnya.


Mobil mewahnya Aldian sudah terparkir di depan garasi mobil rumahnya Elsa. Bu Ratih Purwatih yang mendengar suara mesin mobil yang berhenti dan juga klakson segera keluar dari dalam rumahnya. Bu Ratih baru beberapa menit yang lalu pulang dari rumah sakit atas permintaan putrinya sendiri, karena ada Agam dan adiknya Amarah Meylani Ramadhani dan juga Arinda Farhana Albert.


"Selamat datang Nak, dirumahnya ibu yang sejak kecil kamu sudah sering ke sini kan," tutur Bu Ratih.


"Makasih banyak atas sambutannya Tante, iya masih ingat dengan jelas hanya saja rumahnya Tante semakin besar dan mewah," pujinya Dini Kayla Susanti Wahab sambil meraih tangannya Bu Ratih uuntuk ia cium punggung tangannya itu.


"Kamu bisa saja mujinya, kalau rumah kamu gimana, apa papamu masih tinggal di rumahmu jalan xx?" Tanyanya Bu Ratih sekadar berbasa-basi saja.


Dini langsung menghentikan langkahnya yang berjalan berbarengan dengan Bu Ratih, raut wajahnya langsung berubah jadi sendu dan ada setitik embun di pelupuk matanya yang siap jatuh luruh membasahi pipinya itu.


Bu Ratih melihat ke arah Dini yang langsung terdiam sejenak hingga ia sesegukan tersedu-sedu dalam tangisnya.


Bu Raih memeluk tubuhnya Dini, sedangkan Dini semakin mengeraskan suara tangisannya. Aldian Adlan Kim terkejut melihat reaksinya Dini yang diluar dugaannya.


"Din, apa yang terjadi padamu Nak?" Tanyanya Bu Ratih.


"A-ku a-nu rumah kami sudah dijual oleh istri kedua ayah Tante dan ayahsama sekali tidak mengetahui hal itu dan juga adikku sama nenek disuruh tinggal di tempat lain tidak bersama dengan ayah dan istrinya sehingga kami bertiga banting tulang menghidupi hidup kami sendiri sedang nenek sedang sakit Tan," ungkap Dini.

__ADS_1


"Ya Allah… tega banget ibu sambung kamu Nak, semoga dia segera dapat hidayah sehingga pintu hatinya terbuka lebar untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai orang tua," pungkas Bu Ratih.


"Amin ya rabbal alamin," jawab mereka serentak.


"Mbak Aisyah, tolong anterin Nona Dini ke atas kamarnya!" perintahnya Bu Ratih.


Bibi Aisyah segera berjalan tergesa-gesa ke arah depan," baik Nyonya, Non Dini silahkan naik ke atas tangga itu Non," tuturnya Bibi Aisyah.


"Bibi Sumi tolong siapkan makanan untuk Dini kalau sudah siap panggil Non Dini yah," pintanya Nyonya Besar Ratih.


"Makasih banyak Tante,"


"Sama-sama cantik, Ingat jangan sedih lagi," tukasnya Bu Ratih.


"Hati-hati dijalan jangan ngebut oke,"


"Makasih banyak Tante, assalamualaikum," tutur Al.


"Waalaikum salam," seraya tersenyum penuh arti melihat kepergian Aldian.


"Anak muda jaman sekarang cara mencintainya seperti itu rupanya," gumam Bu Ratih.

__ADS_1


Keduanya diliburkan dari perusahaan dunia perkantoran karena, permintaan dari Papa dan mamanya Bu Liviana Alexander Mutahar dan juga suaminya Pak Alexander Mutahar.


Elsa diam-diam memperhatikan secara bergantian dan seksama Amarah dan Andira, tapi dia tidak berani untuk mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya itu. Mengingat ada Agam di dalam ruangan perawatan tersebut.


"Kenapa aku perhatikan Arinda seperti wajahnya sangat pucat sedangkan Amarah dibawah kelopak matanya menghitam membentuk mata panda sepertinya pernikahan yang akan mereka laksanakan sangat membebani mereka dan tidak raut kebahagiaan dari keduanya seperti yang aku alami saat ini, apa ini semua hanya karena pikiranku semata saja," batinnya Elsa.


Amarah duduk sambil bermain hp sedangkan Andira sibuk membaca beberapa majalah male yang kebetulan berada di depannya. Elsa berencana untuk mengerjai mereka semua.


"Aahh!" Jeritnya Elsa lalu memicingkan matanya melihat ke arah keduanya yang langsung reflek berjalan bersamaan ke arah tempatnya Elsa.


"Mbak Elsa apa yang terjadi?" Tanyanya barengan keduanya itu.


Amarah dan Arinda tidak menyangka jika reaksi mereka secara bersamaan. Mereka bertatapan satu sama lainnya lalu Amarah mengalihkan perhatiannya ke tempat lain.


"Kamu saja yang bantuin Mbak Elsa," ketusnya Amarah yang mundur dari hadapan keduanya itu dengan wajahnya yang ditekuk.


Andira hanya menghembuskan nafasnya dengan cukup keras," ya Allah… apa yang terjadi padanya, sejak saya dilamar oleh Ando dia jadi seperti itu, apa yang terjadi sebenarnya kenapa seolah adik sepupuku menjauhiku," cicitnya Andira yang kebetulan Elsa mendengar suara cicitannya Andira adik sepupunya calon suaminya itu.


Elsa segera memegang kedua tangannya Andira," sabarlah pasti ada maksudnya Ia bersikap seperti itu padamu,tapi yakin dan percaya saja seiring berjalannya insha Allah… dia akan kembali normal dan seperti sedia kala dengan sendirinya kok," nasehatnya.


"Thanks Mbak atas masukannya," Andira berusaha untuk tersenyum walaupun hatinya sedang gundah gulana dan banyak pikiran tapi,ia memaksakan senyumannya itu.

__ADS_1


"Semua ini pasti karena penyebabnya adalah karena Carlando Arland Rolando, cinta segitiga atau segiempat kah yang sedang terjalin atau bisa jadi cinta segi banyak, kenapa Amarah tidak bisa berdamai saja dengan masa lalunya lagian pak Ando sama sekali tidak pernah membalas cintanya Amara kok Ariel Satrya Muller juga ganteng kalau disejajarkan dengan wajahnya Ando, Aldian dan Ariel mereka sulit untuk dipilih tapi, ketiganya belum ada yang mengalahkan ketampanan calon suamiku Abdillah Abqari Agam Mutahar, sungguh cinta itu penderitaannya tiada berakhir," batinnya Elsa Safira Nadine.


Sedangkan Agam sebenarnya tidak tidur tapi, diam-diam mendengarkan percakapan dari calon istrinya dengan kedua adiknya.


__ADS_2