
"Apa yang dilakukannya, apa dia sudah gila!" Umpatnya Arinda Farhana Albert anak dari kakak tertuanya Bu Livia yang tinggal d Australia Sidney.
Tapi, suara intrupsi seseorang mampu mengalihkan perhatiannya dan menghentikan langkahnya.
Carlando Orlando Roland membuka suaranya dan mengikuti jejak yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Ando berlutut di hadapan Pak Alexander Mutahar dan istrinya Bu Livina.
"Tuan dan Nyonya ijinkan saya untuk menikahi keponakan Tuan yang bernama Andira Farhana Albert,"
"Maksudnya Arinda adik sepupunya Agam?" Tanyanya Bu Liviana sambil menatap ke arah Arinda yang berdiri di atas tangga yang ty terdiam.
Carlando Arland Roland menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari mulutnya Bu Livia mama dari sahabatnya itu.
"Maaf kami tidak punya wewenang untuk menjawab permintaan atas lamaran yang kamu berikan untuk anak keponakan kami, kami juga harus bertanya pada Andira perempuan yang kamu minta nikahi, Andira sini sayang," panggil Bu Livia yang sedikit berteriak.
Semua orang yang hadir di sana terdiam menantikan kejutan apa lagi yang akan terjadi setelah hal itu. Andira mau tidak mau harus berjalan ke arah sana, walaupun ia enggan untuk melakukannya.
"Andira sini duduk di sampingnya Uncle Nak," pintanya Pak Alexander Mutahar.
Andira pun ikut duduk di samping tantenya adik dari Maminya itu.
"Katakan sekali lagi apa yang kamu katakan tadi Nak Ando, karena perempuan yang berniat kamu lamar sudah berada di depanmu," ujarnya Bu Livia.
__ADS_1
"Berdirilah Nak," pintanya Pak Mutahar.
Ando pun berdiri dari posisi berlututnya dengan tatapan matanya tertuju pada gadis yang berwajah dingin tanpa senyuman itu.
Ariel tersenyum bahagia penuh kemenangan melihat pria yang disukai oleh calon istrinya itu dengan penuh senyuman," Alhamdulillah pria yang disukai oleh Amarah akan menikah, makasih banyak ya Allah… semoga semuanya berjalan lancar," Ariel membatin.
"Anak muda sekarang rada-rada kreatif yah jika ingin meminang perempuan yang di cintainya itu menggunakan cara yang terbilang cukup berani dan bagus," celetuk Pak Muller calon mertuanya Amarah.
"Betul apa yang kamu katakan Pak, aku takjub dengan anak jaman sekarang," timpalnya Pak Mutahar.
"Jadi Andira bagaimana dengan keinginan Ando yang ingin menikahimu karena, Papi dan Mami kamu itu pasti akan mengikuti apa yang kamu pilih Nak, tapi Aunty berharap kamu bisa menerima niat baiknya Ando,"
Andira menatap ke arah Ando hingga tatapan mata mereka saling bertemu, Andira segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Ando tadi siang tanpa sengaja melihat Arinda keluar dari apotek dan menenteng sebuah kantong kresek. Ando pun mengikuti langkah kakinya Andira hingga ke depan pintu toilet yang dia datangi.
Andira tidak mungkin melakukan tes tersebut di dalam rumah kedua keluarganya, karena pasti kemungkinannya akan mudah ketahuan, sehingga Andira memutuskan untuk mengecek urine nya untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Apakah positif hamil sesuai dengan tanda-tanda yang diperlihatkan oleh tubuhnya ataukah hasilnya negatif sesuai dengan harapannya.
Suara tangisannya dari dalam toilet umum itu membuatnya terenyuh melihat kondisinya Andira. Ando sama sekali tidak ingin melakukan hal itu, tapi karena Andira dalam pengaruh obat pee raaang san yang menyebabkan Andira kehilangan kendali dan kontrol atas dirinya sendiri.
Dari itulah Ando berinsiatif untuk segera menikahi Andira gimanapun caranya, walopun Amarah sepupunya sendiri tadi pagi mengatakan cinta padanya.
__ADS_1
"Ya Allah… apa yang harus aku lakukan, apa aku tolak saja tapi,kalau aku tolak gimana jika semakin banyak yang tahu jika aku sudah hamil, jika aku terima kami tidak saling mencintai akan jadi apa kehidupan rumah tangga kami nantinya," Andira membatin.
Bu Liviana menyentuh punggung tangannya Andira dengan senyuman tulusnya itu.
"Bagaimana Nak, apa yang kamu pilih lakukan dan pilihlah yang terbaik Nak untuk kehidupanmu,kami serahkan semua pilihan padamu sendiri karena, ini adalah tentang kehidupan kamu untuk selamanya jadi pilihlah yang terbaik apa yang menurut kamu baik karena kami akan mendukung semua pilihanmu," terang Bu Liviana.
Andira perlahan menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan cukup panjang.
"Insya Allah… saya setuju Authy menikahi Ando," jelasnya Andira.
"Alhamdulillah, jadi sudah dipastikan bulan depan akan ada pernikahan di rumah kami ini, jadi mari kita sambut pernikahan mereka dengan suka cita," ucap Bu Nana Mardiana mamanya Ariel.
Setelah berdiskusi dengan rencana pernikahan ketiganya. Mereka makan malam bersama sembari berbincang-bincang santai. Amarah berpamitan kepada kedua orang tuanya karena sudah cukup lelah, sedangkan Elsa pun sudah berpamitan kepada calon mertuanya dan juga Agam pria yang esok hari akan berkunjung ke rumahnya di daerah Kalimantan untuk meminangnya.
Amarah menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya, ia berteriak histeris di bawah bantalnya.
"Ya Allah… kenapa akhir kisah cintaku seperti ini, ternyata pria yang aku sukai dan cintai sejak dulu menyukai saudaraku sendiri, kenapa selalu seperti ini, apa salahku ya Tuhan apa aku tidak layak untuk mencintai dan hidup dengan pria yang aku sukai," teriaknya Amarah di dalam kamarnya.
Andira duduk termenung di atas ayun di tengah taman itu. Ia menatap ke arah langit yang malam itu sangat indah karena dihiasi dengan banyaknya taburan bintang yang kerlap kerlip serta sinar rembulan semakin memperindah malam itu.
Air matanya menetes membasahi pipinya itu, sesekali ia menyekanya," aku jadi perempuan bodoh tak mampu menjaga kehormatanku sendiri dengan baik hingga aku harus mengandung anak dari pria yang sama sekali tidak mencintaiku dan aku juga tidak mengenalnya," ratapnya Andira seraya mengelus perutnya yang masih datar itu karena baru berusia satu bulan.
__ADS_1
"Rudi, persiapkan cepat mobil untukku karena aku akan diam-diam mengikuti Elsa hingga pulang ke rumahnya dengan selamat," perintahnya Agam pada anak buahnya itu.
Diam-diam Agam mengikuti calon istrinya itu karena sedari tadi, Elsa melarangnya tapi karena Agam merasakan khawatir yang berlebih-lebihan sehingga dengan terpaksa ia harus menguntit dan membuntuti kekasihnya itu.